Sepertinya hanya satu kata yang dapat kuucap sore hari itu, yaitu HERAN. Ya, sore itu aku harus menunggu salah satu moda transportasi yang paling diincar banyak orang Jakarta, apalagi kalau bukan transJakarta busway, selama satu jam. Perjalanan Rawamangun-Pemuda menuju daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan yang seharusnya bisa kutempuh selama dua jam, menjadi tiga jam. Sungguh, kota Jakarta ini mempunyai dua sisi yang membuatku senyum, yaitu sisi membuat kangen, sekaligus membuat orang stress. Aku teringat paparan teman dekatku yang berdomisili di Yogyakarta. Ia mengutarakan padaku bahwa tinggal selama tiga hari di Jakarta, ibarat tinggal seminggu dengan kondisi menjemukan. Apalagi jika bukan saking tidak betahnya ia menghadapi mobilitas tinggi warga Jakarta dengan topangan kemacetan yang luar biasa. Baginya, suasana Yogyakarta nan nyaman dan bebas dari kemacetan luar biasa, selalu membuatnya kangen untuk segera pulang. Aku pun merasa demikian, tinggal selama tiga hari di kota Yogyakarta, serasa benar-benar menikmati angin surga dan kebebasan rutinitas sesungguhnya. Meski demikian, karena lama tinggal di Jakarta, tetap saja bagiku Jakarta itu selalu membuat kangen.
Kembali pada rasa heranku, ini merupakan refleksi atas perhatian dan pengalamanku mendengarkan keluh kesah warga Jakarta yang mempunyai nasib sama, yaitu MENUNGGU kedatangan transJakarta busway. Beberapa ibu-ibu yang sama-sama megantri pun mulai komat kamit meluapkan keluh kesahnya. Salah satu diantaranya mengatakan, “Haduh, nunggu busway kok sampai kaya gini ya. Balikin karcis nggak mungkin, ya saya juga nggak bakal dapet lagi bus umum selain busway kalau udah jam segini. Udah milih busway, lha kok malah gini jadinya”, demikian ucap sang ibu yang telah menunggu lebih lama dariku. Belum lagi ibu lainnya yang komat kamit dengan nada serupa. Selama satu jam itu, bukan berarti tidak ada transJakarta yang datang, namun semuanya hanya lewat dihadapan kami, dengan alasan akan mengisi BBG (Bahan Bakar Gas). Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa pengisian BBG itu harus dilaksanakan pada waktu jam pulang kantor? Bukankah dua waktu di Jakarta ini yang harus mendapatkan perhatian lebih? Waktu berangkat ke dan pulang dari kantor. Belum lagi kondisi berdesakan sesama penumpang transJakarta yang harus kami alami setelah mengantri selama satu jam.
Aku tidak habis fikir, mengapa pemerintah kita, baik pusat maupun daerah, senang sekali melihat warganya ‘kesusahan’. Jika di luar negeri saja kita bisa merasakan waktu tunggu antrian bus juga kereta selama dua menit saja, mengapa hal itu seakan sulit sekali diterapkan di Indonesia, terutama di Jakarta?
Bukan hanya transJakarta busway, namun juga kereta api. Mungkin ada sedikit pengecualian untuk commuter line yang mempunyai harga tiket sebesar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) itu. Hawa sejuk meski berdesakan ‘lumayan’ mengusir keputus asaan warga Jakarta untuk mendapatkan kondisi transportasi publik yang nyaman. Meski demikian, pertanyaan lain pun hadir. Bagaimana kondisi berdesakan antar penumpang kereta di waktu pagi dan sore hari menjelang jam pulang kantor? Berapa banyak warga Jakarta, terutama kalangan bawah yang dapat membeli karcis seharga enam ribu rupiah itu tiap harinya, jika mereka berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta dan kemudian pulang ke Bogor kembali pada sore hari? Otomatis mereka akan lebih memilih harga tiket kereta api ekonomi yang kurang dari dua ribu rupiah. Kemudian, bagaimana kualitas kereta ekonomi di Indonesia? Apakah sudah menerapkan standar aman bagi penumpang nya, dengan pintu yang terbuka, lampu kadang gelap serta warga bergelantungan, asal bisa naik kereta? Jawabnya adalah BELUM.
Hal penting yang kemudian terbersit di benak ku adalah, bagaimana kemudian Indonesia bisa membangun SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas dan bisa memajukan prestasi diri serta kantor di mana mereka bekerja, bila jarak tempuh ke tempat kerja saja sudah lama. Sesampainya di tempat kerja, bukan kondisi segar lagi yang mereka tunjukkan, namun kondisi berpeluh keringat dengan suasana hati yang enggan untuk berfikir keras dan mengerjakan tugas kerja secara maksimal. Apakah ini difikirkan juga oleh pemerintah? Jelas kita tidak bisa menyalahkan supir transJakarta busway ataupun masinis kereta api. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa gaji yang mereka terima? Sudah sejaterakah mereka? Apakah mereka mendapatkan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja yang maksimal? Inilah kewajiban Negara, yang dicerminkan oleh pemerintah untuk memenuhi tugas dan fungsinya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga negara di tiap aktifitas.
Jika Negara merupakan konsep inklusif yang meliputi semua aspek pembuatan kebijakan serta pelaksanaan sanksi hukumannya, dan kemudian pemerintah adalah agen yang melaksanakan kebijakan Negara dalam masyarakat politik (Lawson 1991:5 dalam Arief Budiman 1996), maka jelaslah bahwa pemerintah harus mempunyai pemahaman mendasar akan kebutuhan warga. Di samping itu, keberpihakan pemerintah yang di wakilkan oleh aparat birokrasi nya pun wajib mempunyai keberpihakan pada kepentingan warga negara secara luas, bukan kalangan tertentu saja. Rasa heranku tak pernah berhenti tiap kali aku ‘menikmati’ moda transportasi publik di Jakarta. Bagaimana mungkin pemerintah TEGA melihat warga nya menunggu selama satu hingga satu setengah jam untuk ‘menikmati’ layanan publik berupa transJakarta busway, kereta api hingga mundurnya jadwal penerbangan pesawat terbang karena kondisi kapasitas pesawat di bandara Soekarno-Hatta yang sudah melebihi jumlah ideal hilir mudiknya sang pesawat. Bagaimana mungkin pemerintah hanya bisa berdiam diri dan menikmati kemewahan mereka sendiri dengan naik mobil dinas atau pribadi yang harganya pun tidak sampai terbayangkan bagi kalangan bawah untuk membelinya. Bagimana mungkin pemerintah tidak bisa bersikap tegas pada pihak asing atau borjuis lokal ketika mereka dengan leluasa membayar pajak nan rendah dengan terus mengeksploitasi tenaga kerja warga negara Indonesia? Mengapa ‘imbalan’ dari sang investor/borjuis itu lebih penting ketimbang tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan sebagai pejabat? Serta masih banyak pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah habis tiap kali merenung selama perjalanan dalam transJakarta busway atau kereta api.
Ada hal yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengurai masalah transportasi publik kemudian, yaitu membuat terobosan baru dalam hal pengadaan transportasi publik. Selain menambah armada transJakarta dan juga kereta api commuter line, pemerintah perlu mensinkronisasikan model tiket sesuai jarak tempuh. Salah satu masalah transJakarta busway adalah armada yang minim. Berdasarkan berita yang dirilis oleh www.beritasatu.com, di koridor 1 saja hanya terdapat 90 single busway dan itupun tidak gandeng. September mendatang menjadi rencana Badan Layanan Umum (BLU) transJakarta untuk menambah 66 armada bus gandeng baru, dan melayani koridor 1 (Blok M-Kota) dan 9 (Lebak Bulus-Harmoni). Pengalaman pribadi penulis, koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) pun perlu penambahan armada. Waktu tunggu selama satu jam di koridor tersebut, sudah menjadi ‘makanan’ kami sehari-hari.
Sama hal nya dengan kereta api commuter line. Penambahan armada mutlak dibutuhkan demi mengangkut massa yang demikian banyak di Jakarta.
Kereta sebenarnya menjadi tumpuan utama masyarakat karena jarak tempuh yang cepat dibanding bus. Nampaknya dalam konteks kereta api di Indonesia, terutama di Jakarta, sinkronisasi harga tiket berdasarkan jarak tempuh perlu diberlakukan. Sebagai contoh, harga tiket kita ke Pasar Minggu dari arah Bogor menjadi lebih murah dibanding harga tiket dari Bogor menuju Kota. Ini pula yang sudah di lakukan beberapa Negara, seperti Malaysia dan Jepang. Sebaiknya tidak ada lagi klasifikasi kereta ekonomi dan AC, meski faktanya memang sulit menghilangkan kereta ekonomi, karena harga nya yang relatif sangat murah. Jika demikian, penerapan harga commuter line pun perlu di pertimbangkan, mulai dari tarif yang sangat rendah hingga sekitar tujuh ribu rupiah misalnya. Sisi positif nya adalah, tiap warga negara bisa menikmati layanan transportasi yang nyaman dan aman. Tentunya tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, harus melalui survei dan juga keputusan partisipatif dari masyarakat Indonesia. Semoga.
Jakarta, 18 Mei 2012.
Kamis, 17 Mei 2012
Rabu, 02 Mei 2012
Hakikat Sebuah ‘Kursi’
Goresan pena ini hadir saat aku tengah mengamati pergantian kesempatan untuk duduk di bangku transportasi publik ibukota, transJakarta busway. Perjalananku selama satu setengah jam menuju kantor di wilayah rawamangun dari bilangan Jakarta Selatan dengan transJakarta busway, selalu menghadirkan fenomena-fenomena menarik di benakku. Yaaa, bisa dibilang ada saja ide segar yang terfikir secara tidak sengaja, salah satunya adalah mengenai ‘kursi’. Hari itu, aku mengamati beberapa pergantian kesempatan untuk duduk yang ditawarkan oleh beberapa orang kepada orang lain. Kadang penawaran itu jatuh ke orang yang lebih tua, lansia, ibu hamil, serta orang tua yang membawa anak. Jelasnya, penawaran itu tidak datang kepadaku yang masih segar bugar ini, hehe.
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Jumat, 13 April 2012
Antara dibutuhkan dan membutuhkan....
Perbincanganku dengan salah seorang kakak tingkat di perkuliahan dulu hari ini, membuatku merenung akan makna di butuhkan dan membutuhkan. Sebagai makhluk sosial, tentunya tak lepas dari konteks tersebut. Mana ada sih manusia yang tidak senang kala ia merasa dibutuhkan oleh banyak orang. Pernyataan sebaliknya pun berlaku, bahwa orang yang merasa senang dibutuhkan tersebut, juga membutuhkan seseorang atau bahkan banyak orang untuk ia bersenda gurau, bercerita dan juga bermanja. Akhirnya, dari makna kata dibutuhkan dan membutuhkan, perbincangan kita pun sampai pada titik pasangan hidup.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Rabu, 28 Maret 2012
Tentang Rasa...
Tiba-tiba kata RASA menjadi perhatianku pagi ini. Bermula dari perjalananku hari ini menuju kantor, yang terletak di bilangan Pulo Asem, Jakarta Timur. Sebelum menggunakan sarana trans Jakarta busway, aku menelusuri jalan-jalan ‘tikus’ yang ada di daerah Jakarta Selatan, hingga sampai pada sebuah jalan raya. Ada sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang selalu ramai tiap aku lewati. Ya, ternyata seluruh murid nya tengah menikmati jam istirahat mereka. Perhatianku pun tertuju pada seorang tukang es yang menjual aneka ragam minuman dengan porsi anak-anak tentunya. Saat aku melewatinya, ia tengah menuangkan salah satu merk minuman bersoda ke dalam plastik dan seketika berubah menjadi biru. Entahlah apa yang ia taruhkan sebelum minuman bersoda itu ia tuangkan. Yang jelas, aku melihat bahwa mendadak minuman di plastik itu berwarna biru. Disamping tukang es tersebut, jongkoklah seorang murid SD yang terlihat sedang menanti rampung nya racikan minuman tersebut dengan tidak sabar.
Bagi anak SD tersebut, tentu tidak penting apa yang dituangkan oleh tukang es bertopi tersebut. Hal yang penting bagi sang anak, hanyalah RASA es tersebut enak dan dingin serta menarik karena berwarna. Sudah bisa dipastikan, bahwa konsep RASA bagi anak kecil, banyak berkutat pada makanan dan minuman. Tidak heran banyak penjaja makanan dan minuman di sekolah-sekolah yang ‘memodifikasi’ bentuk jualannya menjadi warna warni atau bahkan berpengawet kadar tinggi dengan rasa yang penting enak dilidah. Konsep RASA menjadi sangat dilematis bagi mereka. Jika satu kali saja sang bocah mengatakan bahwa ‘ah, rasa makanan itu kan nggak enak, nggak menarik lagi, beli yang lain aja yuk’, maka sudah bisa dipastikan bahwa dagangan pedagang keliling tersebut tidak akan laku. Ya setidaknya jika ia kerap kali mangkal di satu sekolah yang sama. Namun sebaliknya, jika dagangan itu enak, murah dan berpenampilan menarik menurut anak-anak, maka sudah bisa dipastikan ia akan memanggil teman-temannya untuk membeli dan mencicipi makanan atau minuman tersebut.
Konsep RASA akan menjadi berbeda bagi kalangan remaja, yang tengah menikmati sejuta pengalaman mereka di umur yang belia dan mengasyikkan. Bagi banyak kalangan remaja, kata RASA kerap kali diidentikkan dengan curhat tentang cinta pertama, atau bahkan menemukan gebetan di lingkungan sekolah dan organisasi. Tak jarang musik tentang putih abu-abu didengungkan oleh beberapa penyanyi Indonesia. Sebut saja lagu Kisah Kasih di Sekolah yang dinyanyikan oleh Obbie Messakh, atau juga girl band masa kini yang menyanyikan lagu putih abu-abu sebagai hits andalannya. Jelas sekali bahwa konsep RASA bagi kalangan ini adalah tentang kasih, perhatian, cinta dan sejuta pengalaman lain di usia sebelum 17 tahun atau menginjak 17 tahun.
Selain kalangan anak-anak dan remaja, konsep RASA menjadi semakin berubah ke arah pematangan bahasa, ketika menyentuh kalangan dewasa. Kalangan ini sudah bisa melindungi dirinya dari konsep RASA mengenai makanan atau minuman, dan bahkan konsep RASA mengenai cinta. Bagi kebanyakan mereka, pendewasaan diri adalah dewasa juga dalam arti RASA yang sebenarnya. Karenanya, sering kita temukan bahwa kalangan dewasa sudah mulai berfikir akan pola hidup sehat dan juga ragam rencana masa depan yang matang. Meski demikian, sisi kekanak-kanakkan seseorang tentu tidak pernah berubah. Selalu saja ada RASA yang mendorong kita untuk sesekali bertingkah ‘aneh’ atau out of the box dari kebanyakan konsep hidup orang dewasa.
Tentang RASA mulai masuk pada masa masak, ibarat telor yang direbus, sudah masak jika sudah ada beberapa bagian kulit telurnya yang retak, adalah pada masa lepas dewasa. Seperti hal nya ketika sudah menjadi orang tua, atau bahkan manula. Ketika menjadi orang tua, maka RASA akan lebih bergeser pada konsep tentang kasih sayang sejati, penghidupan yang layak bagi keluarga, kebahagiaan seluruh anggota keluarga dan harmonisasi. Orang tua tidak akan rela membiarkan anak nya makan makanan yang tidak bersih dan higienis, karena takut sakit perut. Orang tua tidak akan rela melihat anaknya tidak dapat bersekolah dan mengakses fasilitas pendidikan yang layak, seperti mungkin pengalamannya ketika masa dulu. Orang tua akan mengusahakan apapun agar anaknya bisa mempunyai mainan yang bagus, seperti teman-teman nya yang lain. Bahkan, orang tua tak tega melihat anaknya hidup sengsara seperti yang dialaminya. Pasangan yang telah bercerai pun tak tega memperlihatkan kemarahan dan adu perbedaan mereka di depan anaknya, dengan alasan RASA sayang mereka pada buah hati. Itulah RASA kasih sayang sejati, yang bukan hanya diartikan sebagai kasih nya dua insan mencinta yang tengah mabuk asmara, namun lebih dari itu.
Akhirnya, tentang RASA membawaku pada sebuah perenungan, bahwa pada level apapun kita berdiri saat ini, entah anak kecil, remaja, dewasa atau bahkan sebagai orang tua, nikmatilah dengan sikap yang bijak. Bijak menempatkan RASA pada tatarannya masing-masing, tanpa menyalahgunakan RASA yang telah diberikan oleh Allah pada seluruh makhluk ciptaannya di dunia ini.
Wallahu a’lam bisshowab.
Jakarta, 28 Maret 2012
Bagi anak SD tersebut, tentu tidak penting apa yang dituangkan oleh tukang es bertopi tersebut. Hal yang penting bagi sang anak, hanyalah RASA es tersebut enak dan dingin serta menarik karena berwarna. Sudah bisa dipastikan, bahwa konsep RASA bagi anak kecil, banyak berkutat pada makanan dan minuman. Tidak heran banyak penjaja makanan dan minuman di sekolah-sekolah yang ‘memodifikasi’ bentuk jualannya menjadi warna warni atau bahkan berpengawet kadar tinggi dengan rasa yang penting enak dilidah. Konsep RASA menjadi sangat dilematis bagi mereka. Jika satu kali saja sang bocah mengatakan bahwa ‘ah, rasa makanan itu kan nggak enak, nggak menarik lagi, beli yang lain aja yuk’, maka sudah bisa dipastikan bahwa dagangan pedagang keliling tersebut tidak akan laku. Ya setidaknya jika ia kerap kali mangkal di satu sekolah yang sama. Namun sebaliknya, jika dagangan itu enak, murah dan berpenampilan menarik menurut anak-anak, maka sudah bisa dipastikan ia akan memanggil teman-temannya untuk membeli dan mencicipi makanan atau minuman tersebut.
Konsep RASA akan menjadi berbeda bagi kalangan remaja, yang tengah menikmati sejuta pengalaman mereka di umur yang belia dan mengasyikkan. Bagi banyak kalangan remaja, kata RASA kerap kali diidentikkan dengan curhat tentang cinta pertama, atau bahkan menemukan gebetan di lingkungan sekolah dan organisasi. Tak jarang musik tentang putih abu-abu didengungkan oleh beberapa penyanyi Indonesia. Sebut saja lagu Kisah Kasih di Sekolah yang dinyanyikan oleh Obbie Messakh, atau juga girl band masa kini yang menyanyikan lagu putih abu-abu sebagai hits andalannya. Jelas sekali bahwa konsep RASA bagi kalangan ini adalah tentang kasih, perhatian, cinta dan sejuta pengalaman lain di usia sebelum 17 tahun atau menginjak 17 tahun.
Selain kalangan anak-anak dan remaja, konsep RASA menjadi semakin berubah ke arah pematangan bahasa, ketika menyentuh kalangan dewasa. Kalangan ini sudah bisa melindungi dirinya dari konsep RASA mengenai makanan atau minuman, dan bahkan konsep RASA mengenai cinta. Bagi kebanyakan mereka, pendewasaan diri adalah dewasa juga dalam arti RASA yang sebenarnya. Karenanya, sering kita temukan bahwa kalangan dewasa sudah mulai berfikir akan pola hidup sehat dan juga ragam rencana masa depan yang matang. Meski demikian, sisi kekanak-kanakkan seseorang tentu tidak pernah berubah. Selalu saja ada RASA yang mendorong kita untuk sesekali bertingkah ‘aneh’ atau out of the box dari kebanyakan konsep hidup orang dewasa.
Tentang RASA mulai masuk pada masa masak, ibarat telor yang direbus, sudah masak jika sudah ada beberapa bagian kulit telurnya yang retak, adalah pada masa lepas dewasa. Seperti hal nya ketika sudah menjadi orang tua, atau bahkan manula. Ketika menjadi orang tua, maka RASA akan lebih bergeser pada konsep tentang kasih sayang sejati, penghidupan yang layak bagi keluarga, kebahagiaan seluruh anggota keluarga dan harmonisasi. Orang tua tidak akan rela membiarkan anak nya makan makanan yang tidak bersih dan higienis, karena takut sakit perut. Orang tua tidak akan rela melihat anaknya tidak dapat bersekolah dan mengakses fasilitas pendidikan yang layak, seperti mungkin pengalamannya ketika masa dulu. Orang tua akan mengusahakan apapun agar anaknya bisa mempunyai mainan yang bagus, seperti teman-teman nya yang lain. Bahkan, orang tua tak tega melihat anaknya hidup sengsara seperti yang dialaminya. Pasangan yang telah bercerai pun tak tega memperlihatkan kemarahan dan adu perbedaan mereka di depan anaknya, dengan alasan RASA sayang mereka pada buah hati. Itulah RASA kasih sayang sejati, yang bukan hanya diartikan sebagai kasih nya dua insan mencinta yang tengah mabuk asmara, namun lebih dari itu.
Akhirnya, tentang RASA membawaku pada sebuah perenungan, bahwa pada level apapun kita berdiri saat ini, entah anak kecil, remaja, dewasa atau bahkan sebagai orang tua, nikmatilah dengan sikap yang bijak. Bijak menempatkan RASA pada tatarannya masing-masing, tanpa menyalahgunakan RASA yang telah diberikan oleh Allah pada seluruh makhluk ciptaannya di dunia ini.
Wallahu a’lam bisshowab.
Jakarta, 28 Maret 2012
Minggu, 11 Maret 2012
Ego Diri, Kesenangan dan Sikap ‘Acuh’ Pemerintah
Jakarta pagi hari, layaknya kota-kota besar di berbagai penjuru dunia nan padat dengan arus mobilitas warganya. Beraktifitas di bilangan kota, membuatku kembali merasakan ritme moda transportasi yang cukup melelahkan, namun asyik untuk diperhatikan. Kenapa kembali? Ya, sebelumnya aktifitas pergi ke dan pulang dari arah kota telah menjadi bagian dari hidupku selama kurang lebih dua tahun belakangan, ketika memutuskan untuk meneruskan studi di bilangan Salemba. Beberapa bulan kosong dari aktifitas tersebut dan fokus dalam hal lain, membuatku perlu merasakan transisi atmosfer yang berbeda dalam menggunakan dan merasakan moda transportasi publik di ibukota ini. Banyak hal menarik untuk diceritakan selama dalam perjalanan. Perjalanan selalu menghadirkan ide segar, refleksi diri dan hikmah yang perlu diambil oleh tiap individu.
Pagi itu, seperti biasa, moda transportasi yang paling sering aku gunakan kini adalah transJakarta busway. Tak perlu di ragukan lagi mengenai jalur. Jika ingin melewati arah Mampang, kemudian Kuningan dan menuju kota melalui Dukuh Atas, tidak ada transportasi lain yang paling ‘memungkinkan’ cepat sampai, kecuali transJakarta. Yaa selain ojek tentunya ya. Meski demikian, waktu menunggu yang lama, serta potret berdesakan yang lumayan menjengkelkan, masih membuat banyak warga ibu kota yang enggan naik bus satu ini. Akhirnya, potret kemacetan ibu kota pun masih saja belum terselesaikan, meski banyak koridor telah di buka oleh pihak Pemda DKI Jakarta. Kejengkelan warga ibukota untuk menunggu kedatangan transJakarta sudah tiap hari kurasakan. Saking jengkelnya, akhirnya sikap diam sambil mengamati, adalah sikap yang ku pilih. Tulisanku kali ini adalah sedikit refleksi dari pengamatanku.
Hari itu, adalah pagi paling sibuk di ibukota. Ya, apalagi jika bukan Senin pagi? Meski baru melewati tiga halte, bus transJakarta sudah terisi penuh, hingga tak satu pun ruang bisa diisi oleh calon penumpang. Tiba di pemberhentian (halte) ke empat, setelah pintu bus terbuka, ada seorang perempuan yang memaksa masuk untuk bisa cepat sampai di kantornya. Terjadilah percakapan yang cukup seru antara dia dan petugas bus transJakarta. “Mba, udah nggak cukup, jangan dipaksa masuk”, ujarnya. Perempuan itu menjawab “Saya nggak mau tahu mas, saya mau masuk. Saya udah nunggu dari tadi ni”. Sang petugas pun berujar, “Nggak bisa mba, nanti kalau mba masuk, saya mau berdiri di mana?”, kilahnya. Tidak mau kalah dan tetap berpendirian keras untuk masuk, sang perempuan kembali berkata, “Ya saya nggak mau tahu mas. Mas kan bisa di mana kek, di depan sana atau di mana. Saya sudah nunggu dari tadi ni mas, lama banget”. Sang petugas pun diam karena kesal. “Ya sudah, silahkan mba masuk, tapi jangan salahkan saya, karena mba ingin masuk, maka bus nya nggak bisa jalan”, ucap sang petugas. Akhirnya, perempuan muda itu diam seraya menggumam dan menunjukkan sikap kesal nya. Aku yakin, penumpang di transJakarta pun akan menanggapi kejadian tersebut dengan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang kesal melihat tingkah laku sang perempuan, karena telah memperlama laju perjalanan. Ada juga yang prihatin karena alasan dia yang telah menunggu lama untuk kedatangan bus, pernah di rasakan pula oleh banyak penumpang. Aku pribadi, sejujurnya memahami kondisi perempuan tersebut. Bagaimana rasanya ketika kita dikejar waktu untuk bisa sampai di kantor tepat waktu dan dengan menaiki transportasi yang nyaman tiap harinya. Wah, tentunya itu dambaan tiap warga Indonesia bukan? Termasuk juga perempuan muda tadi. Bisa jadi karena saking kesalnya tiap hari ia harus menunggu kedatangan transJakarta yang lama, kemudian bus datang satu per satu dengan kondisi padat penumpang, sehingga ia tidak bisa masuk, titik kekesalan ia pun sampai pada puncaknya.
Tidak heran, jika kemudian kita banyak melihat ‘penunjukkan’ ego diri di sekitar kita hadir. Ucapan perempuan muda di atas, yang tidak mempedulikan akan diletakkan di mana sang petugas transJakarta itu, secara tidak sadar, memperlihatkan kemunculan ego manusia, yang ingin kebutuhan dirinya sendiri terpenuhi, tanpa peduli dengan yang lain. Namun, ego seorang warga juga hadir karena sebab akibat, refleksi kekesalannya. Bayangkan jika tiap hari ia harus di sajikan dengan kondisi serupa, padahal ia telah taat mematuhi anjuran pemerintah untuk naik transportasi publik guna mengurai dan mengurangi kemacetan. Maka, wahai pemerintah, jangan salahkan warga jika jumlah motor yang ada di jalan-jalan Jakarta, ibarat lalat yang mengerumuni makanan. Tentu warga sudah jenuh dan kesal dengan kondisi kemacetan yang ada di ibukota. Naik transJakarta, harus menunggu lama dan selalu penuh di jam-jam sibuk. Naik taksi, sudah barang tentu mahal karena terjebak macet. Naik Kopaja atau Metro Mini, padat dan belum lagi hawa sesak yang hadir. Naik motor, hanya akan semakin memenuhi kota yang sudah penuh dengan polusi kendaraan ini. Pada akhirnya, keberadaan transJakarta busway sebetulnya adalah harapan (walau belum masuk pada tahap solusi) bagi warga ibukota untuk bisa merasakan transportasi yang bebas macet, ber AC dan terjangkau harganya. Sayangnya, pemerintah belum melihat itu sebagai upaya peningkatan rasa nyaman warga dalam menggunakan transportasi publik.
Perempuan muda yang bisa kukatakan sedang mengeluarkan ego diri nya itu, tengah merefleksikan bagaimana sebetulnya ia kesal dengan kondisi transportasi publik di Jakarta, yang belum bisa memberikan janji kenyamanan dan ketepatan waktu. Akhirnya, sudah pasti banyak kita jumpai orang-orang yang mudah tersulut emosi nya di Jakarta, karena ‘makanan’ tiap hari yang disediakan oleh Pemda, belum merefleksikan keberpihakan pada warga nya. Kemacetan dan rasa amarah yang gampang hadir ini mengingatkanku pada obrolan dengan dua teman baikku, yang kujumpai secara terpisah. Satu teman baikku yang berasal dari California, Amerika Serikat mengungkapkan rasa senangnya bisa merasakan hidup dan bekerja di Jakarta. Tugas kantornya yang memungkinkan dia untuk berkeliling daerah di Indonesia, membuatnya dapat menggambarkan argumen pribadinya padaku, antara tinggal di Jakarta dan luar Jakarta. Dalam aksen bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata, ia mengatakan bahwa orang-orang di Jakarta memang mengasyikkan. Namun, orang-orang di daerah-daerah yang saya kunjungi lebih mengasyikkan, karena keramahan mereka. Berbeda dengan warga ibukota, ia berpendapat bahwa kadang warga ibukota itu tidak ramah, mementingkan diri sendiri dan hidup masing-masing. Yah, bisa dikatakan bahwa teman baikku ini menganggap bahwa warga ibukota itu selfish. Memang benar adanya. Psikologis warga negara ibukota jelas berbeda dengan warga di daerah. Bisa jadi ke-aku-an warga ibu kota itu, terjadi karena ‘bentukan’ sikap acuh pemerintah. Akumulasi kekesalan warga terefleksi dengan kekecewaan-kekecewaan mereka, seperti salah satunya masalah kemacetan yang di ceritakan juga oleh teman baikku lainnya, yang berasal dari Bangkok, Thailand.
Dengan sedikit senyum dan nada kecewa, ia ungkapkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta terasa lebih parah, dibanding dengan beberapa bulan lalu ketika ia mengunjungi Jakarta untuk menjadi pembicara di salah satu konferensi muslim internasional. Meski demikian, ia mengatakan bahwa Indonesia selalu membuatnya kangen, bahkan anak lelaki nya pun tak lelah untuk mengingatkan bapaknya, yang juga teman baikku ini, untuk membelikannya Indomie goreng rasa rendang di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sang bapak membelikannya dua kardus Indomie sekaligus untuknya. Yaaa, Indonesia, khususnya Jakarta, memang banyak menyimpan cerita dan kenangan. Meski capek menghadapi kemacetan yang tak kunjung terselesaikan di Jakarta, ada saja rasa kangen pada kota ini ketika pergi ke tempat yang berbeda.
Sikap kecewa warga akan rasa nyaman yang diberikan Pemda, nampaknya menggiring warga ibukota untuk mencari kesenangan ‘ala’ mereka pribadi. Persis seperti kejadian kemarin sore yang kualami di bilangan Kalibata, tepatnya di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sore itu, setelah menyapa dan mengajar anak-anak nan lucu serta bersemangat di bilangan Rawajati-Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, aku menaiki angkutan umum yang langsung menuju arah rumahku. Di perjalanan, kondisi sore akhir pekan sudah tentu menghadirkan kemacetan. Nah, di sela kemacetan itu aku mengamati sekian keluarga yang jumlahnya mencapai 10-15 keluarga, tengah memarkir motor mereka masing-masing di parkiran luar TMP Kalibata. Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka (ada yang masih berusia 2-3 tahun, bahkan ada juga yang sudah memasuki SD). Awalnya aku bertanya, mau apa mereka parkir di sekitar TMP ya? akhirnya, setelah kuamati, ternyata mereka membawa keluarga kecilnya ke sana untuk melihat rusa yang ada di lingkungan TMP Kalibata. Rusa-rusa itu nampak menggemaskan memang, layaknya rusa yang ada di DPR dan kebun raya Bogor. Tidak hanya melihat rusa, namun banyak nya pedagang yang berjualan di sekitar TMP pada akhir pekan (keramaiannya ibarat kebun binatang), memungkinkan para keluarga kecil itu untuk hanya sekedar bersenda gurau sambil melihat rusa, atau juga memang sebagai sarana hiburan akhir pekan. Ya, di banding pergi ke mall, tentu melihat rusa dengan keluarga lebih asyik. Sudah tidak keluar kocek mahal untuk makan yang biasanya kena pajak restoran, gratis pula melihat rusa-nya.
Tidak hanya pengunjung yang makan, namun rusa pun diberi makan oleh pengunjung, terutama anak-anak mereka yang sedang dalam masa emas dan tertarik segala sesuatu, termasuk memberi makan rusa. Akhirnya, warga sekitar yang entah dari mana asalnya, mengggunakan kesempatan itu untuk menjual wortel guna pakan sang rusa. Sejujurnya aku baru melihat rusa makan wortel. Aku pun tidak tahu, apakah sebenarnya wortel itu sehat bagi rusa-rusa itu? Yang penting bagi pengunjung adalah, toh rusa-nya senang di kasih makan wortel, dan di lahap juga olehnya. Lama kuamati dan kuberfikir, pencarian kesenangan ini tentu inisiatif mereka pribadi, di tengah maraknya pembangunan mall di Jakarta yang kian mengikis lahan kosong di DKI Jakarta. Pemerintah toh bukannya malah membangun kebun binatang lagi. Padahal, kebun binatang di Ragunan, Jakarta Selatan itu sudah penuh dan ibarat lautan manusia jika akhir pekan. Tentu pembuatan satu kebun binatang lagi akan sangat bermanfaat. Ke mana lagi warga ibukota mencari kesenagan? pergi ke taman, kita bisa lihat bagaimana bentuk Taman Menteng yang katanya menelan harga miliaran itu. Sungguh tidak bisa menyalurkan dan memberikan kesenangan bagi warga. Yang ada, taman itu hanya bagus untuk dilihat (meski menurutku tidak), daripada untuk dinikmati. Jika demikian, salahkah warga ibukota jika mereka akhirnya mencari kesenangan ‘ala’ mereka? Di satu sisi, aku mengkhawatirkan kondisi rusa-rusa itu yang diberi makan apapun dari pengunjung. Di satu sisi, warga ibu kota pun butuh fasilitas penyegaran dan hiburan alami, setelah lima hari berkutat dalam aktifitas kantor masing-masing yang memusingkan.
Semoga saja rasa ego diri dan pencarian kesenangan ‘ala’ pribadi ini bisa menggugah hati pejabat/ Pemda untuk kemudian LEBIH memikirkan kondisi warga nya, dibanding terus memberikan izin untuk pembangunan mall atau square-square lainnya, seperti yang ada di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
12 Maret 2012
Ana Sabhana Azmy
Pagi itu, seperti biasa, moda transportasi yang paling sering aku gunakan kini adalah transJakarta busway. Tak perlu di ragukan lagi mengenai jalur. Jika ingin melewati arah Mampang, kemudian Kuningan dan menuju kota melalui Dukuh Atas, tidak ada transportasi lain yang paling ‘memungkinkan’ cepat sampai, kecuali transJakarta. Yaa selain ojek tentunya ya. Meski demikian, waktu menunggu yang lama, serta potret berdesakan yang lumayan menjengkelkan, masih membuat banyak warga ibu kota yang enggan naik bus satu ini. Akhirnya, potret kemacetan ibu kota pun masih saja belum terselesaikan, meski banyak koridor telah di buka oleh pihak Pemda DKI Jakarta. Kejengkelan warga ibukota untuk menunggu kedatangan transJakarta sudah tiap hari kurasakan. Saking jengkelnya, akhirnya sikap diam sambil mengamati, adalah sikap yang ku pilih. Tulisanku kali ini adalah sedikit refleksi dari pengamatanku.
Hari itu, adalah pagi paling sibuk di ibukota. Ya, apalagi jika bukan Senin pagi? Meski baru melewati tiga halte, bus transJakarta sudah terisi penuh, hingga tak satu pun ruang bisa diisi oleh calon penumpang. Tiba di pemberhentian (halte) ke empat, setelah pintu bus terbuka, ada seorang perempuan yang memaksa masuk untuk bisa cepat sampai di kantornya. Terjadilah percakapan yang cukup seru antara dia dan petugas bus transJakarta. “Mba, udah nggak cukup, jangan dipaksa masuk”, ujarnya. Perempuan itu menjawab “Saya nggak mau tahu mas, saya mau masuk. Saya udah nunggu dari tadi ni”. Sang petugas pun berujar, “Nggak bisa mba, nanti kalau mba masuk, saya mau berdiri di mana?”, kilahnya. Tidak mau kalah dan tetap berpendirian keras untuk masuk, sang perempuan kembali berkata, “Ya saya nggak mau tahu mas. Mas kan bisa di mana kek, di depan sana atau di mana. Saya sudah nunggu dari tadi ni mas, lama banget”. Sang petugas pun diam karena kesal. “Ya sudah, silahkan mba masuk, tapi jangan salahkan saya, karena mba ingin masuk, maka bus nya nggak bisa jalan”, ucap sang petugas. Akhirnya, perempuan muda itu diam seraya menggumam dan menunjukkan sikap kesal nya. Aku yakin, penumpang di transJakarta pun akan menanggapi kejadian tersebut dengan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang kesal melihat tingkah laku sang perempuan, karena telah memperlama laju perjalanan. Ada juga yang prihatin karena alasan dia yang telah menunggu lama untuk kedatangan bus, pernah di rasakan pula oleh banyak penumpang. Aku pribadi, sejujurnya memahami kondisi perempuan tersebut. Bagaimana rasanya ketika kita dikejar waktu untuk bisa sampai di kantor tepat waktu dan dengan menaiki transportasi yang nyaman tiap harinya. Wah, tentunya itu dambaan tiap warga Indonesia bukan? Termasuk juga perempuan muda tadi. Bisa jadi karena saking kesalnya tiap hari ia harus menunggu kedatangan transJakarta yang lama, kemudian bus datang satu per satu dengan kondisi padat penumpang, sehingga ia tidak bisa masuk, titik kekesalan ia pun sampai pada puncaknya.
Tidak heran, jika kemudian kita banyak melihat ‘penunjukkan’ ego diri di sekitar kita hadir. Ucapan perempuan muda di atas, yang tidak mempedulikan akan diletakkan di mana sang petugas transJakarta itu, secara tidak sadar, memperlihatkan kemunculan ego manusia, yang ingin kebutuhan dirinya sendiri terpenuhi, tanpa peduli dengan yang lain. Namun, ego seorang warga juga hadir karena sebab akibat, refleksi kekesalannya. Bayangkan jika tiap hari ia harus di sajikan dengan kondisi serupa, padahal ia telah taat mematuhi anjuran pemerintah untuk naik transportasi publik guna mengurai dan mengurangi kemacetan. Maka, wahai pemerintah, jangan salahkan warga jika jumlah motor yang ada di jalan-jalan Jakarta, ibarat lalat yang mengerumuni makanan. Tentu warga sudah jenuh dan kesal dengan kondisi kemacetan yang ada di ibukota. Naik transJakarta, harus menunggu lama dan selalu penuh di jam-jam sibuk. Naik taksi, sudah barang tentu mahal karena terjebak macet. Naik Kopaja atau Metro Mini, padat dan belum lagi hawa sesak yang hadir. Naik motor, hanya akan semakin memenuhi kota yang sudah penuh dengan polusi kendaraan ini. Pada akhirnya, keberadaan transJakarta busway sebetulnya adalah harapan (walau belum masuk pada tahap solusi) bagi warga ibukota untuk bisa merasakan transportasi yang bebas macet, ber AC dan terjangkau harganya. Sayangnya, pemerintah belum melihat itu sebagai upaya peningkatan rasa nyaman warga dalam menggunakan transportasi publik.
Perempuan muda yang bisa kukatakan sedang mengeluarkan ego diri nya itu, tengah merefleksikan bagaimana sebetulnya ia kesal dengan kondisi transportasi publik di Jakarta, yang belum bisa memberikan janji kenyamanan dan ketepatan waktu. Akhirnya, sudah pasti banyak kita jumpai orang-orang yang mudah tersulut emosi nya di Jakarta, karena ‘makanan’ tiap hari yang disediakan oleh Pemda, belum merefleksikan keberpihakan pada warga nya. Kemacetan dan rasa amarah yang gampang hadir ini mengingatkanku pada obrolan dengan dua teman baikku, yang kujumpai secara terpisah. Satu teman baikku yang berasal dari California, Amerika Serikat mengungkapkan rasa senangnya bisa merasakan hidup dan bekerja di Jakarta. Tugas kantornya yang memungkinkan dia untuk berkeliling daerah di Indonesia, membuatnya dapat menggambarkan argumen pribadinya padaku, antara tinggal di Jakarta dan luar Jakarta. Dalam aksen bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata, ia mengatakan bahwa orang-orang di Jakarta memang mengasyikkan. Namun, orang-orang di daerah-daerah yang saya kunjungi lebih mengasyikkan, karena keramahan mereka. Berbeda dengan warga ibukota, ia berpendapat bahwa kadang warga ibukota itu tidak ramah, mementingkan diri sendiri dan hidup masing-masing. Yah, bisa dikatakan bahwa teman baikku ini menganggap bahwa warga ibukota itu selfish. Memang benar adanya. Psikologis warga negara ibukota jelas berbeda dengan warga di daerah. Bisa jadi ke-aku-an warga ibu kota itu, terjadi karena ‘bentukan’ sikap acuh pemerintah. Akumulasi kekesalan warga terefleksi dengan kekecewaan-kekecewaan mereka, seperti salah satunya masalah kemacetan yang di ceritakan juga oleh teman baikku lainnya, yang berasal dari Bangkok, Thailand.
Dengan sedikit senyum dan nada kecewa, ia ungkapkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta terasa lebih parah, dibanding dengan beberapa bulan lalu ketika ia mengunjungi Jakarta untuk menjadi pembicara di salah satu konferensi muslim internasional. Meski demikian, ia mengatakan bahwa Indonesia selalu membuatnya kangen, bahkan anak lelaki nya pun tak lelah untuk mengingatkan bapaknya, yang juga teman baikku ini, untuk membelikannya Indomie goreng rasa rendang di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sang bapak membelikannya dua kardus Indomie sekaligus untuknya. Yaaa, Indonesia, khususnya Jakarta, memang banyak menyimpan cerita dan kenangan. Meski capek menghadapi kemacetan yang tak kunjung terselesaikan di Jakarta, ada saja rasa kangen pada kota ini ketika pergi ke tempat yang berbeda.
Sikap kecewa warga akan rasa nyaman yang diberikan Pemda, nampaknya menggiring warga ibukota untuk mencari kesenangan ‘ala’ mereka pribadi. Persis seperti kejadian kemarin sore yang kualami di bilangan Kalibata, tepatnya di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sore itu, setelah menyapa dan mengajar anak-anak nan lucu serta bersemangat di bilangan Rawajati-Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, aku menaiki angkutan umum yang langsung menuju arah rumahku. Di perjalanan, kondisi sore akhir pekan sudah tentu menghadirkan kemacetan. Nah, di sela kemacetan itu aku mengamati sekian keluarga yang jumlahnya mencapai 10-15 keluarga, tengah memarkir motor mereka masing-masing di parkiran luar TMP Kalibata. Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka (ada yang masih berusia 2-3 tahun, bahkan ada juga yang sudah memasuki SD). Awalnya aku bertanya, mau apa mereka parkir di sekitar TMP ya? akhirnya, setelah kuamati, ternyata mereka membawa keluarga kecilnya ke sana untuk melihat rusa yang ada di lingkungan TMP Kalibata. Rusa-rusa itu nampak menggemaskan memang, layaknya rusa yang ada di DPR dan kebun raya Bogor. Tidak hanya melihat rusa, namun banyak nya pedagang yang berjualan di sekitar TMP pada akhir pekan (keramaiannya ibarat kebun binatang), memungkinkan para keluarga kecil itu untuk hanya sekedar bersenda gurau sambil melihat rusa, atau juga memang sebagai sarana hiburan akhir pekan. Ya, di banding pergi ke mall, tentu melihat rusa dengan keluarga lebih asyik. Sudah tidak keluar kocek mahal untuk makan yang biasanya kena pajak restoran, gratis pula melihat rusa-nya.
Tidak hanya pengunjung yang makan, namun rusa pun diberi makan oleh pengunjung, terutama anak-anak mereka yang sedang dalam masa emas dan tertarik segala sesuatu, termasuk memberi makan rusa. Akhirnya, warga sekitar yang entah dari mana asalnya, mengggunakan kesempatan itu untuk menjual wortel guna pakan sang rusa. Sejujurnya aku baru melihat rusa makan wortel. Aku pun tidak tahu, apakah sebenarnya wortel itu sehat bagi rusa-rusa itu? Yang penting bagi pengunjung adalah, toh rusa-nya senang di kasih makan wortel, dan di lahap juga olehnya. Lama kuamati dan kuberfikir, pencarian kesenangan ini tentu inisiatif mereka pribadi, di tengah maraknya pembangunan mall di Jakarta yang kian mengikis lahan kosong di DKI Jakarta. Pemerintah toh bukannya malah membangun kebun binatang lagi. Padahal, kebun binatang di Ragunan, Jakarta Selatan itu sudah penuh dan ibarat lautan manusia jika akhir pekan. Tentu pembuatan satu kebun binatang lagi akan sangat bermanfaat. Ke mana lagi warga ibukota mencari kesenagan? pergi ke taman, kita bisa lihat bagaimana bentuk Taman Menteng yang katanya menelan harga miliaran itu. Sungguh tidak bisa menyalurkan dan memberikan kesenangan bagi warga. Yang ada, taman itu hanya bagus untuk dilihat (meski menurutku tidak), daripada untuk dinikmati. Jika demikian, salahkah warga ibukota jika mereka akhirnya mencari kesenangan ‘ala’ mereka? Di satu sisi, aku mengkhawatirkan kondisi rusa-rusa itu yang diberi makan apapun dari pengunjung. Di satu sisi, warga ibu kota pun butuh fasilitas penyegaran dan hiburan alami, setelah lima hari berkutat dalam aktifitas kantor masing-masing yang memusingkan.
Semoga saja rasa ego diri dan pencarian kesenangan ‘ala’ pribadi ini bisa menggugah hati pejabat/ Pemda untuk kemudian LEBIH memikirkan kondisi warga nya, dibanding terus memberikan izin untuk pembangunan mall atau square-square lainnya, seperti yang ada di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
12 Maret 2012
Ana Sabhana Azmy
Kamis, 16 Februari 2012
Wajah Damai Para Penerus Bangsa
Dua hari belakangan ini aku memperhatikan dua buah kejadian yang menghampiri diriku. Kejadian pertama bisa dibilang sebagai hal yang mengecewakan. Bagaimana tidak? Keputusanku siang menjelang sore hari itu untuk naik bus trans Jakarta busway guna mengejar waktu tiba di kantor, pupus sudah. Meski jam kantor ku sangat fleksibel karena ditugasi deadline tulisan yang tak mewajibkanku berada di kantor seharian, namun sore itu aku mempunyai janji dengan salah seorang buruh migran perempuan. Sang buruh migran ingin menyampaikan sejumlah cerita hidupnya ketika menjadi PRT migran di China. Suara gaduh dan panik para penumpang trans Jakarta, membuyarkan lamunanku akan konsep cerita yang akan dipaparkan oleh PRT migran asli NTB tersebut. Jeritan para penumpang yang disebabkan oleh suara letupan gas di bagian pintu belakang trans Jakarta, membuatku ikut panik dan memutuskan untuk langsung loncat dari pintu bus yang telah terbuka.
Asap pun memenuhi ruangan dalam bus. Meski tidak terjadi kebakaran seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, namun tetap saja seluruh penumpang memutuskan untuk loncat. Kebayang kan, bagaimana jadinya untuk sebagian perempuan yang mungkin kala itu memakai sepatu hak tinggi atau selop, hadeuh..
Loncatan untuk sampai pada dasar tanah berpijak lumayan tinggi, terutama untuk seorang ibu-ibu yang aku prediksi berumur 50 tahun-nan itu. Ya, setelah sebagian dari kami di tolong untuk naik ke halte trans Jakarta, ada seorang ibu-ibu tua yang mengeluh kesakitan kakinya, setelah loncat dari badan dalam bus. Di samping ibu tua itu, nampak temannya dan seorang anak muda berseragam putih abu-abu. Dengan cekatan, sang pemuda yang sepertinya duduk di bangku kelas dua SMA itu, menanyakan kondisi kaki sang ibu serta menenangkan kepanikan sang ibu. Aku sendiri berdiri di hadapan mereka bertiga dan masih dengan kondisi kaki yang keram setelah meloncat karena panik.
Aku tidak habis fikir, mengapa pihak Pemda DKI Jakarta tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan lalu mengenai keselamatan para penumpang trans Jakarta busway. Masih ingat kejadian terbakarnya bus trans Jakarta di bilangan Blok M? Kepanikan dan bayangan itulah yang bisa jadi menggelayuti segenap penumpang trans Jakarta busway hari itu. Semestinya, baik supir maupun petugas busway bisa menenangkan suasana di dalam bus. Lebih wajib lagi untuk pihak trans Jakarta mematuhi aturan yang mereka buat sendiri, yaitu memastikan bahwa bus layak jalan sebelum mengangkut penumpang. Terlebih, konsisten dengan asuransi yang telah mereka tulis di tiap karcis yang ada, bahwa ‘harga tiket trans Jakarta sudah termasuk asuransi Jasa Raharja’. Apa sang ibu mendapat asuransi karena kelalaian petugas yang tidak bisa melindungi penumpang bus? Lepas dari itu, perhatianku tertuju pada sang pemuda, anak SMA yang sama sekali beda dari mayoritas kebiasaan teman sebayanya. Banyak di kalangan anak SMA yang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Tidak hanya anak SMA, namun seluruh generasi muda bangsa ini.
Setelah sang ibu meraung tanda kesakitan yang amat, kaki nya pun tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk berjalan dan menapakkan kaki pun ia tidak bisa. Akhirnya sang pemuda tersebut menuntun sang ibu, berbarengan dengan satu teman dari ibu itu. Subhanallah, aku terharu akan kebaikan hati anak SMA itu. Jarang sekali aku melihat potret generasi muda seperti itu, terlebih di kota kosmopolitan seperti Jakarta. Sepintas aku lihat bahwa sang ibu sudah tidak kuasa lagi menahan rasa sakitnya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha nya berjalan. Pemuda tadi pun masih setia menunggui sang ibu seraya mengajaknya berbicara. Rasa bangga pun menyelimuti diri ini, melihat generasi muda bangsa yang mempunyai kepedulian dengan sesama.
Kejadian kedua yang kualami adalah di sore hari ini. Merupakan kebiasaanku untuk naik bemo sepulang dari perpustakaan Freedom Insitute di depan kawasan Tugu Proklamasi. Bagiku, banyak hal bisa kuamati ketika naik bemo. Susunan duduk yang berhadapan dan langsung melihat ke luar, semakin menjadikan perjalanan ini menyenangkan. Bayangkan, kita bisa mengamati kemacetan Jakarta di sore hari, lengkap dengan potret asap polusi kendaraan yang membuat hidung gatal juga menahan nafas. Hehe.
Kejadian yang kemudian juga menyedot perhatianku adalah, bahwa sang supir bemo merupakan pemuda berumur 19 tahun (setelah kutanyakan umurnya, seraya mengajak ngobrol). Dengan semangat 45, ia mengemudikan bemo itu, yang bisa saja kepunyaan bapak nya atau keluarganya. Parahnya lagi, di tengah suasana asyik menikmati Jakarta di sore hari menjelang maghrib, ternyata bemo yang kami tumpangi pun mogok. Setelah cukup lama sang pemuda mencoba men-starter mesin bemo nya dan tidak ada hasil, maka kami, seluruh penumpang nya memutuskan untuk turun dan menunggu bemo lainnya. Sebagian dari kami memutuskan untuk membayar ongkos naik pada sang pemuda, meski tujuan akhir belum di capai. Awalnya ia menolak bayaran dari kami, mungkin karena ia merasa bahwa tugasnya untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan akhir nya masing-masing, belum tercapai. Namun, setelah dipaksa oleh penumpang, akhirnya ia pun mengambil uang yang kami sodorkan.
Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk memperbaiki mesin bemo nya sendirian. Akhirnya, mungkin kami (beberapa penumpangnya) masih berjodoh dengan bemo itu. Sang pemuda berhasil membetulkan bemo nya dan memanggil kami kembali untuk naik. Subhanallah... meski umurnya sudah mencapai 19 tahun, namun tetap saja, bagiku ia sudah berjuang untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak itu saja, ia bertanggung jawab pada penumpangnya dengan mengajak para penumpang kembali naik setelah mesin bemo nya menyala. Jarang lho ada supir bemo anak muda dan mempunyai sikap seperti itu, ya kan?
alih-alih penumpang diperbolehkan tidak membayar ongkos bemo karena mesin mogok, beberapa supir lain sore yang pernah kutemui malah meminta agar seluruh penumpang membayar ongkos bemo yang dinaiki.
Dua kejadian yang kualami itu, membawaku pada sebuah perenungan, alangkah indahnya jika generasi muda bangsa mempunyai sikap, semangat dan prilaku yang baik seperti dua pemuda yang ku temui. Meski arus globalisasi menjadikan tiada batas antara arus informasi, gempuran akan budaya barat dan berbagai gaya hidup keduniawian lainnya yang melanda generasi muda, namun karakter bangsa haruslah tetap di pertahankan. Semoga wajah damai itu tetap terjaga untuk seluruh generasi penerus bangsa.
Jakarta, 16 Februari 2012.
Asap pun memenuhi ruangan dalam bus. Meski tidak terjadi kebakaran seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, namun tetap saja seluruh penumpang memutuskan untuk loncat. Kebayang kan, bagaimana jadinya untuk sebagian perempuan yang mungkin kala itu memakai sepatu hak tinggi atau selop, hadeuh..
Loncatan untuk sampai pada dasar tanah berpijak lumayan tinggi, terutama untuk seorang ibu-ibu yang aku prediksi berumur 50 tahun-nan itu. Ya, setelah sebagian dari kami di tolong untuk naik ke halte trans Jakarta, ada seorang ibu-ibu tua yang mengeluh kesakitan kakinya, setelah loncat dari badan dalam bus. Di samping ibu tua itu, nampak temannya dan seorang anak muda berseragam putih abu-abu. Dengan cekatan, sang pemuda yang sepertinya duduk di bangku kelas dua SMA itu, menanyakan kondisi kaki sang ibu serta menenangkan kepanikan sang ibu. Aku sendiri berdiri di hadapan mereka bertiga dan masih dengan kondisi kaki yang keram setelah meloncat karena panik.
Aku tidak habis fikir, mengapa pihak Pemda DKI Jakarta tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan lalu mengenai keselamatan para penumpang trans Jakarta busway. Masih ingat kejadian terbakarnya bus trans Jakarta di bilangan Blok M? Kepanikan dan bayangan itulah yang bisa jadi menggelayuti segenap penumpang trans Jakarta busway hari itu. Semestinya, baik supir maupun petugas busway bisa menenangkan suasana di dalam bus. Lebih wajib lagi untuk pihak trans Jakarta mematuhi aturan yang mereka buat sendiri, yaitu memastikan bahwa bus layak jalan sebelum mengangkut penumpang. Terlebih, konsisten dengan asuransi yang telah mereka tulis di tiap karcis yang ada, bahwa ‘harga tiket trans Jakarta sudah termasuk asuransi Jasa Raharja’. Apa sang ibu mendapat asuransi karena kelalaian petugas yang tidak bisa melindungi penumpang bus? Lepas dari itu, perhatianku tertuju pada sang pemuda, anak SMA yang sama sekali beda dari mayoritas kebiasaan teman sebayanya. Banyak di kalangan anak SMA yang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Tidak hanya anak SMA, namun seluruh generasi muda bangsa ini.
Setelah sang ibu meraung tanda kesakitan yang amat, kaki nya pun tidak bisa digerakkan. Bahkan untuk berjalan dan menapakkan kaki pun ia tidak bisa. Akhirnya sang pemuda tersebut menuntun sang ibu, berbarengan dengan satu teman dari ibu itu. Subhanallah, aku terharu akan kebaikan hati anak SMA itu. Jarang sekali aku melihat potret generasi muda seperti itu, terlebih di kota kosmopolitan seperti Jakarta. Sepintas aku lihat bahwa sang ibu sudah tidak kuasa lagi menahan rasa sakitnya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha nya berjalan. Pemuda tadi pun masih setia menunggui sang ibu seraya mengajaknya berbicara. Rasa bangga pun menyelimuti diri ini, melihat generasi muda bangsa yang mempunyai kepedulian dengan sesama.
Kejadian kedua yang kualami adalah di sore hari ini. Merupakan kebiasaanku untuk naik bemo sepulang dari perpustakaan Freedom Insitute di depan kawasan Tugu Proklamasi. Bagiku, banyak hal bisa kuamati ketika naik bemo. Susunan duduk yang berhadapan dan langsung melihat ke luar, semakin menjadikan perjalanan ini menyenangkan. Bayangkan, kita bisa mengamati kemacetan Jakarta di sore hari, lengkap dengan potret asap polusi kendaraan yang membuat hidung gatal juga menahan nafas. Hehe.
Kejadian yang kemudian juga menyedot perhatianku adalah, bahwa sang supir bemo merupakan pemuda berumur 19 tahun (setelah kutanyakan umurnya, seraya mengajak ngobrol). Dengan semangat 45, ia mengemudikan bemo itu, yang bisa saja kepunyaan bapak nya atau keluarganya. Parahnya lagi, di tengah suasana asyik menikmati Jakarta di sore hari menjelang maghrib, ternyata bemo yang kami tumpangi pun mogok. Setelah cukup lama sang pemuda mencoba men-starter mesin bemo nya dan tidak ada hasil, maka kami, seluruh penumpang nya memutuskan untuk turun dan menunggu bemo lainnya. Sebagian dari kami memutuskan untuk membayar ongkos naik pada sang pemuda, meski tujuan akhir belum di capai. Awalnya ia menolak bayaran dari kami, mungkin karena ia merasa bahwa tugasnya untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan akhir nya masing-masing, belum tercapai. Namun, setelah dipaksa oleh penumpang, akhirnya ia pun mengambil uang yang kami sodorkan.
Ia membutuhkan waktu beberapa menit untuk memperbaiki mesin bemo nya sendirian. Akhirnya, mungkin kami (beberapa penumpangnya) masih berjodoh dengan bemo itu. Sang pemuda berhasil membetulkan bemo nya dan memanggil kami kembali untuk naik. Subhanallah... meski umurnya sudah mencapai 19 tahun, namun tetap saja, bagiku ia sudah berjuang untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak itu saja, ia bertanggung jawab pada penumpangnya dengan mengajak para penumpang kembali naik setelah mesin bemo nya menyala. Jarang lho ada supir bemo anak muda dan mempunyai sikap seperti itu, ya kan?
alih-alih penumpang diperbolehkan tidak membayar ongkos bemo karena mesin mogok, beberapa supir lain sore yang pernah kutemui malah meminta agar seluruh penumpang membayar ongkos bemo yang dinaiki.
Dua kejadian yang kualami itu, membawaku pada sebuah perenungan, alangkah indahnya jika generasi muda bangsa mempunyai sikap, semangat dan prilaku yang baik seperti dua pemuda yang ku temui. Meski arus globalisasi menjadikan tiada batas antara arus informasi, gempuran akan budaya barat dan berbagai gaya hidup keduniawian lainnya yang melanda generasi muda, namun karakter bangsa haruslah tetap di pertahankan. Semoga wajah damai itu tetap terjaga untuk seluruh generasi penerus bangsa.
Jakarta, 16 Februari 2012.
Minggu, 12 Februari 2012
PARTNER hidupmu adalah Cinta Sejatimu..
Rasanya tangan ini tidak sabar untuk menuliskan kejadian yang kualami dan kudengar sore ini. Minggu siang adalah hari yang paling indah bagiku. Bukan karena bertemu dengan sang pujaan hati seperti kebanyakan anak muda masa kini, namun tiap hari itulah aku bersama beberapa temanku mengikuti kursus politik. Setelah belajar selama beberapa jam, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Beberapa temanku langsung berpamitan pada tutor kami yang sangat aktif di sebuah gerakan. Wajahnya yang ayu, semangat nya untuk terjun langsung menangani sejumlah problematika perempuan Indonesia serta tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik kondisi bangsa ini, adalah atmosfer yang sangat kami sukai. Melalui pendekatan historisitas lah dia menunjukkan serangkaian sejarah awal mula gerakan perempuan dan perjuangan feminisme dalam kacamata politik dan perspektif lainnya.
Setelah beberapa teman berpamitan, tinggallah aku dan satu orang temanku yang ditugasi sebagai koordinator kursus politik ini. Temanku pun masih harus menindaklanjuti sejumlah referensi yang akan digunakan untuk kursus minggu depan, seraya memintaku untuk menunggunya. Sambil menunggu, aku memutuskan untuk shalat Ashar terlebih dahulu. Selesai shalat, aku berkaca dan melihat sejumlah koleksi foto-foto kenangan ia dan almarhum suaminya yang terpajang di atas sebuah meja nan tinggi. Dengan sedikit ragu karena takut membuka kesedihan masa lalu setelah ditinggalkan suaminya, aku pun memberanikan diri untuk menanyakan pengalamannya melalui sebuah fase kehidupan dengan sang suami. Keingintahuanku bukan tanpa alasan. Saat ia memberikan satu buku sebagai salah satu referensi kami, ia menekankan untuk menjaga buku tersebut dengan baik. Usut punya usut, ternyata dalam buku itu, terdapat beberapa artikel, yang diantaranya adalah tulisannya dan tulisan sang suami. Ragu yang sempat sedikit singgah dihatiku untuk bertanya, berubah menjadi tenang. Tanpa ku duga, wajahnya seakan sumringah dan riang ketika ku tanya mengenai almarhum suaminya yang meninggal di tahun 2006. Hal itu nampak jelas dari ekspresi wajah yang ia tunjukkan pada kami berdua.
Aku pun memutuskan untuk membuka pertanyaan ku dengan sebuah kalimat ‘mba, almarhum suamimu seorang aktifis ya?’. Ia pun menjawab ‘ia lebih dari sekedar seorang aktifis’. Sebuah jawaban yang sangat singkat dan sarat dengan unsur perasaan sayang terdalam. Tanpa ku keluarkan pertanyaan kedua, ia pun menceritakan kehidupan yang ia jalani selama kurang lebih 11 tahun dengan sang suami dengan sangat lancar. Jarak umur yang terbilang cukup jauh, ternyata tidak menjadi penghalang bagi sebuah keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga. Ia sangat mengagumi sang suami yang merupakan aktifis di zaman orde baru, mantan tahanan politik, mempunyai pengalaman menjadi jurnalis di salah satu media nasional, pernah menjadi anggota DPR termuda dengan usia 26 tahun. Diantara semuanya, satu hal yang sangat ia banggakan akan figur suaminya, bahwa sang suami menganggap sang istri sebagai partner hidup, bukan seorang istri yang letaknya subordinatif di bawah suami, yang bisa disuruh dan di siksa serta di maki kapanpun, persis seperti banyaknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Indonesia.
Sikap sang suami yang sangat memahami semangat nya dalam memperjuangkan perempuan Indonesia dan kaum buruh, menjadi amunisi baginya dalam menjalani hidup. Ia berkata bahwa ia seakan tidak peduli dengan hidup mereka yang sederhana dan tidak bermewah-mewahan. Baginya, sebuah karunia Allah karena telah mempertemukannya dengan sang suami yang asli Jawa Timur itu, sudah lebih dari cukup. Bahkan, suami memberi dukungan penuh ketika sang istri menjadi ketua sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan dan perlindungan perempuan. Status sebagai aktifis dan mantan tahanan politik yang mempunyai konsep berfikir yang sangat baik dan dahsyat, membuat tutorku ini menyebutnya sebagai sang ensiklopedia. Hari-hari mereka berdua, dilalui dengan aktif menulis, bercengkerama tentang suatu hal yang serius dan bahkan tidak serius. Meski mempunyai lokus perjuangan yang berbeda, tutorku mengatakan bahwa mereka berdua sangat gemar menulis, bahkan mempunyai tempat masing-masing di rumah nya untuk menulis sejumlah tulisan kritis dan membangun.
Berdasarkan cerita sang istri, perlakuan lembutnya pada perempuan tunjukkan nya dengan menyalahkan beberapa teman sang suami yang mengatakan bahwa kepintaran isteri adalah bentukan dan tempaan dari suami. Dengan semangat 45, sang suami memaparkan pada teman-temannya bahwa si istri memang sudah sangat pintar dan mempunyai wawasan nan luas, jauh sebelum mereka berdua berkenalan. Anggapan sejumlah temannya bahwa perempuan tidak bisa apa-apa tanpa ‘bentukan’ sang suami, dipatahkan oleh sang suami sendiri, tanpa disuruh oleh tutorku ini. Bahkan, sang suami mendukung isterinya untuk terbiasa berdiskusi kritis dengan teman-teman seperjuangannya, yang kerap di sebut dengan panggilan generasi lama. Jangan salah lho ya, kita harus mengakui bahwa generasi lama Indonesia (baik yang hidup ketika orde lama, orde baru dan hingga reformasi baru bergulir di tahun 98) adalah generasi yang sangat berkualitas. Bersikap kritis dan pandai berdiskusi dengan baik serta menguasai konsep teori dengan utuh dan mendalam. Tidak bisa kita samakan dengan generasi baru saat ini, di era reformasi, yang kebanyakan tidak mempunyai kepedulian terhadap sesama dan kegemaran untuk berdiskusi. Mungkin kita pun dapat bertanya pada diri sendiri, termasuk tipe generasi yang manakah kita ini?
Cerita berlanjut pada bulan-bulan terakhir ia hidup dengan suaminya. Tutorku ini bercerita bahwa segala sesuatunya seakan sudah di atur oleh Tuhan menjelang kematiannya. Tiga bulan pertama, sang suami sedikit kesusahan untuk berbicara pada siapapun, termasuk sang istri. Meski keadaan hidup sangat sederhana, sang isteri tidak merasa kesusahan sedikitpun dan juga tidak merasa terbebani dengan keadaan suami yang sudah mengkhawatirkan. Namun, si isteri mengakui bahwa saat-saat itu adalah saat yang berat dalam hidupnya. Rasa keheningan pun ia alami. Hari yang biasa diisi dengan obrolan ringan, diskusi dan kebersamaan, seakan meredup baginya. Hingga dua minggu sebelum kematian sang suami, isteri menceritakan bahwa sikap suami sangatlah perhatian dan benar-benar menunjukkan kasih sayangnya. Suatu hari, ia menyatakan rasa cintanya pada sang isteri dengan bahasanya sendiri, bahwa isterinya lah satu-satunya perempuan yang ia cintai selama hidupnya.
Aku pun terus mendengarkan dengan seksama pada bagian-bagian tersulit dan ‘teraneh’ menurut tutorku ini. Ketika aku menengok temanku yang duduk di sampingku, air matanya mengalir tanpa terasa dan sedikit malu ketika kita menangkap basah dirinya tengah meneteskan air mata. Tibalah hari itu, hari di mana sang suami pergi meninggalkan isteri tercintanya untuk selama-lamanya. Hingga akhir hidup sang suami, si isteri tidak pernah merasa sedih karena segala kondisi kehidupan rumah tangga yang ia alami adalah memanusiakannya dan membahagiakannya. Sang suami benar-benar menganggapnya sebagai partner dan bukan pengasuh atau orang yang harus berada pada titik subordinasi kebanyakan laki-laki atas perempuan. sang tutor menceritakan bahwa almarhum suaminya meninggal di pangkuannya dan dimakamkan dengan cara sangat mengharukan, yaitu di kelilingi orang tersayang, teman-teman tahanan politik dan teman-teman organisasi yang pernah di pimpinnya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dinyanyikan oleh seluruh hadirin yang datang dan melepas kepergiannya ke liang kubur. Sampai akhir ceritanya, perempuan nan sangat menguasai sejumlah konsep teori ini tidak meneteskan air mata sedikitpun. Ia menganggap bahwa kebersamaannya yang terhitung singkat dengan suami, seluruhnya adalah kebahagiaan. Tiada hari tanpa kebahagiaan.
Menjelang pamitnya kami berdua, aku pun teringat pada angan dan cita serta doaku pada Allah sejak dulu, bahwa semoga kelak aku dipertemukan dengan PARTNER hidupku yang kemudian adalah cinta sejatiku di dunia dan akhirat. Amin..
12 Februari 2012.
Setelah beberapa teman berpamitan, tinggallah aku dan satu orang temanku yang ditugasi sebagai koordinator kursus politik ini. Temanku pun masih harus menindaklanjuti sejumlah referensi yang akan digunakan untuk kursus minggu depan, seraya memintaku untuk menunggunya. Sambil menunggu, aku memutuskan untuk shalat Ashar terlebih dahulu. Selesai shalat, aku berkaca dan melihat sejumlah koleksi foto-foto kenangan ia dan almarhum suaminya yang terpajang di atas sebuah meja nan tinggi. Dengan sedikit ragu karena takut membuka kesedihan masa lalu setelah ditinggalkan suaminya, aku pun memberanikan diri untuk menanyakan pengalamannya melalui sebuah fase kehidupan dengan sang suami. Keingintahuanku bukan tanpa alasan. Saat ia memberikan satu buku sebagai salah satu referensi kami, ia menekankan untuk menjaga buku tersebut dengan baik. Usut punya usut, ternyata dalam buku itu, terdapat beberapa artikel, yang diantaranya adalah tulisannya dan tulisan sang suami. Ragu yang sempat sedikit singgah dihatiku untuk bertanya, berubah menjadi tenang. Tanpa ku duga, wajahnya seakan sumringah dan riang ketika ku tanya mengenai almarhum suaminya yang meninggal di tahun 2006. Hal itu nampak jelas dari ekspresi wajah yang ia tunjukkan pada kami berdua.
Aku pun memutuskan untuk membuka pertanyaan ku dengan sebuah kalimat ‘mba, almarhum suamimu seorang aktifis ya?’. Ia pun menjawab ‘ia lebih dari sekedar seorang aktifis’. Sebuah jawaban yang sangat singkat dan sarat dengan unsur perasaan sayang terdalam. Tanpa ku keluarkan pertanyaan kedua, ia pun menceritakan kehidupan yang ia jalani selama kurang lebih 11 tahun dengan sang suami dengan sangat lancar. Jarak umur yang terbilang cukup jauh, ternyata tidak menjadi penghalang bagi sebuah keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga. Ia sangat mengagumi sang suami yang merupakan aktifis di zaman orde baru, mantan tahanan politik, mempunyai pengalaman menjadi jurnalis di salah satu media nasional, pernah menjadi anggota DPR termuda dengan usia 26 tahun. Diantara semuanya, satu hal yang sangat ia banggakan akan figur suaminya, bahwa sang suami menganggap sang istri sebagai partner hidup, bukan seorang istri yang letaknya subordinatif di bawah suami, yang bisa disuruh dan di siksa serta di maki kapanpun, persis seperti banyaknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Indonesia.
Sikap sang suami yang sangat memahami semangat nya dalam memperjuangkan perempuan Indonesia dan kaum buruh, menjadi amunisi baginya dalam menjalani hidup. Ia berkata bahwa ia seakan tidak peduli dengan hidup mereka yang sederhana dan tidak bermewah-mewahan. Baginya, sebuah karunia Allah karena telah mempertemukannya dengan sang suami yang asli Jawa Timur itu, sudah lebih dari cukup. Bahkan, suami memberi dukungan penuh ketika sang istri menjadi ketua sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan dan perlindungan perempuan. Status sebagai aktifis dan mantan tahanan politik yang mempunyai konsep berfikir yang sangat baik dan dahsyat, membuat tutorku ini menyebutnya sebagai sang ensiklopedia. Hari-hari mereka berdua, dilalui dengan aktif menulis, bercengkerama tentang suatu hal yang serius dan bahkan tidak serius. Meski mempunyai lokus perjuangan yang berbeda, tutorku mengatakan bahwa mereka berdua sangat gemar menulis, bahkan mempunyai tempat masing-masing di rumah nya untuk menulis sejumlah tulisan kritis dan membangun.
Berdasarkan cerita sang istri, perlakuan lembutnya pada perempuan tunjukkan nya dengan menyalahkan beberapa teman sang suami yang mengatakan bahwa kepintaran isteri adalah bentukan dan tempaan dari suami. Dengan semangat 45, sang suami memaparkan pada teman-temannya bahwa si istri memang sudah sangat pintar dan mempunyai wawasan nan luas, jauh sebelum mereka berdua berkenalan. Anggapan sejumlah temannya bahwa perempuan tidak bisa apa-apa tanpa ‘bentukan’ sang suami, dipatahkan oleh sang suami sendiri, tanpa disuruh oleh tutorku ini. Bahkan, sang suami mendukung isterinya untuk terbiasa berdiskusi kritis dengan teman-teman seperjuangannya, yang kerap di sebut dengan panggilan generasi lama. Jangan salah lho ya, kita harus mengakui bahwa generasi lama Indonesia (baik yang hidup ketika orde lama, orde baru dan hingga reformasi baru bergulir di tahun 98) adalah generasi yang sangat berkualitas. Bersikap kritis dan pandai berdiskusi dengan baik serta menguasai konsep teori dengan utuh dan mendalam. Tidak bisa kita samakan dengan generasi baru saat ini, di era reformasi, yang kebanyakan tidak mempunyai kepedulian terhadap sesama dan kegemaran untuk berdiskusi. Mungkin kita pun dapat bertanya pada diri sendiri, termasuk tipe generasi yang manakah kita ini?
Cerita berlanjut pada bulan-bulan terakhir ia hidup dengan suaminya. Tutorku ini bercerita bahwa segala sesuatunya seakan sudah di atur oleh Tuhan menjelang kematiannya. Tiga bulan pertama, sang suami sedikit kesusahan untuk berbicara pada siapapun, termasuk sang istri. Meski keadaan hidup sangat sederhana, sang isteri tidak merasa kesusahan sedikitpun dan juga tidak merasa terbebani dengan keadaan suami yang sudah mengkhawatirkan. Namun, si isteri mengakui bahwa saat-saat itu adalah saat yang berat dalam hidupnya. Rasa keheningan pun ia alami. Hari yang biasa diisi dengan obrolan ringan, diskusi dan kebersamaan, seakan meredup baginya. Hingga dua minggu sebelum kematian sang suami, isteri menceritakan bahwa sikap suami sangatlah perhatian dan benar-benar menunjukkan kasih sayangnya. Suatu hari, ia menyatakan rasa cintanya pada sang isteri dengan bahasanya sendiri, bahwa isterinya lah satu-satunya perempuan yang ia cintai selama hidupnya.
Aku pun terus mendengarkan dengan seksama pada bagian-bagian tersulit dan ‘teraneh’ menurut tutorku ini. Ketika aku menengok temanku yang duduk di sampingku, air matanya mengalir tanpa terasa dan sedikit malu ketika kita menangkap basah dirinya tengah meneteskan air mata. Tibalah hari itu, hari di mana sang suami pergi meninggalkan isteri tercintanya untuk selama-lamanya. Hingga akhir hidup sang suami, si isteri tidak pernah merasa sedih karena segala kondisi kehidupan rumah tangga yang ia alami adalah memanusiakannya dan membahagiakannya. Sang suami benar-benar menganggapnya sebagai partner dan bukan pengasuh atau orang yang harus berada pada titik subordinasi kebanyakan laki-laki atas perempuan. sang tutor menceritakan bahwa almarhum suaminya meninggal di pangkuannya dan dimakamkan dengan cara sangat mengharukan, yaitu di kelilingi orang tersayang, teman-teman tahanan politik dan teman-teman organisasi yang pernah di pimpinnya. Lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dinyanyikan oleh seluruh hadirin yang datang dan melepas kepergiannya ke liang kubur. Sampai akhir ceritanya, perempuan nan sangat menguasai sejumlah konsep teori ini tidak meneteskan air mata sedikitpun. Ia menganggap bahwa kebersamaannya yang terhitung singkat dengan suami, seluruhnya adalah kebahagiaan. Tiada hari tanpa kebahagiaan.
Menjelang pamitnya kami berdua, aku pun teringat pada angan dan cita serta doaku pada Allah sejak dulu, bahwa semoga kelak aku dipertemukan dengan PARTNER hidupku yang kemudian adalah cinta sejatiku di dunia dan akhirat. Amin..
12 Februari 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)