Sabtu, 14 Januari 2012

Lopis Istimewa dari Sang Penerus Bangsa

Rasanya tidak berlebihan jika kata-kata penerus Bangsa itu aku sematkan pada sejumlah anak-anak SD yang ada di sekitar bantaran kali Ciliwung, Rawajati Jakarta Selatan. Anak-anak yang berjumlah tidak lebih dari 10 orang itu, dan kadang bertambah juga berkurang, terus bersemangat mengikuti pelajaran bahasa Inggris yang aku sampaikan. Siang ini, kala hujan kembali membasahi bumi Jakarta, aku pun melangkahkan kaki menyusuri jalan untuk kembali bertemu dengan wajah-wajah polos nan semangat itu. Tepat pukul 14.00 WIB, aku sampai di sebuah musholla nan sederhana, tempat kami berbagi ilmu, belajar, bercanda hingga bercerita tentang hobi dan keluarga masing-masing.

Seperti hari-hari lainnya, mereka sangat antusias menyambutku ketika aku datang. Sejurus kemudian, mereka langsung menyalamiku dan menanyakan ke mana saja aku seminggu ini. Ya, sabtu dan minggu lalu aku memang tidak menyambangi mereka karena pergi ke kota Solo, kota yang terkenal dengan lagu ‘Bengawan Solo’-nya dari sang maestro, Gesang.
Meski suasana nampak seperti hari biasanya, namun ada yang berbeda siang itu. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ada kejutan spesial untuk Miss Ana, begitulah mereka biasa memanggilku. Saat aku masuk, salah satu dari mereka menyodorkanku satu kotak lopis untuk dibawa pulang. ‘Miss, ini ada kue dari aku buat Miss Ana, di makan yaaa’, ujar salah satu anak muridku yang masih duduk di kelas satu SD. Raut wajahnya yang polos dan semangat nya untuk terus ikut belajar, membuatku bangga sekaligus gemas melihat tingkahnya yang lucu. Meski ia belum paham apa arti kosa kata yang diteriakkan oleh kakak-kakak- nya di kelas empat, lima bahkan enam SD, ternyata tidak menyurutkan langkah kaki nya untuk datang ke musholla. Aku pun mengucap kata terimakasih padanya dan seluruh anak-anak yang hadir kala itu. Rasa haru dan senang bercampur jadi satu karena menerima bungkusan kue lopis itu. Mungkin harga kue lopis itu tidak seberapa. Sang anak pun mengaku bahwa keluarga nya membeli kue lopis itu di sebuah pasar tradisional. Namun bagiku, kue lopis itu mempunyai rasa yang lebih enak dan istimewa daripada aneka macam roti terkenal yang ada di toko-toko kue modern. Bukan karena gratis lho ya, hehe. Melainkan karena kue itu adalah kue pemberian muridku yang selalu semangat dalam belajar dan menulis kosa kata bahasa Inggris yang ku tulis.

Ya Rabb, mudah- mudahan kelak anak-anak nan cerdas, semangat serta baik hati ini, kelak bisa menjadi penerus bangsa nan handal. Aku pun teringat pada salah satu pertemuanku dengan mereka di awal bulan Januari. Saat itu, mereka menceritakan padaku akan cita-cita dan keinginan mereka setelah dewasa nanti. Beberapa diantaranya sangat menginginkan menjadi dokter, guru, petani yang kaya hingga artis ibukota. Waaah, seraya tersenyum bangga mendengarkan paparan mereka, aku pun berdoa dalam hati, mengharap Allah selalu melindungi dan menuntun mereka agar tetap berada dalam kebaikan. Semoga kelak cita-cita mereka tercapai. Amin.
Tidak cukup sampai di situ, antusiasme mereka berlanjut hingga pelajaran di mulai. Setelah aku mengajukan beberapa pertanyaan guna mengulang pelajaran lalu, mereka pun memintaku untuk menuliskan beberapa pertanyaan di atas papan tulis. Rasa banggaku hadir ketika banyak diantara mereka yang dapat menjawab pertanyaan yang kuajukan. Subhanallah... lengkap sudah kebahagiaanku diakhir pekan ini. Pancaran semangat plus satu bungkus kue lopis lengkap dengan gula jawa nya, menjadi teman setiaku selama dalam perjalanan pulang di senja hari ini. Terimakasih Ya Rabb, atas ragam anugerah terindah yang Engkau tiupkan di tiap detik kehidupan yang kujalani.

Jakarta, 14 Januari 2012

Jumat, 13 Januari 2012

Car Free Day Ala Kota Solo

Ternyata tidak cuma kota Jakarta yang menerapkan car free day alias hari bebas mobil, kota Solo pun menerapkan aturan tersebut tiap hari minggu. Namun, suasana car free day di Solo jelas beda dengan Jakarta. Itulah yang kurasakan di minggu pagi ini.
Aku dan sahabatku memutuskan untuk berangkat pukul 06.30 WIB dari tempat kost di daerah Pabelan menuju Jalan Slamet Riyadi. Setelah melewati kawasan yang lebih dikenal dengan sebutan kampung batik laweyan di sekitar jalan Rajiman, kami pun sampai di kawasan car free day yang dimaksud. Temanku menjelaskan bahwa kampung batik laweyan adalah salah satu tempat ngebatik bagi insan yang ingin mengetahui pembuatan sebuah batik.

Begitu temanku selesai memarkirkan motor, aku langsung menghampiri salah satu petugas dari Dinas Perhubungan yang tengah berjaga pagi itu dan menanyakan awal mula pemberlakukan car free day di Kota Solo. Berdasarkan informasi yang berhasil aku dapatkan, car free day ini diberlakukan dari pukul 05.00-09.00 WIB. Tujuannya sama dengan Pemda DKI Jakarta, yaitu mengurangi tingkat polusi asap kendaraan. Jarak tempuh car free day di kota Solo ini kurang lebih sepanjang tujuh km, mulai dari Gladak hingga Juanda. Pemberlakukannya pun sudah berlangsung selama kurang lebih satu tahun sejak dibawah pemerintahan Joko Widodo. Tanpa membuang waktu, aku dan temanku mulai menyusuri jalan-jalan yang diplot sebagai daerah bebas mobil dan motor. Seru sekali rasanya menikmati hari bebas kendaraan bermotor di kota ini. Ada beberapa hal yang tentunya membedakan suasana car free day di sini dengan di Jakarta. Terlihat beragam jajanan makanan yang dijual sepanjang jalan bebas kendaraan ini. Bukan hanya menjajakan, bahkan suasana makan sambil duduk lesehan pun tersedia di sepanjang jalan ini. Waw, di sinilah sensasi unik dan seru dari minggu pagi di sebuah kawasan car free day kota nan damai ini.

Selang beberapa menit, kami sampai di kerumunan massa. Ternyata massa yang ada tengah mengagumi dan memperhatikan tiap desain dan interior juga mesin yang ada pada mobil ‘Kiat Esemka’. Ya, mobil buatan para murid SMK kota Solo ini memang membuat decak kagum masyarakat Indonesia. Aku pun tidak membuang kesempatan yang ada untuk bisa menjelajahi kehebatan mobil ini. Sekilas, mobil yang berwarna hitam mengkilap dan diparkir di depan rumah dinas Joko Widodo/ Jokowi ini mirip seperti mobil CRV dengan mobil terbarunya. Namun, mobil ini terkesan lebih panjang pada body nya. Selain bodi, mobil ini berdaya tampung delapan orang dewasa dengan interior nya yang lapang. Di sisi kiri-nya, ada tulisan Kita Esemka berwarna putih. Total ada empat mobil Kiat Esemka yang ‘dipajang’ pagi hari itu. Tanpa membuang waktu, aku dan temanku berpose di depan mobil yang patut kami acungi jempol ini. Beberapa murid dari SMK Solo tersebut terlihat bertugas di lapangan untuk menjelaskan komponen-komponen yang dipakai oleh mobil nan gagah itu.

Selain ‘pajangan’ mobil Kiat Esemka, aku juga melewati Taman Sriwedari. Meski tidak memasukinya, namun pemandangan gerbang depan taman tersebut sangat indah, dengan keberadaan senjata meriam tempo doeloe. Beragam makanan pun di jajakan, seperti bakso bakar, nasi pecel, leker Solo, bolu batik (yaitu bolu yang hiasan ukirannya khas bercorak batik), es sari kacang hijau dan masih banyak lagi yang tentunya sangat menggoda untuk segera disantap. Bahkan terlihat salah satu merk kosmetik dan asuransi yang turut memajang produk mereka dan menawarkan brosur nya kepada pejalan kaki. Tidak hanya itu, akhirnya aku dan temanku menemukan salah satu barang unik yang dapat disewa, yaitu becak mini. Kami pun memutuskan untuk menyewa becak yang dibandrol dengan harga Rp.5.000,- untuk waktu 10 menit. Salah satu dari kami ada yang mengayuh dan ada juga yang dibonceng. Jadilah kami berdua seperti tukang becak dan pelanggannya, hehe. Becak mini itu unik karena mempunyai warna yang sangat mentereng dan bentuknya memang mini. Selain kami, terlihat juga satu keluarga kecil yang menyewa becak itu untuk berkeliling di kawasan car free day ini.

Keunikan lain dari car free day yang ada di kota Jakarta adalah, keberadaan para komunitas, baik mahasiswa maupun penari modern yang ingin menunjukkan eksistensi diri mereka. Salah duanya adalah mahasiswa/i jurusan sosiologi UNS yang tengah bermusik dan komunitas Urban Step Dance Studio yang menujukkan keahlian mereka dalam tarian urban/modern. Ada juga pentas seni yang diisi dengan nyanyian-nyanyian semangat harapan bahwa tahun 2012 adalah tahun tanpa korupsi dan kekerasan. Tidak hanya jualan makanan dan seni musik yang ditampilkan di minggu pagi ini, namun ternyata car free day di kota Solo juga merupakan ajang berkumpul

bagi para pencinta binatang, khususnya anjing. Terdapat beragam jenis anjing yang dibawa oleh para pemiliknya, mulai dari anjing kecil yang lucu hingga anjing pengawas yang biasa di pakai pihak Kepolisian untuk bertugas mencari sebuah jejak buron atau lainnya. Jam pun menunjukkan pukul 08.30 WIB, pertanda 30 menit lagi car free day akan berakhir. Berhubung perut sudah berbunyi tanda lapar, akhirnya kami pun memutuskan untuk menyantap soto ayam ala lesehan. Sambil sarapan pagi, tanpa di duga-duga, rombongan drumband yang diisi oleh anak-anak sekolah, mulai SD hingga SMP memenuhi sebagian jalan dengan memainkan masing-masing alat yang mereka pegang.

Alhamdulillah, minggu pagi ini begitu berwarna. Setelah malamnya kota Solo diguyur hujan, pagi ini cuaca terlihat cukup bersahabat. Setelah soto ayam yang menjadi menu sarapan pagi kami ludes, leker Solo yang cukup dibandrol dengan harga Rp.1000,- menarik hatiku untuk membelinya. Bukan karena aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sebuah leker, namun cara masak dan alat yang digunakanlah yang menarikku untuk membelinya. Coba tebak, bagaimana sang penjual membuat leker yang terdiri dari berbagai rasa itu? Ternyata, cukup dengan teflon sederhana, yang biasa kita gunakan untuk memasak telor ceplok. Penjual leker itu menggunakan teflon tersebut dengan cara membalikkannya, untuk kemudian dilumuri oleh adonan tepung khas leker. Wow, sungguh kreatif. Alat sederhana yang harganya tidak mahal, dapat digunakan untuk membuat leker nan lezat juga murah. Aku pun berfikir, jika harga seribu rupiah dipandang sebagai harga yang murah, maka kebanyakan orang pasti akan berfikir untuk langsung membeli leker dengan total lima ribu rupiah atau bahkan lebih. Nah, jika di kali dua puluh orang saja, sudah berapa uang yang bisa dihasilkan? Belum lagi jika kita menghitung berapa banyak orang yang datang untuk membeli leker Solo itu dari pukul 05.-00-09.00 WIB? Subhanallah, menarik juga ya berbisnis, hehe.
Tanpa terasa, waktu sudah menujukkan pukul 09.00 WIB, tanda pemberlakukan car free day akan berakhir. Para warga pun berangsur-angsur berjalan menuju parkiran kendaraan mereka, tanda bersiap pulang. Minggu pagi ini terasa sangaaat indah, seindah hatiku merasakan kedamaian dan kehangatan kota Solo.

08 Januari 2012


Kamis, 12 Januari 2012

Solo, Riwayatmu Kini

Mungkin jika almarhum Gesang, sang pencipta lagu ‘Bengawan Solo’ masih hidup, ia akan bangga plus sedih melihat kota Solo. Di satu sisi, banyak perubahan dan kebijakan yang pro rakyat di bawah pemerintahan Joko Widodo. Di sisi lain, wajah museum Keraton Solo nampak tak terawat dengan atap yang terbuka dan mengaga di sana sini. Setidaknya, itulah hasil pengamatanku selama tiga hari berada di kota nan teduh ini.
Hari ini, 07/01/2012, hari pertama aku tiba di kota Solo. Setelah bermusyawarah dengan sahabatku yang sedang menempuh studi magister di UMS, kami pun memutuskan untuk mendatangi Keraton Solo terlebih dulu, dibanding tempat menarik lainnya.
Jam telah menunjukkan pukul 14.30 ketika kami tiba di Keraton Solo. Ternyata setelah kami melihat jadwal kunjung museum, sisa waktu yang tersedia tinggal 30 menit lagi, karena museum Keraton tutup pukul 15.00 WIB. Meski waktu yang ada sangatlah sempit, namun tidak menuyurutkan hati kami untuk masuk. Temanku pun berujar, ‘sayang lho ndak masuk, udah jauh-jauh kan dari Jakarta’, hehe ada benarnya juga temanku ini. Sejurus kemudian, kami langsung membeli tiket dan masuk ke lingkungan museum Keraton.

Ini adalah pengalaman pertamaku memasuki museum Keraton Solo. Rasa penasaran dan senang jadi satu kala itu. Harga tiket dipatok Rp.10.000,- bagi orang dewasa dan ada juga tambahan biaya jika kita membawa kamera digital atau lainnya seharga Rp.3.500,- yang sebetulnya tidak akan ketahuan apakah kita membawa kamera atau tidak. Karena kami warga negara yang baik, jadilah kami membayar biaya lebih untuk memotret. Kami menyusuri ruang demi ruang di museum Keraton ini setelah menyantap lotek sebagai menu makan siang yang hanya dibandrol Rp.5.000,- untuk lotek komplit. Suasana sekitar Keraton Solo ini sangat mirip dengan suasana Keraton Yogya yang kala itu aku datangi. Ada juga sebuah pohon di lapangan depannya nan luas, mirip pohon yang ada di alun-alun Kidul alias Alkid di Yogya. Ketika masuk, sesaat aku perhatikan interior ruangan museum Keraton Solo ini yang nampak kurang terawat. Atap museum nampak mengelupas di sana-sini, seperti bekas rembesan hujan. Selain itu, tidak nampak tulisan keterangan lengkap di tiap display barang-barang yang dipamerkan. Ruangan pertama yang kami susuri dikawal oleh dua patung pasukan Belanda di depan pintunya. Barang-barang yang dipamerkan diruangan pertama ini adalah tempat masak nasi ukuran jumbo, alat-alat memasak lainnya seperti dandang, ulekan dan ada juga tempat rokok ukuran besar. Aku tidak dapat menghafal dan menemukan nama yang tepat untuk barang-barang ini karena minim keterangan di luar etalasenya. Ruangan berikutnya diisin dengan peninggalan-peninggalan Keraton tempo doeloe seperti alat pengakut barang dan manusia, yang digunakan juga untuk penganten Keraton. Bentuk-bentuknya sangat manis dan unik. Ada juga patung dalang wayang yang tengah memperagakan permainan wayangnya dan juga sepasang patung suami isteri yang tengah melakukan resepsi pernikahan ala Keraton, lengkap dengan foto-foto tempo doeloe.

Di ruang tengah museum, ada patung kuda yang agak menyeramkan. Temanku pun tidak berani lama-lama berada di ruangan itu. Ia menarikku dan aku pun tersenyum atas tingkahnya. Memang beberapa display patung yang ada, terkesan hidup, seperti patung perlawanan rakyat Indonesia melawan koloni Belanda yang lagi-lagi tidak ada keterangan sejarah nya sama sekali. Sungguh sangat miris. Memang ada guide yang disediakan oleh pihak museum. Tapi haruskah tiap pengunjung yang datang menggunakan jasa guide? Bagaimana jika siswa atau mahasiswa yang hanya mempunyai uang pas-pasan?
Kami pun menyusuri ruangan lain. Ada dinding ukiran yang panjang di ruang tengah museum ini, menggambarkan perjuangan para leluhur dalam melawan masa penjajahan Belanda dan lagi-lagi kami tidak disajikan keterangan ukiran dinding ini. Ada juga sebuah payung adat ala Keraton yang kerap digunakan untuk memayungi sang Sultan atau keluarganya. Bentuknya yang sangat lusuh dan robek di sana sini, membuatku berfikir bahwa payung itu sudah ada sejak tahun 1700-an, begitupun dengan bambu-bambu runcing yang ada.

Ruangan berikutnya diisi oleh dua buah kereta kuda yang nampaknya juga di pakai oleh Sultan dan keluarganya, serta noni-noni Belanda. Nampak di depan kereta kuda itu sebuah tulisan ‘ Kyai Morosebo 1770’. Desain nya yang elegan, membuatku membayangkan bahwa kala itu, pastilah kereta kuda ini sangat indah dan membanggakan. Kini, kereta tersebut nampak lusuh, tapi juga tidak menghilangkan kesan elegannya. Beralih ke ruangan lain, ada juga koleksi ragam barang pecah, mulai dari bentuk vas bunga hingga barang lainnya yang mempunyai motif nan unik, khas paduan motif China dan lokal. Ada juga sebuah dayung raksasa yang tidak bisa aku bayangkan, bagaimana ukuran perahu nya ya? Terdapat dua ruangan dalam museum ini yang tidak bisa dimasuki oleh publik. Entah karena sedang tahap renovasi atau karena alasan lainnya. Akhirnya kami memasuki ruangan berikutnya, yang diisi dengan patung-patung stupa dan peninggalan bersejarah lainnya. Ruangan terakhir diisi dengan foto-foto para Sultan Keraton Surakarta dari periode awal memimpin hingga kini. Ada juga koleksi kursi khas Bali yang mempunyai desain menawan dengan balutan kain merah fanta bercorak krem. Perjalanan mengelilingi ruangan museum pun berakhir. Aku meminta salah satu pengunjung yang ada, untuk mengambil gambar aku dan temanku di lingkungan museum Keraton ini. Setelah ia selesai mengambil gambar, ia pun bertanya kepada kami, ‘mba, tadi masuk ndak pas di ruangan yang ada patung kuda-nya?’, ujarnya. Kami pun mengiyakan dan bahkan beberapa pengunjung yang ada, sempat berfoto di depan patung itu. Ia mengatakan bahwa ia diberi kelebihan oleh Allah untuk bisa merasakan hawa yang berbeda meski tidak sampai melihat. Nah, ia mengaku bahwa ia merasakan hal berbeda ketika akan masuk ke ruangan patung kuda itu. Kemudian, ia pun menarik adiknya untuk tidak jadi memasuki ruangan patung itu. Begitulah sekilas cerita mistis dari seorang pengunjung yang kami temui, tepat di pukul 15.00 WIB, tanda museum akan segera di tutup.

Setelah berpamitan dengan perempuan paruh baya yang tengah kuliah di Yogya itu, temanku pun menceritakan ketidaknyamanannya ketika memasuki ruangan dan kemudian melihat patung kuda tersebut. Sehingga ia pun menarikku untuk pergi dengan segera ke ruangan lain. Temanku sejak di pondok –an ini pun bercerita bahwa kabarnya banyak benda-benda Keraton yang hilang dan ternyata di perjualbelikan di luar negeri. Anehnya, barang yang diperjualkan, dibeli lagi oleh orang-orang kita (Indonesia yang ada di luar negeri), untuk sekedar menambah koleksi barang kuno-nya. Sejurus kemudian, nampak wistawan asing yang setelah aku tanya, ternyata ia berasal dari Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Aku pun mengatakan padanya bahwa aku pernah berada seminggu di KL untuk mewawancarai beberapa orang TKW guna keperluan tesis-ku. Sejurus kemudian, ia pun berujar bahwa PRT yang ada di rumahnya berasal dari Medan, Indonesia. Serasa ada perasaan sedih ketika ia menceritakan bahwa PRT-nya berasal dari Medan. Orang Indonesia menjadi PRT di negeri Jiran, kemudian ikut kembali bersama majikannya wisata ke Indonesia, tanah kelahirannya. Setelah kulihat, ternyata sang PRT jauh lebih cantik dibanding majikan perempuannya (hehe, maaf ya bu). Ingin sekali kutanyakan beberapa pertanyaan kepada bapak paruh baya ini, namun baru saja niat untuk bertanya, ada salah satu keluarga nya yang mengajak nya untuk mengitari kompleks rumah Keraton Solo bersama guide yang disewa-nya.

Hujan deras masih mengguyur kota Solo di sore itu. Dengan niat cepat sampai di kost-an, kami pun menembus hujan dengan satu jas hujan yang digunakan berdua. Kami melintasi daerah kota, yang ditandai oleh keberadaan Jl.Slamet Riyadi. Percaya atau tidak, hanya terdapat dua mall di kota ini, yaitu Solo Grand Mall dan Solo Square. Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah kota Solo yang dipimpin oleh Joko Widodo. Dibawah kepemimpinannya-lah, ia membatasi keinginan para investor untuk mendirikan mall dan nampaknya kejadian ini memicu sinisme seorang Bibit Waluyo. Seperti yang marak diberitakan, Bibit enggan untuk menggunakan mobil Kiat Esemka sebagai kendaraan dinas nya. Di tengah deras nya hujan, aku melintasi pondok As-Salam Solo yang dahulu pernah aku datangi di tahun 1997 untuk mengikuti ujian masuk-nya. Nampak perubahan bangunan Pondok di beberapa titik saat ini, setelah 14 tahun aku melihatnya kembali.
Subhanallah... perjalanan yang mengesankan di kota damai bernama Solo. Kota yang jauh dari kesan macet ini adalah salah satu tempat yang paling pas untuk melepas lelah dari penat ibukota. Perjalanan hari ini diakhiri dengan santapan kuah ikan tenggiri yang terletak di dekat kost-an temanku di daerah Pabelan. Pemilik tempat makan ala bambu ini biasa disebut dengan sebutan ‘Mbah’. Makan ala parasmanan dengan porsi yang besar, tentu saja membuat perut kami cepat kenyang. Tenpat ini nampaknya menjadi tempat favorit bagi segala kalangan, mulai dari yang muda hingga tua. Ah Solo... riwayatmu kini, semoga lebih indah dari tahun sebelumnya, begitupun dengan kondisi kebersihan Bengawan Solo.

Solo, 07 Januari 2012



Ucap Syukur dari Sebuah Kereta Bernama Argo Dwi Pangga

Niat awal untuk menaiki kereta bisnis jurusan Solo-Jakarta, harus kandas dan berakhir dengan terbelinya satu tiket kereta eksekutif, yaitu Argo Dwi Pangga dengan harga dua kali lipat dari kereta bisnis. Awalnya, diriku kesal, karena toh jatah untuk membeli beragam oleh-oleh dari Solo, harus kupakai untuk membeli tiket pulang. Tapi, sahabatku selalu mengingatkan bahwa tentunya Allah punya rencana yang indah dan hikmah di balik tiap kejadian yang menghampiri kita. Aku pun tersadar dan meminta ampun padaNya karena telah banyak mengeluh atas kejadian itu. Sungguh, manusia memang tempat nya khilaf dan lupa. Ternyata benar, aku pun merasakan nikmat yang luar biasa dariNya, karena bisa merasakan kereta Argo Dwi Pangga ini. Design dalam kereta api ini, mirip dengan pesawat terbang, paling tidak ketika kita melihat model jendela dan korden nya yang bisa ditarik dengan fleksibel ke bawah dan atas. Kursi yang nyaman dan bisa kita setel sesuka hati. Selain itu, kabin kereta ini pun mirip kabin pesawat, tiap kursi mendapatkan jatah kabin tas nya masing-masing. Suasana malam di hari Senin pukul 20.00 itu pun lengang, menambah kenyamanan kita untuk beristirahat, nonton TV atau pergi ke toilet.

Kenyamanan itu pula yang membuatku leluasa menulis di atas meja kecil yang bisa dimunculkan dari balik pegangan kursi. Aku pun terbangun dari tidur dan memutuskan untuk menulis karena mata ini enggan untuk tidur kembali. Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Sebetulnya bingung juga apa yang akan ku tuliskan. Begitu tersadar bahwa hari ini adalah tanggal 10 Januari 2012, yang merupakan hari istimewa bagiku, hari kelahiranku ke muka bumi ini, jadilah aku menorehkan tema mengucap syukur.
Bagiku, hari ini terasa seperti permen Nano Nano, manis, asam dan asin. Manis yang tengah kurasakan, tentunya adalah sebuah ucap syukur kepada Allah SWT, sang pemilik kehidupan ini, untuk anugerahNya yang tak mungkin terganti dan terhitung selama 26 tahun aku bernafas di bumi. Ya, selama 26 tahun ini aku diizinkan oleh Allah untuk meraih beberapa pencapaian; bisa menjadi salah satu alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor Puteri, Mantingan Ngawi Jawa Timur yang sangat aku banggakan di tahun 2003. Selepas itu, Alhamdulillah predikat lulusan terbaik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta dengan kategori cumlaude dan waktu 3,5 tahun berhasil aku raih. Setelah bekerja selama kurang lebih satu tahun setengah, Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi magister- ku di Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Indonesia sejak tahun 2009-September 2011. Berkat doa orang tua dan ridho dari Allah, Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan studiku selama genap dua tahun dan menjadi satu-satunya perempuan diantara tiga orang lulusan tercepat di angkatanku. Alhamdulillah, dana bantuan penulisan tesis dari Kemdiknas (yang saat ini berubah nama menjadi Kemdikbud) pun aku dapatkan. Hal itu membantuku untuk dapat mewawancarai para buruh migran perempuan Indonesia yang ada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ya Allah, rasanya nikmat yang kau anugerahkan padaku begitu besar, dan belum bisa aku balas dengan menjadi hamba-Mu yang soleh dan selalu melaksanakan perintahMu. Hingga tulisan ini aku buat, diriku tengah berada di sebuah kereta eksekutif nan nyaman, yang pastinya skenario tiket ludes itu adalah berkat campur tanganMu pula, sehingga aku bisa merasakan hari ulang tahunku di atas kereta nan apik ini. Di kereta inilah aku memutar kembali memoriku dari awal perjalanan kehidupanku memasuki gerbang pintu Darussalam Gontor, kemudian dapat bertemu dengan anak-anak di komunitas masyarakat miskin kota yang ada di bantaran kali Ciliwung, Rawajati, Jak-Sel, pergi silaturahmi ke Solo dan berakhir dengan duduk manis di kereta api Argo Dwi Pangga. Selain manis, ada asam kehidupan yang kurasakan juga.

Asam dalam pemahamanku, lebih pada refleksi diri atas beberapa penyesalan dalam hidup. Meski kita dilarang untuk meratapi hal yang sudah lalu, namun bagiku, hari ini adalah hari yang tepat untuk bisa berefleksi akan kekurangan juga hal-hal yang belum dilakukan selama ini, yang akhirnya lebih pada belajar dari ‘penyesalan’ itu. Aku menyesal karena tidak menggunakan waktu dengan baik, menyesal karena belum bisa membuat orang tua bangga, menyesal karena belum mengeluarkan potensi diriku dengan maksimal, juga ‘penyesalan’ lainnya, yang kelak akan memicu diriku untuk lebih berbuat banyak di tahun ini dan tahun-tahun ke depan kelak.

Selebihnya adalah asin. Aku lebih memaknai asin nya kehidupan, ibarat kita mencicipi air laut. Jika kita cicipi sedikit, tentu asin nya tidak akan terlalu terasa, sebaliknya jika banyak, tentu akan terasa sangat asin. Nah, seperti itulah sebuah sikap atau tindakan salah dalam hidup. Tindakan atau sikap ku yang salah sebanyak satu kali, tentu tidak memberikan efek apa-apa. Namun, jika kesalahan itu berkali-kali, tentu memberikan dampak yang negatif. Mungkin banyak dari kita yang merasakan saat kita melakukan tindakan yang salah berkali-kali (karena belum bisa belajar dari pengalaman), maka ada akibat yang harus ditanggung, yaitu asam= sebuah penyesalan. Itulah salah satu yang aku refleksikan dini hari ini, tepat di pukul 01.00 WIB. Aku pun berucap dalam hati, semoga tahun 2012 ini aku akan lebih dapat belajar dari sebuah kesalahan, yang tidak akan ku ulangi berkali-kali.
Namun. Layaknya slogan iklan Nano Nano, ‘Manis, asam, asin, ramai rasanya’. Begitupun hidup. Hidup ini akan lebih berwarna jika kita merasakan berbagai hal, baik itu benar atau salah, buruk atau baik, mengkhawatirkan atau tidak, bermanfaat atau tidak. Dengan itu, kita akan belajar menemukan hakikat kehidupan, ya kan?
Dini hari ini begitu indah. Sangat jarang aku meggoreskan penaku dan mengambil note ku pada dini hari. Rasa manis, asam dan asin itu berpadu menjadi satu dalam damainya hati ini di sebuah kereta dengan dominasi cat putih di seluruh interior nya. Diri ini mengucap syukur atas segala kasih sayang dan teguran dariMu ya Rabb. Mudah-mudahan semuanya itu akan lebih menguatkan perjalanan hidupku mengarungi bumi Allah nan luas ini.

Sang kereta pun melaju dengan cepat. Lajunya secepat keinginanku untuk segera tiba di rumah dan mengucap rasa terimakasihku kepada kedua orang tuaku yang selama ini telah begitu sabar merawatku dan menyayangiku sejak ada dalam kandungan, hingga terlahir ke dunia indah ini. Terimakasih Ayah, Ibu, karena telah melahirkan, merawat, menjaga, mendidik, menyayangi dan membesarkan seorang anak bernama Ana Sabhana Azmy.

Argo Dwi Pangga, 10 Januari 2012
01.15 WIB.

Selasa, 10 Januari 2012

Sebuah Pesan dalam Balutan Rasa Rindu

GONTOR. Nama itu tentu tidak pernah hilang dari ingatan dan benak kita. Meski kita telah menjadi alumni, berkeliling daerah di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, namun rasanya selalu rindu untuk kembali ke bumi Darussalam, begitupun dengan diri ini. Perjalanan selama satu setengah jam dari Solo menuju Mantingan, Ngawi serasa sepuluh jam karena dilanda ketidaksabaran menginjakkan kaki di Pondok tercinta. Akhirnya, detik itu pun tiba, detik di mana aku dan sahabatku melihat DLP (Depot La Tansa Puteri) dari kejauhan. Ya, kejauhan karena sang supir menurukan kami melebihi tempat seharusnya, hingga melewati Puskesmas yang berada di jajaran Pondok Gontor Puteri.

Subhanallah... tiba-tiba memoriku kembali pada tahun 1997-an, tahun pertama aku menginjakkan kakiku di Pondok ini dan berpisah dengan kedua orang tuaku di DLP setelah jam makan siang. Kala itu, orang tuaku hanya menginap selama dua hari satu malam, di saat anak-anak ManTwo (atau Mantingan Dua) masih ditemani oleh kedua orang tuanya. Kini, aku berada di DLP ini setelah 8 tahun lulus dari Pondok Gontor di tahun 2003 akhir. Rasanya senang, sedih dan tidak percaya bahwa siang ini, persis seperti siang di tahun 1997 itu, aku kembali ada di sini. Plang ‘Kawasan Berbusana Muslim’ itu masih terpasang di tempat aslinya. Bahkan mushola dan kamar mandi yang ada disekitar Binapenta masih sama dengan tahun terakhir aku menyelesaikan studi di Pondok, 2003. Pandanganku pun menyusuri sekitar, ternyata juga ada yang berubah dengan wajah depan lingkungan penerimaan tamu di sini, yaitu berdirinya sebuah Supermarket nan luas dan komplit di kawasan lapangan depan rumah Ustadz Hidayatullah dan Ustadzah Nihayah kala dulu. Kenapa kala dulu? Karena sekarang rumah keduanya telah pindah di kompleks rumah para Asatidz yang berada di samping Supermarket itu.

Sejurus kemudian, aku dan sahabatku pun memutuskan untuk masuk ke DLP dulu, tepat di pukul 13.30 WIB. Perut yang sudah berbunyi sejak di bus tadi, ternyata tidak bisa berkompromi. Kami pun memasuki DLP. Aku langsung mencari menu favoritku tiap mudhifah, Rawon. Ternyata setelah mataku menyusuri sekitar, tak kudapatkan rawon itu lagi. Huff, sempat kesal juga, tp batinku berujar, mungkin sudah berganti menu andalan ya. Aku pun memutuskan menyantap ayam kecap. Rasanya sama persis dengan ayam Senin-Kamis yang biasa kita makan setelah berbuka puasa. Porsi kecil dan bahkan kadang tidak kebagian ayam kala menjadi santri, ternyata tidak menyurutkan langkah kita untuk pergi ke matbah, bahkan kita sampai lomba lari lho, ya kan, hehe. Subhanallah.. aku dan temanku tak henti-hentinya bernostalgia, menceritakan ini dan itu sambil makan siang. Tahu apa yang kami pesan untuk diminum? Es jeruk, yang ternyata sudah bisa kita tebak kan apa yang dimaksud oleh es jeruk itu? Yups, Nutrisari rasa jeruk, heheh. Temanku berkelakar, ‘wah, ndak berubah yo, es jeruk ala nutrisari, ‘ begitulah katanya.

Setelah kenyang dan melihat para Ustadzah yang entah angkatan berapa tengah menyantap makanan juga, kami pun shalat dan langsung menuju rumah Ustadz Hidayatullah dan Ustadzah Nihayah. Sayang sekali, rumah yang selalu terasa teduh dan damai itu sepi, hanya ada seorang PRT (pekerja rumah tangga) yang keluar dan mengatakan bahwa Ustadz dan Ustadzah sedang tidak di rumah. Meski sedih karena tidak bisa bersilaturahmi dan melihat wajah keduanya, namun aku yakin bahwa keduanya tidak pernah lupa untuk mendoakan para alumni Gontor Puteri yang tersebar di mana-mana saat ini. Sejurus kemudian aku dan temanku pun memutuskan untuk langsung mendatangi rumah Ustadz Ma’ruf dan Ustadzah Aliyah yang hanya berjarak satu rumah dari rumah Ustadz Hidayatullah. Tepat pukul 14.30 WIB, kami bisa melihat wajah Ustadz Ma’ruf kembali setelah 8 tahun sejak tahun 2003. Sebelumnya kami ngobrol dengan Ustadzah Aliyah karena Ustadz sedang istirahat. Namun begitu dibangunkan oleh sang istri dan mengatakan bahwa ada alumni Za Green datang, Ustadzah Aliyah bercerita bahwa Ustadz langsung bersemangat untuk bangun. Subhanallah...

Setelah kurang lebih 40 menit kami ngobrol dengan kedua guru tercinta ini, tanpa di duga, Ustadz Ma’ruf pun mengajak aku dan sahabatku untuk berkeliling dengan mobil, ditemani oleh Ustadzah Aliyah dan kedua anak perempuan yang cantik dan lucu, yaitu Yasmin dan Icha. Alhamdulillah.. ternyata niat untuk izin kepada Ustadz agar bisa masuk ke pondok, malah dijawab oleh Ustadz dengan sebuah ajakan, sebelum kami mengutarakan keinginan kami. Ya Rabb.. inilah bentuk dari indah nya bersilaturahmi. Tanpa berfikir panjang, kami pun langsung senyum dan menyambut tawaran Ustadz dengan bahagia. Bagaimana tidak? Sosok low profile keduanya dari dulu, seakan selalu melekat di hati kami dan hari itu pun kami diajak berputar dengan menaiki mobil. Ahay, serasa tamu VVIP, hehe. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Gontor Camp.

Untuk teman-teman yang senang dengan petualangan flying fox atau yang dulunya pengurus Koord, pasti betah berlama-lama di area Gontor Camp ini. Berbagai permainan, mulai dari flying fox, rumah hantu, uji keseimbangan di atas tali yang dilumuri lumpur, ban-ban tali hingga kolam air yang rencananya akan dipenuhi mainan ini tersedia di area Gontor Camp. Nampak di sebuah sudut, bendera Gudep 1732, yang mengingatkanku pada riuh ramainya hari Kamis, waktu untuk berpramuka. Area Gontor Camp ini terletak di kawasan Aula besar di belakang gedung Syiria, tempat kelas-kelas kami, 62003 dulu. Dahulu, kawasan ini sangat terkenal dengan pohon tebunya bukan? Bahkan sampai heboh, sebagai tempat masuknya maling dengan leluasa. Kini, kawasan ini telah berpagar dan ada dua tangki air, di mana Ustadz Ma’ruf bercerita bahwa akan dibangun kolam renang dengan segera di situ. Subhanallah... kok ndak dari dulu ya Ustadz Gontor Camp dan kolam renang nya itu. Hehe. Diseberang Gontor Camp, terdapat tulisan ‘ Kawasan Bumi Perkemahan’. Wah, mantab ya, sekarang kawasan Buper itu sudah tidak di area dekat wisma lagi. Kini Buper mempunyai lahan khusus. Setelah asyik berfoto ria dengan keluarga Ustadz Ma’ruf, kami pun menaiki mobil kembali dan berputar ke gedung mufaddhol, Indonesia 3 dan 4 hingga Kopel yang kini mempunyai bangunan baru di depan Indonesia 3. Subhanallah... banyak sekali perubahan pada wajah jalan-jalan serta bangunan di Pondok ini. Masih ingat kan dengan gedung Mufaddhol? Gedung yang beralaskan seng yang serasa panas ketika siang tiba dan datang ratusan nyamuk di kala malam? Hehe. Nah, Mufaddhol kini telah berubah wujud menjadi gedung yang cantik dan bercat cerah, paduan hijau dan putih. Di depan Kopel baru, ada lapangan bola basket dan juga air mancur tepat di depan Indonesia 4. Terowongan yang dulu memisah kamar-kamar yang ada di Indonesia 4, ditutup dan dibuat satu kamar lagi. Tidak jauh dari situ, adalah Masjid.

Memoriku kembali pada tahun 2002, tahun di mana aku diberikan kepercayaan sebagai Bagian Keamanan dan masjid menjadi sentral perhatian kami, para bagian Keamanan. Sajadah hijau itu, sajadah yang menjadi saksi bisu para santri yang datang terlambat ke masjid dan kami pukuli pantat nya dengan sajadah itu. Ah, sebetulnya tidak tega juga memukuli mereka, namun Pondok memang mengajarkan disiplin yang sangat tinggi, tidak pandang bulu. Banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan di Pondok ini. Sore itu, para santri masih terlihat mengaji di Masjid setelah shalat Ashar. Dan seperti biasa, ada beberapa santri yang dijemur karena kesalahan-kesalahan mereka. Ya Allah... aku teringat Wahidaini, Lailatun Nisfiyah, Rida Rosidah, Ida Rosyidah, Puspita Ningrum, Heni Kusuma, Tutik.M, Ela, Memem, Ajeng dan Eva Zumrotin sebagai sesama partner di bagian Keamanan. Kini, kerudung-kerudung mereka pun berbeda, tidak lagi satu warna seperti dulu. Warna orange dipadu dengan setengah motif biru kotak atau garis dan lainnya. Oh Pondokku, tempat naung kita, dari kecil sehingga dewasa. Subhanallah, senangnya bisa kembali ke sini. Setelah mengambil foto, kami puj bergegas menuju mobil kembali. Sejurus kemudian, Ustadz menyetir ke arah Bosnia dan sampingnya. Ah, aku teringat Palestine, tempat aku menjadi santri Mantingan Dua kala itu. Kami pun menaiki Kubri Palestin dan menuju Gontor Puteri 2. Ustadzah Aliyah bercerita bahwa kini Gontor Puteri Dua sudah mempunyai manajemen nya sendiri. Banyak gedung-gedung baru yang dibangun di sini. Aku pun teringat kala dulu mengajar darsul masaaii dan kala itu Pondok tengah di landa hujan besar. Jalanan yang ada pun belum seperti ini, sudah berbentuk aspal hampir di seluruh penjuru.

Setelah berkeliling Pondok dan melewati gedung-gedung yang tengah dibangun, kami pun kembali ke kediaman Ustadz Ma’ruf dan mulai berdiskusi dengan beliau. Beliau menanyakan kabar para alumni Za Green dan angkatan lainnya serta menyinggung tentang Reuni alumni 1994-1998 lalu di Pondok Gontor Puteri. Ustadz mengawali pembicaraannya bahwa saat ini sangat jarang muslimah yang bisa berperan di dua hal, yaitu ranah publik dan privat secara bersamaan, termasuk peran sosial. Tidak banyak juga orang yang mempunyai idealisme dalam kedua hal itu, terutama perempuan, ujar Ustadz. Perempuan memang sering dipandang tidak mempunyai kontribusi secara materil. Padahal, seorang ibu sangat berperan dalam hal pendidikan anak, bahkan hingga 99% dan bapak hanya mendapatkan 1% nya. Begitulah paparan Ustadz Ma’ruf. Aku pun bertanya bagaimana pandangan beliau akan sebuah aliran bernama Feminisme yang saat ini menjadi kajian paling diminati dan selalu happening. Bukanlah dalam Islam pun, artian feminisme sebagai perjuangan, sikap atau gerakan melawan ketidakadilan gender antara laki-laki dan perempuan juga sudah di bahas? Namun bagaimana dengan feminisme ala Barat yang muncul setelah revolusi Perancis dan berwajah awal sebuah gerakan perempuan?

Sang Ustadz pun menyatakan bahwa mempelajari feminisme itu tidak masalah. Yang penting, world-view nya harus Islam. Menurutnya, mar’ah solihah itu tidak sama dengan perempuan karier. Jika mar’ah solihah itu dunia dan akhiratnya seimbang, tidak demikian dengan perempuan karier yang hanya memikirkan dunia saja. Selain ngobrol tentang Feminisme, Ustadz pun mencamkan bahwa jangan sampai lupa dengan prinsip Pondok; Ke-Islaman, Ke-Ilmuan dan Ke-masyarakatan. Beliau pun mengutarakan bahwa konsep kesatuan marhalah, nampak nya perlu dibumikan hingga kesatuan konsul. Sehingga, satu alumni dengan alumni lainnya yang berasal dari daerah yang sama, akan tetap terhubung, meski beda marhalah. Sayup-sayup pengajian di masjid pun terdengar hingga rumah Ustadz dan menandakan azan maghrib sudah semakin dekat. Rasanya waktu tiga setengah jam bersama Ustadz Ma’ruf dan Ustadzah Aliyah berjalan dengan sangat cepat. Waktu jua yang memisahkan kami, aku dan temanku pun pamit pulang ketika adzan maghrib berkumandang. Meski tidak dapat bertatap muka dengan Ustadz Hidayatullah, namun hati ini senang sekali karena bisa kembali menapaki bumi Darussalam, Gontor Puteri, kampung nan damai.

08 Januari 2012.

Senin, 09 Januari 2012

Jogja, Solo dan Sebuah Kereta Bernama Prameks

Kakiku berpijak di bumi Yogyakarta, tepatnya di sebuah stasiun bernama Tugu, setelah selama kurang lebih sembilan jam berada di kereta api Senja Utama jurusan Jakarta-Yogyakarta. Stasiun ini tentu tidak asing bagiku. Seingatku, tercatat sudah empat atau lima kali aku berhenti di stasiun ini untuk kemudian bersilaturahmi dengan para sahabat di Yogyakarta. Namun, kali ini tujuanku bukanlah Yogyakarta, namun Solo. Yah, apa mau di kata, semua tiket jurusan Jakarta-Solo Balapan sudah ludes terjual. Akhirnya, tiket ini lah yang menjadi alternatif terakhirku untuk tetap bisa sampai di Kota yang mempunyai ikon ‘City of Garden’ itu. Setibanya di stasiun Tugu, aku pun menunaikan shalat subuh dan membeli tiket kereta api Prameks, sesuai instruksi sahabatku. Akhirnya, kereta yang kutunggu pun datang. Sebuah kereta api berwarna ungu cerah, mempunyai jadwal keberangkatan paling pagi setengah enam dan dibandrol dengan harga sepuluh ribu rupiah per penumpang. Kereta api inilah yang menjadi alat transportasi penghubung sekian banyak masyarakat Yogya-Solo yang akan berangkat menuju tempat kerjanya atau melakukan berbagai aktifitas lainnya seperti karyawisata atau berdagang.

Sejurus kemudian, aku memasuki salah satu gerbong kereta ini. Unik, itulah kesan pertama yang aku tangkap. Kereta ini tidak seperti commuter line yang biasa aku tumpangi di Jakarta. Desain kereta ini lebih mirip kereta wisata dengan desain tempat duduk berhadap-hadapan berwarna hijau dan mempunyai beberapa kipas angin di selasar nya. Jarak tempuh antara Yogya dan Solo dengan Pramek ini adalah sekitar satu jam. Seru rasanya menaiki Prameks, kita disuguhi pemandangan kota Yogya serta hamparan sawah nan hijau dan udara yang sejuk kala pagi. Mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena orang disebelahku berujar bahwa biasanya Prameks ini tidak pernah sepi. Tak jarang kita bisa sampai tidak bisa mendapatkan tempat duduk. Aku pun mempercayai perkataan perempuan paruh baya ini begitu melihat tiketku, yang bertuliskan BERDIRI dan TIDAK MENDAPATKAN TEMPAT DUDUK.

Perasaan bahagia ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bagiku, siapapun yang tinggal dan melakukan rutinitas di Jakarta sepakat menyatakan bahwa pergi selama beberapa hari ke Yogya atau Solo, adalah pengalaman yang asyik dan menyegarkan otak. Perempuan paruh baya itu pun bercerita bahwa ia rutin melakukan perjalanan dari Yogya ke Solo dan sangat menyukai Solo, tempat suaminya bekerja. Sejurus kemudian, ia pun bercerita tentang kekagumannya atas kepemimpinan Joko Widodo dan mengapresiasi keputusannya untuk tidak menerima tawaran menjadi pejabat di Ibukota. Kami pun terlibat obrolan seru mengenai politik.

Perempuan yang bekerja di sebuah Bank Swasta ini pun menyatakan bahwa bagaimanapun kepemimpinan Orde Baru Soeharto, lebih bisa memberikan rasa aman bagi warga negara, ketimbang kepemimpinan SBY saat ini. Begitu kusinggung mengenai dosa-dosa politik Suharto di masa Orde Baru selama 32 tahun, yang kemudian berimplikasi hingga saat ini, ia berujar bahwa kenyataannya kesejahteraan rakyat masih nampak ketika zaman Suharto. Ia pun tak segan menyatakan bahwa sebaiknya DPR itu memang ditiadakan dan lebih baik langsung berada di bawah Kementerian saja. Dengan begitu, anggota komisi yang menangani berbagai isu dan mengawasi kinerja badan eksekutif, tepat ada di instansi Kementerian. Wah, jika demikian, batinku berujar, bagaimana dengan konsep trias politika ala Montesquieu bahwa sebuah kekuasaan itu perlu dibagi agar tidak terpusat. Karenanya, Indonesia sebagai Negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi, menggunakan badan eksekutif, legislatif dan yudikatif sebagai upaya untuk membagi tugas dan fungsi dalam sistem pemerintahan. Yang memang nyatanya, tidak bisa berfungsi dengan baik karena jauh dari kesan partisipastif dan transparan. Haus kekuasaan dan penempatan orang yang belum pas pada sebuah kabinet, menambah benang kusut permasalahan bangsa di era reformasi. Semangat reformasi seakan hilang ditelan berbagai kepentingan segelintir pihak.

Obrolan kami pun terhenti seiring kedatangan kami di Stasiun Purwosari, Solo. Masing-masing kami pamit dan aku pun memutuskan untuk menunggu sahabatku di ruang tunggu. Desain stasiun ini khas tempo dulu dengan kerangka baja nya yang nampak kokok. Aku pun tersenyum riang, seraya mengucap syukur akan kedatanganku kembali di kota ini setelah kurang lebih delapan tahun berpisah. Terimakasih ya Allah atas kesempatan ini.

7 Januari 2012, 06.10 WIB.


Kamis, 05 Januari 2012

Menanti Detik-detik Sebuah Perjalanan

Senyumku mengembang setelah berhasil mendapatkan tiket kereta api Senja Utama Yogya Tujuan Jakarta-Yogyakarta untuk Jum'at, 06/01/12 ini. Awal pencarianku akan sebuah tiket kereta api, memang bukan untuk tujuan Jakarta-Yogyakarta, melainkan Jakarta-Solo. Rasa kecewa pun hadir ketika aku mengetahui bahwa seluruh tiket menuju kota yang terkenal dengan lagu 'Stasiun Balapan' itu, ludes terjual. Sesaat aku pun berfikir dan menelfon teman baikku yang akan aku temui di kota Solo nanti. Akhirnya, jalan keluar kudapati, aku membeli satu tiket perjalanan ke Yogyakarta yang kemudian kulanjutkan menuju Solo, setibanya di stasiun Tugu Yogya nanti. Alhamdulillah, jatah liburan tahun baru ini masih berpihak padaku. Ternyata masih ada dua kursi kosong untuk perjalanan menjelang akhir pekan itu.

Solo, kota sejuta kenangan. Sungguh, rasanya aku tidak sabar menanti detik-detik perjalanan ini. Menjelajahi pulau Jawa yang salah duanya adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebenarnya bukan hal asing bagiku. Ayahku yang berasal dari Losari, Brebes, dekat perbatasan Cirebon itu, membuatku tidak asing dengan Jawa Tengah. Cirebon, Semarang, Brebes hingga DI Yogyakarta pun sering ku kunjungi. Adapun Jawa Timur, Alhamdulillah aku bisa merasakan nikmatnya berada di sebuah daerah yang bernama Mantingan, Ngawi. Selain itu, aku pun pernah menginjakkan kaki di Ponorogo dan Malang. Namun, entah mengapa, beda rasanya ketika mengetahui bahwa dalam bilangan jam aku akan melihat kota Solo kembali, setelah kurang lebih 9 tahun tak bertemu. Kota cantik yang saat ini tengah booming dengan mobil Esemka nya itu, kota yang mempunyai seorang walikota nan hebat seperti Joko Widodo atau yang akrab dipanggil dengan Jokowi serta kota yang di beberapa titik wilayahnya saat ini juga tengah terendam banjir.

Perkenalanku dengan Solo dimulai pada tahun 1997. Saat itu aku baru saja menamatkan pendidikan Sekolah Dasar ku di Jakarta. Aku pun mendaftarkan diri di salah satu pesantren yang ada di Solo, yaitu As-Salam. Nampaknya aku tidak berjodoh dengan As-Salam. Selain merasa tidak betah, aku tidak lulus di beberapa mata pelajaran ujian masuk As-Salam. Sepertinya Allah menggariskan jalan hidup yang lain. Akhirnya aku pun bertolak ke pondok modern Darussalam Gontor Puteri, Mantingan Ngawi Jawa Timur. Suatu saat, ketika aku menjadi pengurus OPPM (serupa OSIS), aku pun mengantongi izin untuk pergi ke Solo guna membeli beberapa keperluan organisasi. Saat itulah aku merasakan suasana Pasar Klewer, melihat keramaian stasiun Solo Balapan dan juga melihat beberapa koleksi bahan-bahan baju nan indah.

Sebuah perjalanan selalu menyenangkan. Perjalanan bisa menambah wawasan, memetik hikmah kehidupan dan juga tentunya silaturahmi, bertemu teman lama se-Indonesia. Itulah yang kusyukuri dari sebuah jalinan persahabatan abadi ala Pondok Modern Gontor. Di manapun kami singgah di bumi pertiwi ini, selalu saja ada sahabat lama yang bisa ditemui. Jangankan di Indonesia, ketika aku memutuskan untuk melakukan wawancara tesisku di Kuala Lumpur, beberapa teman dekat dan terkasih ku, yang juga jebolan Pondok Gontor Puteri, menyambutku dengan sambutan yang sangat hangat dan penuh kasih sayang. Aku pun menetap di asrama temanku, asrama salah satu Universitas terkemuka di Malaysia selama satu minggu. Subhanallah.. nikmatnya jalinan persahabatan.

Detik-detik perjalananku melakukan silaturahmi dan mencari pengalaman lagi di kota Solo semakin dekat. Semoga aku bisa bercerita lebih tentang seluk beluk kota Solo masa kini pada teman-teman. Tentunya sangat menarik saat mengetahui kondisi pariwisata, perekonomian dan perpolitikan di kota Solo. Semoga.

6 Januari 2012.