Jakarta, kota metropolitan ini memang tidak pernah sepi dari hingar bingar mobilitas kehidupan. Rasanya, tidak pernah ada kata istirahat bagi kota yang baru saja berulang tahun ke 484 ini. Menapaki jalan-jalan di kota Jakarta pada siang hari, seperti dua sisi yang saling tarik menarik. Setidaknya bagiku, menyenangkan karena bisa mengamati kehidupan sekitar warga Jakarta. Menjadi tidak menyenangkan karena terik matahari yang hadir di kota Jakarta lumayan menguji kadar kesabaran.
Salah satu hal yang kuamati di siang hari itu adalah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Antrian transJakarta busway yang sudah menjadi ‘makananku’ setiap hari, selalu mengundang hal menarik untuk diamati. Siang itu, sang ibu tengah mengantri di antrian bus transJakarta busway arah Blok M. Anak paling kecil dengan umur sekitar 2 tahun tengah digendongnya. Anak pertamanya adalah perempuan yang kutaksir berumur 7 tahun. Sedangkan anak keduanya adalah laki-laki yang kutaksir berumur sekitar 5 tahun. Sepintas tidak ada yang salah dengan kondisi itu. Ada seorang ibu tengah membawa tiga orang anaknya untuk naik transJakarta busway.
Namun pengamatanku dimulai saat bus transJakarta tak kunjung datang alias ‘ngaret’ dan anak laki-laki keduanya mulai resah, seraya merengek untuk minta digendong. Dengan kondisi bingung, sang ibu pun mulai mengiyakan rengekan anak laki-lakinya. Ia melepaskan anak ketiganya dari gendongan dan kemudian menitipkannya pada anak pertamanya. Anak keduanya pun senang dan tersenyum, begitupun dengan sang bungsu yang memberikan senyuman termanisnya untuk sang kakak, tanpa sedikitpun terlihat kecewa. Tak berapa lama, bus transJakarta pun datang. Kondisi bus yang sudah sesak dengan lautan manusia pun membuat ibu tersebut urung masuk. Seraya menunggu kehadiran bus berikutnya, ia meminta pada anak perempuannya untuk melepaskan gendongan sang bungsu dan menurunkan kembali anak keduanya setelah puas digendong oleh sang ibu. Setelah itu, ibu yang tak pernah menunjukkan muka lelahnya ini kembali menggendong anak bungsunya dan merangkul kedua anaknya. Ternyata, bus transJakarta berikutnya kembali datang. Kali ini ia bisa masuk atau bahkan terkesan memaksa masuk meski kondisi bus lumayan padat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kemudian kondisi sang ibu dan tiga anak nya tersebut di dalam bus transJakarta yang mana kondisi sebagian armadanya sudah tidak nyaman lagi, terutama bus transJakarta lama dengan warna kuning. Meski kemudian sang ibu masuk pada bagian “khusus area wanita” di dalam transJakarta busway, bagaimana dengan kedua anaknya yang juga masih kecil? Aku membayangkan perjuangan tak kenal lelah dari seorang ibu dalam membesarkan, melindungi dan mengayomi anak-anaknya. Tak berapa lama ibu tiga anak tersebut berlalu dari hadapanku yang masih ada di urutan antrian ke sekian, datang kembali seorang ibu dengan paras cantiknya, tengah menggandeng dua buah hatinya yang juga masih kecil. Seraya terus menggandeng mereka, ibu paruh baya tersebut berujar, “ nanti di bus jangan jauh dari mama ya nak”. Subhanallah, betapa kasih sayang ibu memang tak pernah habis sepanjang masa. Terdetik dalam benakku, sudahkah kita membalas kasih sayang mereka dalam usia kita yang beranjak dewasa?
Sontak rasa kangen luar biasa hadir dalam hati dan tak sabar untuk bertemu dengan ibu tersayang di rumah. Ibu.. begitu mulia perjuanganmu, tak kenal lelah mengayomi, mendidik dan memberikan seluruh kasih sayangmu pada buah hati. Semoga perjuangan para ibu nan hebat, berbuah doa bagi anak-anaknya sebagai generasi muda ke depan, untuk meraih kesuksesan hakiki dunia dan akhirat. Amin.
Jakarta, 16 Agustus 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Jumat, 27 Juli 2012
Sebuah KE-PERNAH-AN..
Status Facebook salah seorang temanku beberapa hari lalu mengenai sebuah Ke-pernah-an, membuatku diam tertegun, mengingat segala hal yang mampir dalam hidup.
Kata PERNAH, menjadi hal yang terus terngiang di kepalaku sejak hari itu. Memutar waktu dan memori untuk kemudian terus bersyukur dalam mengenyam Ke-pernah-an.
Ya, tiap kita pasti pernah merasakan pengalaman-pengalaman dalam hidup yang bisa saja tidak akan berulang kembali. Pengalaman itu menjadi kian mahal, saat tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Mungkin anda juga bisa menceritakan ke-pernah-an apa saja yang hadir di hidup anda, selama nafas masih berhembus.
Bagiku, banyak sekali hal yang menandakan nikmatnya ke-pernah-an itu.
Setelah lulus SD di tahun 1997, aku memasuki sebuah pesantren di bilangan Mantingan, Ngawi jawa Timur. Gontor Puteri, begitulah pesantren nan sangat kubanggakan itu biasa disebut. Saat memasuki gerbang Gontor Puteri di sekitar tahun 1997-1998 itu, tidak ada perasaan takut, sedih, cemas atau bahkan memikirkan akan kabur dari pesantren itu suatu hari nanti. Kondisi itu berbanding terbalik dengan potret para calon santriwati baru yang kulihat saat itu. Sebagian mereka, 'merengek' untuk tidak ditinggalkan cepat-cepat oleh sang keluarga. Ada juga wajah-wajah yang mensiratkan cemas menghadapi kehidupan pondok.
Dua hari satu malam bersama kedua orang tuaku di awal memasuki pondok Gontor Puteri itu, kuanggap sebagai babak awal kehidupan mandiri yang akan kurasakan. Setidaknya untuk memompa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Benar saja, ke-pernah-an itu sungguh sangaaaat ku syukuri hingga hari ini.Pondok mengajarkan banyak hal, baik kemandirian, disiplin, pengalaman berorganisasi, interaksi sosial, tenggang rasa, ukhuwwah Islamiyah dan masih banyak lagi hal lain yang hingga kini masih kurasakan dampaknya. Subhanallah, sungguh aku beruntung dan bersyukur pada Allah, bahwa ketika 'godaan' untuk pulang selamanya dari pondok itu hadir di tahun ketiga, suara hatiku mentah-mentah menolaknya.
Selama di pondok pula, pengalaman kepemimpinan dengan menjadi ketua rayon (satu gedung yang ditempati oleh para santriwati dari berbagai angkatan/kelas)memberikanku suatu pandangan baru ketika dihadapkan dengan saat-saat genting pengambilan keputusan untuk kemajuan rayon. Pun ketika menjadi bagian bahasa di rayon, aku mendapatkan pengalaman berharga betapa berharga nya nilai kedisiplinan. Betapa berharga pula sebuah kemampuan berbahasa. Bahasa dapat membuka mata kita akan keberagaman informasi dari seluruh dunia. Pengalaman kedisiplinan untuk mendisiplinkan diri dan orang lain pun ku dapat dari pengalaman menjadi bagian keamanan pusat, yang dipercayakan oleh teman-teman serta para guru-guru kami. Aku yakin, teman-temanku sesama alumni Pondok Gontor Puteri pun merasakan hal yang sama.
Seusai mengecap kehidupan pondok modern selama enam tahun lebih, aku pun masuk di sebuah perguruan tinggi negeri, UIN Jakarta. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang kupilih, benar-benar menghadirkan ke-pernah-an yang luar biasa. Menjadi seorang penyiar radio Fakultas, Master of Ceremony di acara-acara seminar serta dikusi mahasiswa, juga perlombaan serupa, mengisi hari-hariku selama kuliah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Tidak hanya di situ, konten ilmu dakwah yang kami pelajari di pondok dengan melaksanakan Public Speaking/ Muhadhoroh selama dua kali dalam seminggu, juga bisa tersalurkan ketika aku duduk di bangku kuliah. Subhanallah, sangat mahal harga sebuah ke-pernah-an itu. Pun keberanian dan interaksi sosial yang kudapatkan selama di pondok, membantuku ketika terjun ke masyarakat untuk berbagi informasi, ilmu dan pengalaman.
Selama kuliah, ilmu bahasa yang kudapati di pondok, juga sangat bermanfaat dalam mencari ragam referensi penunjang mata kuliah yang ada. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, mengantarkanku juga pada jaringan yang luas, dalam aspek media dan jurnalisme. Setidaknya, hal itu kurasakan ketika bekerja di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) setelah lulus dari S1 di tahun 2008.
Ke-pernah-an dalam bekerja di ISAI dan menggeluti media watch, mengantarkan ku pada sebuah ketertarikan akan dunia politik. Akhirnya, setelah menyelesaikan kontrak kerjaku, aku pun memutuskan untuk masuk di Departemen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI. Sungguh, banyak sekali ragam ke-pernah-an yang kurasakan selama menjadi mahasiswi ilmu politik. Diantaranya berinteraksi dan berdiskusi dengan seorang mantan diplomat yang kukenal ketika menemui seorang teman di gedung DPR. Saat itu kami berdiskusi mengenai perpolitikan Indonesia serta generasi muda ke depan. Pesannya yang sangat kuingat adalah, "Nikmati proses menuju keberhasilanmu". Dengan kata lain, ia ingin menekankan agar jangan menjadi orang yang tergesa-gesa menuju kesuksesan, karena dengan begitu, kita akan gelap mata dan menghalalkan segala cara.
Ke-pernah-an lainnya tentu saja mempunyai relasi/jaringan yang sangat banyak di berbagai LSM. Konsentrasi yang kupilih dalam isu perempuan dan politik, mengantarkanku pada ke-pernah-an mewawancarai orang-orang yang kubilang mempunyai pengalaman sangat banyak di dunia politik perempuan, baik anggota dewan, Direktur Eksekutif sebuah LSM ataupun penggiat pekerja sosial/buruh migran.
Aku hanya bisa berkata Alhamdulillah atas segala ke-pernah-an yang hadir dalam hidup. Tidak lain hanya atas kuasaNya dengan melihat tiap usaha hambaNya, bukankah begitu kawan?
Akhirnya, ke-pernah-an dalam mengecap ragam pengalaman berharga itu, yang membuatku selalu menularkan cerita-cerita hikmah yang ada saat berbagi pengalaman dalam mata kuliah pembangunan politik pada adek-adekku di UIN Jakarta saat ini.
Sungguh, status FB temanku itu membuatku sangat bersyukur atas kuasa Ilahi selama 26 tahun ini. Detik ini, aku semakin menghayati kata "Experience is the best teacher".
Bagaimana denganmu kawan?
Jakarta, 28 Juli 2012.
Kata PERNAH, menjadi hal yang terus terngiang di kepalaku sejak hari itu. Memutar waktu dan memori untuk kemudian terus bersyukur dalam mengenyam Ke-pernah-an.
Ya, tiap kita pasti pernah merasakan pengalaman-pengalaman dalam hidup yang bisa saja tidak akan berulang kembali. Pengalaman itu menjadi kian mahal, saat tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Mungkin anda juga bisa menceritakan ke-pernah-an apa saja yang hadir di hidup anda, selama nafas masih berhembus.
Bagiku, banyak sekali hal yang menandakan nikmatnya ke-pernah-an itu.
Setelah lulus SD di tahun 1997, aku memasuki sebuah pesantren di bilangan Mantingan, Ngawi jawa Timur. Gontor Puteri, begitulah pesantren nan sangat kubanggakan itu biasa disebut. Saat memasuki gerbang Gontor Puteri di sekitar tahun 1997-1998 itu, tidak ada perasaan takut, sedih, cemas atau bahkan memikirkan akan kabur dari pesantren itu suatu hari nanti. Kondisi itu berbanding terbalik dengan potret para calon santriwati baru yang kulihat saat itu. Sebagian mereka, 'merengek' untuk tidak ditinggalkan cepat-cepat oleh sang keluarga. Ada juga wajah-wajah yang mensiratkan cemas menghadapi kehidupan pondok.
Dua hari satu malam bersama kedua orang tuaku di awal memasuki pondok Gontor Puteri itu, kuanggap sebagai babak awal kehidupan mandiri yang akan kurasakan. Setidaknya untuk memompa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Benar saja, ke-pernah-an itu sungguh sangaaaat ku syukuri hingga hari ini.Pondok mengajarkan banyak hal, baik kemandirian, disiplin, pengalaman berorganisasi, interaksi sosial, tenggang rasa, ukhuwwah Islamiyah dan masih banyak lagi hal lain yang hingga kini masih kurasakan dampaknya. Subhanallah, sungguh aku beruntung dan bersyukur pada Allah, bahwa ketika 'godaan' untuk pulang selamanya dari pondok itu hadir di tahun ketiga, suara hatiku mentah-mentah menolaknya.
Selama di pondok pula, pengalaman kepemimpinan dengan menjadi ketua rayon (satu gedung yang ditempati oleh para santriwati dari berbagai angkatan/kelas)memberikanku suatu pandangan baru ketika dihadapkan dengan saat-saat genting pengambilan keputusan untuk kemajuan rayon. Pun ketika menjadi bagian bahasa di rayon, aku mendapatkan pengalaman berharga betapa berharga nya nilai kedisiplinan. Betapa berharga pula sebuah kemampuan berbahasa. Bahasa dapat membuka mata kita akan keberagaman informasi dari seluruh dunia. Pengalaman kedisiplinan untuk mendisiplinkan diri dan orang lain pun ku dapat dari pengalaman menjadi bagian keamanan pusat, yang dipercayakan oleh teman-teman serta para guru-guru kami. Aku yakin, teman-temanku sesama alumni Pondok Gontor Puteri pun merasakan hal yang sama.
Seusai mengecap kehidupan pondok modern selama enam tahun lebih, aku pun masuk di sebuah perguruan tinggi negeri, UIN Jakarta. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang kupilih, benar-benar menghadirkan ke-pernah-an yang luar biasa. Menjadi seorang penyiar radio Fakultas, Master of Ceremony di acara-acara seminar serta dikusi mahasiswa, juga perlombaan serupa, mengisi hari-hariku selama kuliah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Tidak hanya di situ, konten ilmu dakwah yang kami pelajari di pondok dengan melaksanakan Public Speaking/ Muhadhoroh selama dua kali dalam seminggu, juga bisa tersalurkan ketika aku duduk di bangku kuliah. Subhanallah, sangat mahal harga sebuah ke-pernah-an itu. Pun keberanian dan interaksi sosial yang kudapatkan selama di pondok, membantuku ketika terjun ke masyarakat untuk berbagi informasi, ilmu dan pengalaman.
Selama kuliah, ilmu bahasa yang kudapati di pondok, juga sangat bermanfaat dalam mencari ragam referensi penunjang mata kuliah yang ada. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, mengantarkanku juga pada jaringan yang luas, dalam aspek media dan jurnalisme. Setidaknya, hal itu kurasakan ketika bekerja di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) setelah lulus dari S1 di tahun 2008.
Ke-pernah-an dalam bekerja di ISAI dan menggeluti media watch, mengantarkan ku pada sebuah ketertarikan akan dunia politik. Akhirnya, setelah menyelesaikan kontrak kerjaku, aku pun memutuskan untuk masuk di Departemen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI. Sungguh, banyak sekali ragam ke-pernah-an yang kurasakan selama menjadi mahasiswi ilmu politik. Diantaranya berinteraksi dan berdiskusi dengan seorang mantan diplomat yang kukenal ketika menemui seorang teman di gedung DPR. Saat itu kami berdiskusi mengenai perpolitikan Indonesia serta generasi muda ke depan. Pesannya yang sangat kuingat adalah, "Nikmati proses menuju keberhasilanmu". Dengan kata lain, ia ingin menekankan agar jangan menjadi orang yang tergesa-gesa menuju kesuksesan, karena dengan begitu, kita akan gelap mata dan menghalalkan segala cara.
Ke-pernah-an lainnya tentu saja mempunyai relasi/jaringan yang sangat banyak di berbagai LSM. Konsentrasi yang kupilih dalam isu perempuan dan politik, mengantarkanku pada ke-pernah-an mewawancarai orang-orang yang kubilang mempunyai pengalaman sangat banyak di dunia politik perempuan, baik anggota dewan, Direktur Eksekutif sebuah LSM ataupun penggiat pekerja sosial/buruh migran.
Aku hanya bisa berkata Alhamdulillah atas segala ke-pernah-an yang hadir dalam hidup. Tidak lain hanya atas kuasaNya dengan melihat tiap usaha hambaNya, bukankah begitu kawan?
Akhirnya, ke-pernah-an dalam mengecap ragam pengalaman berharga itu, yang membuatku selalu menularkan cerita-cerita hikmah yang ada saat berbagi pengalaman dalam mata kuliah pembangunan politik pada adek-adekku di UIN Jakarta saat ini.
Sungguh, status FB temanku itu membuatku sangat bersyukur atas kuasa Ilahi selama 26 tahun ini. Detik ini, aku semakin menghayati kata "Experience is the best teacher".
Bagaimana denganmu kawan?
Jakarta, 28 Juli 2012.
Kamis, 17 Mei 2012
HERAN...
Sepertinya hanya satu kata yang dapat kuucap sore hari itu, yaitu HERAN. Ya, sore itu aku harus menunggu salah satu moda transportasi yang paling diincar banyak orang Jakarta, apalagi kalau bukan transJakarta busway, selama satu jam. Perjalanan Rawamangun-Pemuda menuju daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan yang seharusnya bisa kutempuh selama dua jam, menjadi tiga jam. Sungguh, kota Jakarta ini mempunyai dua sisi yang membuatku senyum, yaitu sisi membuat kangen, sekaligus membuat orang stress. Aku teringat paparan teman dekatku yang berdomisili di Yogyakarta. Ia mengutarakan padaku bahwa tinggal selama tiga hari di Jakarta, ibarat tinggal seminggu dengan kondisi menjemukan. Apalagi jika bukan saking tidak betahnya ia menghadapi mobilitas tinggi warga Jakarta dengan topangan kemacetan yang luar biasa. Baginya, suasana Yogyakarta nan nyaman dan bebas dari kemacetan luar biasa, selalu membuatnya kangen untuk segera pulang. Aku pun merasa demikian, tinggal selama tiga hari di kota Yogyakarta, serasa benar-benar menikmati angin surga dan kebebasan rutinitas sesungguhnya. Meski demikian, karena lama tinggal di Jakarta, tetap saja bagiku Jakarta itu selalu membuat kangen.
Kembali pada rasa heranku, ini merupakan refleksi atas perhatian dan pengalamanku mendengarkan keluh kesah warga Jakarta yang mempunyai nasib sama, yaitu MENUNGGU kedatangan transJakarta busway. Beberapa ibu-ibu yang sama-sama megantri pun mulai komat kamit meluapkan keluh kesahnya. Salah satu diantaranya mengatakan, “Haduh, nunggu busway kok sampai kaya gini ya. Balikin karcis nggak mungkin, ya saya juga nggak bakal dapet lagi bus umum selain busway kalau udah jam segini. Udah milih busway, lha kok malah gini jadinya”, demikian ucap sang ibu yang telah menunggu lebih lama dariku. Belum lagi ibu lainnya yang komat kamit dengan nada serupa. Selama satu jam itu, bukan berarti tidak ada transJakarta yang datang, namun semuanya hanya lewat dihadapan kami, dengan alasan akan mengisi BBG (Bahan Bakar Gas). Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa pengisian BBG itu harus dilaksanakan pada waktu jam pulang kantor? Bukankah dua waktu di Jakarta ini yang harus mendapatkan perhatian lebih? Waktu berangkat ke dan pulang dari kantor. Belum lagi kondisi berdesakan sesama penumpang transJakarta yang harus kami alami setelah mengantri selama satu jam.
Aku tidak habis fikir, mengapa pemerintah kita, baik pusat maupun daerah, senang sekali melihat warganya ‘kesusahan’. Jika di luar negeri saja kita bisa merasakan waktu tunggu antrian bus juga kereta selama dua menit saja, mengapa hal itu seakan sulit sekali diterapkan di Indonesia, terutama di Jakarta?
Bukan hanya transJakarta busway, namun juga kereta api. Mungkin ada sedikit pengecualian untuk commuter line yang mempunyai harga tiket sebesar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) itu. Hawa sejuk meski berdesakan ‘lumayan’ mengusir keputus asaan warga Jakarta untuk mendapatkan kondisi transportasi publik yang nyaman. Meski demikian, pertanyaan lain pun hadir. Bagaimana kondisi berdesakan antar penumpang kereta di waktu pagi dan sore hari menjelang jam pulang kantor? Berapa banyak warga Jakarta, terutama kalangan bawah yang dapat membeli karcis seharga enam ribu rupiah itu tiap harinya, jika mereka berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta dan kemudian pulang ke Bogor kembali pada sore hari? Otomatis mereka akan lebih memilih harga tiket kereta api ekonomi yang kurang dari dua ribu rupiah. Kemudian, bagaimana kualitas kereta ekonomi di Indonesia? Apakah sudah menerapkan standar aman bagi penumpang nya, dengan pintu yang terbuka, lampu kadang gelap serta warga bergelantungan, asal bisa naik kereta? Jawabnya adalah BELUM.
Hal penting yang kemudian terbersit di benak ku adalah, bagaimana kemudian Indonesia bisa membangun SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas dan bisa memajukan prestasi diri serta kantor di mana mereka bekerja, bila jarak tempuh ke tempat kerja saja sudah lama. Sesampainya di tempat kerja, bukan kondisi segar lagi yang mereka tunjukkan, namun kondisi berpeluh keringat dengan suasana hati yang enggan untuk berfikir keras dan mengerjakan tugas kerja secara maksimal. Apakah ini difikirkan juga oleh pemerintah? Jelas kita tidak bisa menyalahkan supir transJakarta busway ataupun masinis kereta api. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa gaji yang mereka terima? Sudah sejaterakah mereka? Apakah mereka mendapatkan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja yang maksimal? Inilah kewajiban Negara, yang dicerminkan oleh pemerintah untuk memenuhi tugas dan fungsinya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga negara di tiap aktifitas.
Jika Negara merupakan konsep inklusif yang meliputi semua aspek pembuatan kebijakan serta pelaksanaan sanksi hukumannya, dan kemudian pemerintah adalah agen yang melaksanakan kebijakan Negara dalam masyarakat politik (Lawson 1991:5 dalam Arief Budiman 1996), maka jelaslah bahwa pemerintah harus mempunyai pemahaman mendasar akan kebutuhan warga. Di samping itu, keberpihakan pemerintah yang di wakilkan oleh aparat birokrasi nya pun wajib mempunyai keberpihakan pada kepentingan warga negara secara luas, bukan kalangan tertentu saja. Rasa heranku tak pernah berhenti tiap kali aku ‘menikmati’ moda transportasi publik di Jakarta. Bagaimana mungkin pemerintah TEGA melihat warga nya menunggu selama satu hingga satu setengah jam untuk ‘menikmati’ layanan publik berupa transJakarta busway, kereta api hingga mundurnya jadwal penerbangan pesawat terbang karena kondisi kapasitas pesawat di bandara Soekarno-Hatta yang sudah melebihi jumlah ideal hilir mudiknya sang pesawat. Bagaimana mungkin pemerintah hanya bisa berdiam diri dan menikmati kemewahan mereka sendiri dengan naik mobil dinas atau pribadi yang harganya pun tidak sampai terbayangkan bagi kalangan bawah untuk membelinya. Bagimana mungkin pemerintah tidak bisa bersikap tegas pada pihak asing atau borjuis lokal ketika mereka dengan leluasa membayar pajak nan rendah dengan terus mengeksploitasi tenaga kerja warga negara Indonesia? Mengapa ‘imbalan’ dari sang investor/borjuis itu lebih penting ketimbang tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan sebagai pejabat? Serta masih banyak pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah habis tiap kali merenung selama perjalanan dalam transJakarta busway atau kereta api.
Ada hal yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengurai masalah transportasi publik kemudian, yaitu membuat terobosan baru dalam hal pengadaan transportasi publik. Selain menambah armada transJakarta dan juga kereta api commuter line, pemerintah perlu mensinkronisasikan model tiket sesuai jarak tempuh. Salah satu masalah transJakarta busway adalah armada yang minim. Berdasarkan berita yang dirilis oleh www.beritasatu.com, di koridor 1 saja hanya terdapat 90 single busway dan itupun tidak gandeng. September mendatang menjadi rencana Badan Layanan Umum (BLU) transJakarta untuk menambah 66 armada bus gandeng baru, dan melayani koridor 1 (Blok M-Kota) dan 9 (Lebak Bulus-Harmoni). Pengalaman pribadi penulis, koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) pun perlu penambahan armada. Waktu tunggu selama satu jam di koridor tersebut, sudah menjadi ‘makanan’ kami sehari-hari.
Sama hal nya dengan kereta api commuter line. Penambahan armada mutlak dibutuhkan demi mengangkut massa yang demikian banyak di Jakarta.
Kereta sebenarnya menjadi tumpuan utama masyarakat karena jarak tempuh yang cepat dibanding bus. Nampaknya dalam konteks kereta api di Indonesia, terutama di Jakarta, sinkronisasi harga tiket berdasarkan jarak tempuh perlu diberlakukan. Sebagai contoh, harga tiket kita ke Pasar Minggu dari arah Bogor menjadi lebih murah dibanding harga tiket dari Bogor menuju Kota. Ini pula yang sudah di lakukan beberapa Negara, seperti Malaysia dan Jepang. Sebaiknya tidak ada lagi klasifikasi kereta ekonomi dan AC, meski faktanya memang sulit menghilangkan kereta ekonomi, karena harga nya yang relatif sangat murah. Jika demikian, penerapan harga commuter line pun perlu di pertimbangkan, mulai dari tarif yang sangat rendah hingga sekitar tujuh ribu rupiah misalnya. Sisi positif nya adalah, tiap warga negara bisa menikmati layanan transportasi yang nyaman dan aman. Tentunya tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, harus melalui survei dan juga keputusan partisipatif dari masyarakat Indonesia. Semoga.
Jakarta, 18 Mei 2012.
Kembali pada rasa heranku, ini merupakan refleksi atas perhatian dan pengalamanku mendengarkan keluh kesah warga Jakarta yang mempunyai nasib sama, yaitu MENUNGGU kedatangan transJakarta busway. Beberapa ibu-ibu yang sama-sama megantri pun mulai komat kamit meluapkan keluh kesahnya. Salah satu diantaranya mengatakan, “Haduh, nunggu busway kok sampai kaya gini ya. Balikin karcis nggak mungkin, ya saya juga nggak bakal dapet lagi bus umum selain busway kalau udah jam segini. Udah milih busway, lha kok malah gini jadinya”, demikian ucap sang ibu yang telah menunggu lebih lama dariku. Belum lagi ibu lainnya yang komat kamit dengan nada serupa. Selama satu jam itu, bukan berarti tidak ada transJakarta yang datang, namun semuanya hanya lewat dihadapan kami, dengan alasan akan mengisi BBG (Bahan Bakar Gas). Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa pengisian BBG itu harus dilaksanakan pada waktu jam pulang kantor? Bukankah dua waktu di Jakarta ini yang harus mendapatkan perhatian lebih? Waktu berangkat ke dan pulang dari kantor. Belum lagi kondisi berdesakan sesama penumpang transJakarta yang harus kami alami setelah mengantri selama satu jam.
Aku tidak habis fikir, mengapa pemerintah kita, baik pusat maupun daerah, senang sekali melihat warganya ‘kesusahan’. Jika di luar negeri saja kita bisa merasakan waktu tunggu antrian bus juga kereta selama dua menit saja, mengapa hal itu seakan sulit sekali diterapkan di Indonesia, terutama di Jakarta?
Bukan hanya transJakarta busway, namun juga kereta api. Mungkin ada sedikit pengecualian untuk commuter line yang mempunyai harga tiket sebesar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) itu. Hawa sejuk meski berdesakan ‘lumayan’ mengusir keputus asaan warga Jakarta untuk mendapatkan kondisi transportasi publik yang nyaman. Meski demikian, pertanyaan lain pun hadir. Bagaimana kondisi berdesakan antar penumpang kereta di waktu pagi dan sore hari menjelang jam pulang kantor? Berapa banyak warga Jakarta, terutama kalangan bawah yang dapat membeli karcis seharga enam ribu rupiah itu tiap harinya, jika mereka berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta dan kemudian pulang ke Bogor kembali pada sore hari? Otomatis mereka akan lebih memilih harga tiket kereta api ekonomi yang kurang dari dua ribu rupiah. Kemudian, bagaimana kualitas kereta ekonomi di Indonesia? Apakah sudah menerapkan standar aman bagi penumpang nya, dengan pintu yang terbuka, lampu kadang gelap serta warga bergelantungan, asal bisa naik kereta? Jawabnya adalah BELUM.
Hal penting yang kemudian terbersit di benak ku adalah, bagaimana kemudian Indonesia bisa membangun SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas dan bisa memajukan prestasi diri serta kantor di mana mereka bekerja, bila jarak tempuh ke tempat kerja saja sudah lama. Sesampainya di tempat kerja, bukan kondisi segar lagi yang mereka tunjukkan, namun kondisi berpeluh keringat dengan suasana hati yang enggan untuk berfikir keras dan mengerjakan tugas kerja secara maksimal. Apakah ini difikirkan juga oleh pemerintah? Jelas kita tidak bisa menyalahkan supir transJakarta busway ataupun masinis kereta api. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa gaji yang mereka terima? Sudah sejaterakah mereka? Apakah mereka mendapatkan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja yang maksimal? Inilah kewajiban Negara, yang dicerminkan oleh pemerintah untuk memenuhi tugas dan fungsinya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga negara di tiap aktifitas.
Jika Negara merupakan konsep inklusif yang meliputi semua aspek pembuatan kebijakan serta pelaksanaan sanksi hukumannya, dan kemudian pemerintah adalah agen yang melaksanakan kebijakan Negara dalam masyarakat politik (Lawson 1991:5 dalam Arief Budiman 1996), maka jelaslah bahwa pemerintah harus mempunyai pemahaman mendasar akan kebutuhan warga. Di samping itu, keberpihakan pemerintah yang di wakilkan oleh aparat birokrasi nya pun wajib mempunyai keberpihakan pada kepentingan warga negara secara luas, bukan kalangan tertentu saja. Rasa heranku tak pernah berhenti tiap kali aku ‘menikmati’ moda transportasi publik di Jakarta. Bagaimana mungkin pemerintah TEGA melihat warga nya menunggu selama satu hingga satu setengah jam untuk ‘menikmati’ layanan publik berupa transJakarta busway, kereta api hingga mundurnya jadwal penerbangan pesawat terbang karena kondisi kapasitas pesawat di bandara Soekarno-Hatta yang sudah melebihi jumlah ideal hilir mudiknya sang pesawat. Bagaimana mungkin pemerintah hanya bisa berdiam diri dan menikmati kemewahan mereka sendiri dengan naik mobil dinas atau pribadi yang harganya pun tidak sampai terbayangkan bagi kalangan bawah untuk membelinya. Bagimana mungkin pemerintah tidak bisa bersikap tegas pada pihak asing atau borjuis lokal ketika mereka dengan leluasa membayar pajak nan rendah dengan terus mengeksploitasi tenaga kerja warga negara Indonesia? Mengapa ‘imbalan’ dari sang investor/borjuis itu lebih penting ketimbang tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan sebagai pejabat? Serta masih banyak pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah habis tiap kali merenung selama perjalanan dalam transJakarta busway atau kereta api.
Ada hal yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengurai masalah transportasi publik kemudian, yaitu membuat terobosan baru dalam hal pengadaan transportasi publik. Selain menambah armada transJakarta dan juga kereta api commuter line, pemerintah perlu mensinkronisasikan model tiket sesuai jarak tempuh. Salah satu masalah transJakarta busway adalah armada yang minim. Berdasarkan berita yang dirilis oleh www.beritasatu.com, di koridor 1 saja hanya terdapat 90 single busway dan itupun tidak gandeng. September mendatang menjadi rencana Badan Layanan Umum (BLU) transJakarta untuk menambah 66 armada bus gandeng baru, dan melayani koridor 1 (Blok M-Kota) dan 9 (Lebak Bulus-Harmoni). Pengalaman pribadi penulis, koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) pun perlu penambahan armada. Waktu tunggu selama satu jam di koridor tersebut, sudah menjadi ‘makanan’ kami sehari-hari.
Sama hal nya dengan kereta api commuter line. Penambahan armada mutlak dibutuhkan demi mengangkut massa yang demikian banyak di Jakarta.
Kereta sebenarnya menjadi tumpuan utama masyarakat karena jarak tempuh yang cepat dibanding bus. Nampaknya dalam konteks kereta api di Indonesia, terutama di Jakarta, sinkronisasi harga tiket berdasarkan jarak tempuh perlu diberlakukan. Sebagai contoh, harga tiket kita ke Pasar Minggu dari arah Bogor menjadi lebih murah dibanding harga tiket dari Bogor menuju Kota. Ini pula yang sudah di lakukan beberapa Negara, seperti Malaysia dan Jepang. Sebaiknya tidak ada lagi klasifikasi kereta ekonomi dan AC, meski faktanya memang sulit menghilangkan kereta ekonomi, karena harga nya yang relatif sangat murah. Jika demikian, penerapan harga commuter line pun perlu di pertimbangkan, mulai dari tarif yang sangat rendah hingga sekitar tujuh ribu rupiah misalnya. Sisi positif nya adalah, tiap warga negara bisa menikmati layanan transportasi yang nyaman dan aman. Tentunya tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, harus melalui survei dan juga keputusan partisipatif dari masyarakat Indonesia. Semoga.
Jakarta, 18 Mei 2012.
Rabu, 02 Mei 2012
Hakikat Sebuah ‘Kursi’
Goresan pena ini hadir saat aku tengah mengamati pergantian kesempatan untuk duduk di bangku transportasi publik ibukota, transJakarta busway. Perjalananku selama satu setengah jam menuju kantor di wilayah rawamangun dari bilangan Jakarta Selatan dengan transJakarta busway, selalu menghadirkan fenomena-fenomena menarik di benakku. Yaaa, bisa dibilang ada saja ide segar yang terfikir secara tidak sengaja, salah satunya adalah mengenai ‘kursi’. Hari itu, aku mengamati beberapa pergantian kesempatan untuk duduk yang ditawarkan oleh beberapa orang kepada orang lain. Kadang penawaran itu jatuh ke orang yang lebih tua, lansia, ibu hamil, serta orang tua yang membawa anak. Jelasnya, penawaran itu tidak datang kepadaku yang masih segar bugar ini, hehe.
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Jumat, 13 April 2012
Antara dibutuhkan dan membutuhkan....
Perbincanganku dengan salah seorang kakak tingkat di perkuliahan dulu hari ini, membuatku merenung akan makna di butuhkan dan membutuhkan. Sebagai makhluk sosial, tentunya tak lepas dari konteks tersebut. Mana ada sih manusia yang tidak senang kala ia merasa dibutuhkan oleh banyak orang. Pernyataan sebaliknya pun berlaku, bahwa orang yang merasa senang dibutuhkan tersebut, juga membutuhkan seseorang atau bahkan banyak orang untuk ia bersenda gurau, bercerita dan juga bermanja. Akhirnya, dari makna kata dibutuhkan dan membutuhkan, perbincangan kita pun sampai pada titik pasangan hidup.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Rabu, 28 Maret 2012
Tentang Rasa...
Tiba-tiba kata RASA menjadi perhatianku pagi ini. Bermula dari perjalananku hari ini menuju kantor, yang terletak di bilangan Pulo Asem, Jakarta Timur. Sebelum menggunakan sarana trans Jakarta busway, aku menelusuri jalan-jalan ‘tikus’ yang ada di daerah Jakarta Selatan, hingga sampai pada sebuah jalan raya. Ada sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang selalu ramai tiap aku lewati. Ya, ternyata seluruh murid nya tengah menikmati jam istirahat mereka. Perhatianku pun tertuju pada seorang tukang es yang menjual aneka ragam minuman dengan porsi anak-anak tentunya. Saat aku melewatinya, ia tengah menuangkan salah satu merk minuman bersoda ke dalam plastik dan seketika berubah menjadi biru. Entahlah apa yang ia taruhkan sebelum minuman bersoda itu ia tuangkan. Yang jelas, aku melihat bahwa mendadak minuman di plastik itu berwarna biru. Disamping tukang es tersebut, jongkoklah seorang murid SD yang terlihat sedang menanti rampung nya racikan minuman tersebut dengan tidak sabar.
Bagi anak SD tersebut, tentu tidak penting apa yang dituangkan oleh tukang es bertopi tersebut. Hal yang penting bagi sang anak, hanyalah RASA es tersebut enak dan dingin serta menarik karena berwarna. Sudah bisa dipastikan, bahwa konsep RASA bagi anak kecil, banyak berkutat pada makanan dan minuman. Tidak heran banyak penjaja makanan dan minuman di sekolah-sekolah yang ‘memodifikasi’ bentuk jualannya menjadi warna warni atau bahkan berpengawet kadar tinggi dengan rasa yang penting enak dilidah. Konsep RASA menjadi sangat dilematis bagi mereka. Jika satu kali saja sang bocah mengatakan bahwa ‘ah, rasa makanan itu kan nggak enak, nggak menarik lagi, beli yang lain aja yuk’, maka sudah bisa dipastikan bahwa dagangan pedagang keliling tersebut tidak akan laku. Ya setidaknya jika ia kerap kali mangkal di satu sekolah yang sama. Namun sebaliknya, jika dagangan itu enak, murah dan berpenampilan menarik menurut anak-anak, maka sudah bisa dipastikan ia akan memanggil teman-temannya untuk membeli dan mencicipi makanan atau minuman tersebut.
Konsep RASA akan menjadi berbeda bagi kalangan remaja, yang tengah menikmati sejuta pengalaman mereka di umur yang belia dan mengasyikkan. Bagi banyak kalangan remaja, kata RASA kerap kali diidentikkan dengan curhat tentang cinta pertama, atau bahkan menemukan gebetan di lingkungan sekolah dan organisasi. Tak jarang musik tentang putih abu-abu didengungkan oleh beberapa penyanyi Indonesia. Sebut saja lagu Kisah Kasih di Sekolah yang dinyanyikan oleh Obbie Messakh, atau juga girl band masa kini yang menyanyikan lagu putih abu-abu sebagai hits andalannya. Jelas sekali bahwa konsep RASA bagi kalangan ini adalah tentang kasih, perhatian, cinta dan sejuta pengalaman lain di usia sebelum 17 tahun atau menginjak 17 tahun.
Selain kalangan anak-anak dan remaja, konsep RASA menjadi semakin berubah ke arah pematangan bahasa, ketika menyentuh kalangan dewasa. Kalangan ini sudah bisa melindungi dirinya dari konsep RASA mengenai makanan atau minuman, dan bahkan konsep RASA mengenai cinta. Bagi kebanyakan mereka, pendewasaan diri adalah dewasa juga dalam arti RASA yang sebenarnya. Karenanya, sering kita temukan bahwa kalangan dewasa sudah mulai berfikir akan pola hidup sehat dan juga ragam rencana masa depan yang matang. Meski demikian, sisi kekanak-kanakkan seseorang tentu tidak pernah berubah. Selalu saja ada RASA yang mendorong kita untuk sesekali bertingkah ‘aneh’ atau out of the box dari kebanyakan konsep hidup orang dewasa.
Tentang RASA mulai masuk pada masa masak, ibarat telor yang direbus, sudah masak jika sudah ada beberapa bagian kulit telurnya yang retak, adalah pada masa lepas dewasa. Seperti hal nya ketika sudah menjadi orang tua, atau bahkan manula. Ketika menjadi orang tua, maka RASA akan lebih bergeser pada konsep tentang kasih sayang sejati, penghidupan yang layak bagi keluarga, kebahagiaan seluruh anggota keluarga dan harmonisasi. Orang tua tidak akan rela membiarkan anak nya makan makanan yang tidak bersih dan higienis, karena takut sakit perut. Orang tua tidak akan rela melihat anaknya tidak dapat bersekolah dan mengakses fasilitas pendidikan yang layak, seperti mungkin pengalamannya ketika masa dulu. Orang tua akan mengusahakan apapun agar anaknya bisa mempunyai mainan yang bagus, seperti teman-teman nya yang lain. Bahkan, orang tua tak tega melihat anaknya hidup sengsara seperti yang dialaminya. Pasangan yang telah bercerai pun tak tega memperlihatkan kemarahan dan adu perbedaan mereka di depan anaknya, dengan alasan RASA sayang mereka pada buah hati. Itulah RASA kasih sayang sejati, yang bukan hanya diartikan sebagai kasih nya dua insan mencinta yang tengah mabuk asmara, namun lebih dari itu.
Akhirnya, tentang RASA membawaku pada sebuah perenungan, bahwa pada level apapun kita berdiri saat ini, entah anak kecil, remaja, dewasa atau bahkan sebagai orang tua, nikmatilah dengan sikap yang bijak. Bijak menempatkan RASA pada tatarannya masing-masing, tanpa menyalahgunakan RASA yang telah diberikan oleh Allah pada seluruh makhluk ciptaannya di dunia ini.
Wallahu a’lam bisshowab.
Jakarta, 28 Maret 2012
Bagi anak SD tersebut, tentu tidak penting apa yang dituangkan oleh tukang es bertopi tersebut. Hal yang penting bagi sang anak, hanyalah RASA es tersebut enak dan dingin serta menarik karena berwarna. Sudah bisa dipastikan, bahwa konsep RASA bagi anak kecil, banyak berkutat pada makanan dan minuman. Tidak heran banyak penjaja makanan dan minuman di sekolah-sekolah yang ‘memodifikasi’ bentuk jualannya menjadi warna warni atau bahkan berpengawet kadar tinggi dengan rasa yang penting enak dilidah. Konsep RASA menjadi sangat dilematis bagi mereka. Jika satu kali saja sang bocah mengatakan bahwa ‘ah, rasa makanan itu kan nggak enak, nggak menarik lagi, beli yang lain aja yuk’, maka sudah bisa dipastikan bahwa dagangan pedagang keliling tersebut tidak akan laku. Ya setidaknya jika ia kerap kali mangkal di satu sekolah yang sama. Namun sebaliknya, jika dagangan itu enak, murah dan berpenampilan menarik menurut anak-anak, maka sudah bisa dipastikan ia akan memanggil teman-temannya untuk membeli dan mencicipi makanan atau minuman tersebut.
Konsep RASA akan menjadi berbeda bagi kalangan remaja, yang tengah menikmati sejuta pengalaman mereka di umur yang belia dan mengasyikkan. Bagi banyak kalangan remaja, kata RASA kerap kali diidentikkan dengan curhat tentang cinta pertama, atau bahkan menemukan gebetan di lingkungan sekolah dan organisasi. Tak jarang musik tentang putih abu-abu didengungkan oleh beberapa penyanyi Indonesia. Sebut saja lagu Kisah Kasih di Sekolah yang dinyanyikan oleh Obbie Messakh, atau juga girl band masa kini yang menyanyikan lagu putih abu-abu sebagai hits andalannya. Jelas sekali bahwa konsep RASA bagi kalangan ini adalah tentang kasih, perhatian, cinta dan sejuta pengalaman lain di usia sebelum 17 tahun atau menginjak 17 tahun.
Selain kalangan anak-anak dan remaja, konsep RASA menjadi semakin berubah ke arah pematangan bahasa, ketika menyentuh kalangan dewasa. Kalangan ini sudah bisa melindungi dirinya dari konsep RASA mengenai makanan atau minuman, dan bahkan konsep RASA mengenai cinta. Bagi kebanyakan mereka, pendewasaan diri adalah dewasa juga dalam arti RASA yang sebenarnya. Karenanya, sering kita temukan bahwa kalangan dewasa sudah mulai berfikir akan pola hidup sehat dan juga ragam rencana masa depan yang matang. Meski demikian, sisi kekanak-kanakkan seseorang tentu tidak pernah berubah. Selalu saja ada RASA yang mendorong kita untuk sesekali bertingkah ‘aneh’ atau out of the box dari kebanyakan konsep hidup orang dewasa.
Tentang RASA mulai masuk pada masa masak, ibarat telor yang direbus, sudah masak jika sudah ada beberapa bagian kulit telurnya yang retak, adalah pada masa lepas dewasa. Seperti hal nya ketika sudah menjadi orang tua, atau bahkan manula. Ketika menjadi orang tua, maka RASA akan lebih bergeser pada konsep tentang kasih sayang sejati, penghidupan yang layak bagi keluarga, kebahagiaan seluruh anggota keluarga dan harmonisasi. Orang tua tidak akan rela membiarkan anak nya makan makanan yang tidak bersih dan higienis, karena takut sakit perut. Orang tua tidak akan rela melihat anaknya tidak dapat bersekolah dan mengakses fasilitas pendidikan yang layak, seperti mungkin pengalamannya ketika masa dulu. Orang tua akan mengusahakan apapun agar anaknya bisa mempunyai mainan yang bagus, seperti teman-teman nya yang lain. Bahkan, orang tua tak tega melihat anaknya hidup sengsara seperti yang dialaminya. Pasangan yang telah bercerai pun tak tega memperlihatkan kemarahan dan adu perbedaan mereka di depan anaknya, dengan alasan RASA sayang mereka pada buah hati. Itulah RASA kasih sayang sejati, yang bukan hanya diartikan sebagai kasih nya dua insan mencinta yang tengah mabuk asmara, namun lebih dari itu.
Akhirnya, tentang RASA membawaku pada sebuah perenungan, bahwa pada level apapun kita berdiri saat ini, entah anak kecil, remaja, dewasa atau bahkan sebagai orang tua, nikmatilah dengan sikap yang bijak. Bijak menempatkan RASA pada tatarannya masing-masing, tanpa menyalahgunakan RASA yang telah diberikan oleh Allah pada seluruh makhluk ciptaannya di dunia ini.
Wallahu a’lam bisshowab.
Jakarta, 28 Maret 2012
Minggu, 11 Maret 2012
Ego Diri, Kesenangan dan Sikap ‘Acuh’ Pemerintah
Jakarta pagi hari, layaknya kota-kota besar di berbagai penjuru dunia nan padat dengan arus mobilitas warganya. Beraktifitas di bilangan kota, membuatku kembali merasakan ritme moda transportasi yang cukup melelahkan, namun asyik untuk diperhatikan. Kenapa kembali? Ya, sebelumnya aktifitas pergi ke dan pulang dari arah kota telah menjadi bagian dari hidupku selama kurang lebih dua tahun belakangan, ketika memutuskan untuk meneruskan studi di bilangan Salemba. Beberapa bulan kosong dari aktifitas tersebut dan fokus dalam hal lain, membuatku perlu merasakan transisi atmosfer yang berbeda dalam menggunakan dan merasakan moda transportasi publik di ibukota ini. Banyak hal menarik untuk diceritakan selama dalam perjalanan. Perjalanan selalu menghadirkan ide segar, refleksi diri dan hikmah yang perlu diambil oleh tiap individu.
Pagi itu, seperti biasa, moda transportasi yang paling sering aku gunakan kini adalah transJakarta busway. Tak perlu di ragukan lagi mengenai jalur. Jika ingin melewati arah Mampang, kemudian Kuningan dan menuju kota melalui Dukuh Atas, tidak ada transportasi lain yang paling ‘memungkinkan’ cepat sampai, kecuali transJakarta. Yaa selain ojek tentunya ya. Meski demikian, waktu menunggu yang lama, serta potret berdesakan yang lumayan menjengkelkan, masih membuat banyak warga ibu kota yang enggan naik bus satu ini. Akhirnya, potret kemacetan ibu kota pun masih saja belum terselesaikan, meski banyak koridor telah di buka oleh pihak Pemda DKI Jakarta. Kejengkelan warga ibukota untuk menunggu kedatangan transJakarta sudah tiap hari kurasakan. Saking jengkelnya, akhirnya sikap diam sambil mengamati, adalah sikap yang ku pilih. Tulisanku kali ini adalah sedikit refleksi dari pengamatanku.
Hari itu, adalah pagi paling sibuk di ibukota. Ya, apalagi jika bukan Senin pagi? Meski baru melewati tiga halte, bus transJakarta sudah terisi penuh, hingga tak satu pun ruang bisa diisi oleh calon penumpang. Tiba di pemberhentian (halte) ke empat, setelah pintu bus terbuka, ada seorang perempuan yang memaksa masuk untuk bisa cepat sampai di kantornya. Terjadilah percakapan yang cukup seru antara dia dan petugas bus transJakarta. “Mba, udah nggak cukup, jangan dipaksa masuk”, ujarnya. Perempuan itu menjawab “Saya nggak mau tahu mas, saya mau masuk. Saya udah nunggu dari tadi ni”. Sang petugas pun berujar, “Nggak bisa mba, nanti kalau mba masuk, saya mau berdiri di mana?”, kilahnya. Tidak mau kalah dan tetap berpendirian keras untuk masuk, sang perempuan kembali berkata, “Ya saya nggak mau tahu mas. Mas kan bisa di mana kek, di depan sana atau di mana. Saya sudah nunggu dari tadi ni mas, lama banget”. Sang petugas pun diam karena kesal. “Ya sudah, silahkan mba masuk, tapi jangan salahkan saya, karena mba ingin masuk, maka bus nya nggak bisa jalan”, ucap sang petugas. Akhirnya, perempuan muda itu diam seraya menggumam dan menunjukkan sikap kesal nya. Aku yakin, penumpang di transJakarta pun akan menanggapi kejadian tersebut dengan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang kesal melihat tingkah laku sang perempuan, karena telah memperlama laju perjalanan. Ada juga yang prihatin karena alasan dia yang telah menunggu lama untuk kedatangan bus, pernah di rasakan pula oleh banyak penumpang. Aku pribadi, sejujurnya memahami kondisi perempuan tersebut. Bagaimana rasanya ketika kita dikejar waktu untuk bisa sampai di kantor tepat waktu dan dengan menaiki transportasi yang nyaman tiap harinya. Wah, tentunya itu dambaan tiap warga Indonesia bukan? Termasuk juga perempuan muda tadi. Bisa jadi karena saking kesalnya tiap hari ia harus menunggu kedatangan transJakarta yang lama, kemudian bus datang satu per satu dengan kondisi padat penumpang, sehingga ia tidak bisa masuk, titik kekesalan ia pun sampai pada puncaknya.
Tidak heran, jika kemudian kita banyak melihat ‘penunjukkan’ ego diri di sekitar kita hadir. Ucapan perempuan muda di atas, yang tidak mempedulikan akan diletakkan di mana sang petugas transJakarta itu, secara tidak sadar, memperlihatkan kemunculan ego manusia, yang ingin kebutuhan dirinya sendiri terpenuhi, tanpa peduli dengan yang lain. Namun, ego seorang warga juga hadir karena sebab akibat, refleksi kekesalannya. Bayangkan jika tiap hari ia harus di sajikan dengan kondisi serupa, padahal ia telah taat mematuhi anjuran pemerintah untuk naik transportasi publik guna mengurai dan mengurangi kemacetan. Maka, wahai pemerintah, jangan salahkan warga jika jumlah motor yang ada di jalan-jalan Jakarta, ibarat lalat yang mengerumuni makanan. Tentu warga sudah jenuh dan kesal dengan kondisi kemacetan yang ada di ibukota. Naik transJakarta, harus menunggu lama dan selalu penuh di jam-jam sibuk. Naik taksi, sudah barang tentu mahal karena terjebak macet. Naik Kopaja atau Metro Mini, padat dan belum lagi hawa sesak yang hadir. Naik motor, hanya akan semakin memenuhi kota yang sudah penuh dengan polusi kendaraan ini. Pada akhirnya, keberadaan transJakarta busway sebetulnya adalah harapan (walau belum masuk pada tahap solusi) bagi warga ibukota untuk bisa merasakan transportasi yang bebas macet, ber AC dan terjangkau harganya. Sayangnya, pemerintah belum melihat itu sebagai upaya peningkatan rasa nyaman warga dalam menggunakan transportasi publik.
Perempuan muda yang bisa kukatakan sedang mengeluarkan ego diri nya itu, tengah merefleksikan bagaimana sebetulnya ia kesal dengan kondisi transportasi publik di Jakarta, yang belum bisa memberikan janji kenyamanan dan ketepatan waktu. Akhirnya, sudah pasti banyak kita jumpai orang-orang yang mudah tersulut emosi nya di Jakarta, karena ‘makanan’ tiap hari yang disediakan oleh Pemda, belum merefleksikan keberpihakan pada warga nya. Kemacetan dan rasa amarah yang gampang hadir ini mengingatkanku pada obrolan dengan dua teman baikku, yang kujumpai secara terpisah. Satu teman baikku yang berasal dari California, Amerika Serikat mengungkapkan rasa senangnya bisa merasakan hidup dan bekerja di Jakarta. Tugas kantornya yang memungkinkan dia untuk berkeliling daerah di Indonesia, membuatnya dapat menggambarkan argumen pribadinya padaku, antara tinggal di Jakarta dan luar Jakarta. Dalam aksen bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata, ia mengatakan bahwa orang-orang di Jakarta memang mengasyikkan. Namun, orang-orang di daerah-daerah yang saya kunjungi lebih mengasyikkan, karena keramahan mereka. Berbeda dengan warga ibukota, ia berpendapat bahwa kadang warga ibukota itu tidak ramah, mementingkan diri sendiri dan hidup masing-masing. Yah, bisa dikatakan bahwa teman baikku ini menganggap bahwa warga ibukota itu selfish. Memang benar adanya. Psikologis warga negara ibukota jelas berbeda dengan warga di daerah. Bisa jadi ke-aku-an warga ibu kota itu, terjadi karena ‘bentukan’ sikap acuh pemerintah. Akumulasi kekesalan warga terefleksi dengan kekecewaan-kekecewaan mereka, seperti salah satunya masalah kemacetan yang di ceritakan juga oleh teman baikku lainnya, yang berasal dari Bangkok, Thailand.
Dengan sedikit senyum dan nada kecewa, ia ungkapkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta terasa lebih parah, dibanding dengan beberapa bulan lalu ketika ia mengunjungi Jakarta untuk menjadi pembicara di salah satu konferensi muslim internasional. Meski demikian, ia mengatakan bahwa Indonesia selalu membuatnya kangen, bahkan anak lelaki nya pun tak lelah untuk mengingatkan bapaknya, yang juga teman baikku ini, untuk membelikannya Indomie goreng rasa rendang di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sang bapak membelikannya dua kardus Indomie sekaligus untuknya. Yaaa, Indonesia, khususnya Jakarta, memang banyak menyimpan cerita dan kenangan. Meski capek menghadapi kemacetan yang tak kunjung terselesaikan di Jakarta, ada saja rasa kangen pada kota ini ketika pergi ke tempat yang berbeda.
Sikap kecewa warga akan rasa nyaman yang diberikan Pemda, nampaknya menggiring warga ibukota untuk mencari kesenangan ‘ala’ mereka pribadi. Persis seperti kejadian kemarin sore yang kualami di bilangan Kalibata, tepatnya di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sore itu, setelah menyapa dan mengajar anak-anak nan lucu serta bersemangat di bilangan Rawajati-Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, aku menaiki angkutan umum yang langsung menuju arah rumahku. Di perjalanan, kondisi sore akhir pekan sudah tentu menghadirkan kemacetan. Nah, di sela kemacetan itu aku mengamati sekian keluarga yang jumlahnya mencapai 10-15 keluarga, tengah memarkir motor mereka masing-masing di parkiran luar TMP Kalibata. Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka (ada yang masih berusia 2-3 tahun, bahkan ada juga yang sudah memasuki SD). Awalnya aku bertanya, mau apa mereka parkir di sekitar TMP ya? akhirnya, setelah kuamati, ternyata mereka membawa keluarga kecilnya ke sana untuk melihat rusa yang ada di lingkungan TMP Kalibata. Rusa-rusa itu nampak menggemaskan memang, layaknya rusa yang ada di DPR dan kebun raya Bogor. Tidak hanya melihat rusa, namun banyak nya pedagang yang berjualan di sekitar TMP pada akhir pekan (keramaiannya ibarat kebun binatang), memungkinkan para keluarga kecil itu untuk hanya sekedar bersenda gurau sambil melihat rusa, atau juga memang sebagai sarana hiburan akhir pekan. Ya, di banding pergi ke mall, tentu melihat rusa dengan keluarga lebih asyik. Sudah tidak keluar kocek mahal untuk makan yang biasanya kena pajak restoran, gratis pula melihat rusa-nya.
Tidak hanya pengunjung yang makan, namun rusa pun diberi makan oleh pengunjung, terutama anak-anak mereka yang sedang dalam masa emas dan tertarik segala sesuatu, termasuk memberi makan rusa. Akhirnya, warga sekitar yang entah dari mana asalnya, mengggunakan kesempatan itu untuk menjual wortel guna pakan sang rusa. Sejujurnya aku baru melihat rusa makan wortel. Aku pun tidak tahu, apakah sebenarnya wortel itu sehat bagi rusa-rusa itu? Yang penting bagi pengunjung adalah, toh rusa-nya senang di kasih makan wortel, dan di lahap juga olehnya. Lama kuamati dan kuberfikir, pencarian kesenangan ini tentu inisiatif mereka pribadi, di tengah maraknya pembangunan mall di Jakarta yang kian mengikis lahan kosong di DKI Jakarta. Pemerintah toh bukannya malah membangun kebun binatang lagi. Padahal, kebun binatang di Ragunan, Jakarta Selatan itu sudah penuh dan ibarat lautan manusia jika akhir pekan. Tentu pembuatan satu kebun binatang lagi akan sangat bermanfaat. Ke mana lagi warga ibukota mencari kesenagan? pergi ke taman, kita bisa lihat bagaimana bentuk Taman Menteng yang katanya menelan harga miliaran itu. Sungguh tidak bisa menyalurkan dan memberikan kesenangan bagi warga. Yang ada, taman itu hanya bagus untuk dilihat (meski menurutku tidak), daripada untuk dinikmati. Jika demikian, salahkah warga ibukota jika mereka akhirnya mencari kesenangan ‘ala’ mereka? Di satu sisi, aku mengkhawatirkan kondisi rusa-rusa itu yang diberi makan apapun dari pengunjung. Di satu sisi, warga ibu kota pun butuh fasilitas penyegaran dan hiburan alami, setelah lima hari berkutat dalam aktifitas kantor masing-masing yang memusingkan.
Semoga saja rasa ego diri dan pencarian kesenangan ‘ala’ pribadi ini bisa menggugah hati pejabat/ Pemda untuk kemudian LEBIH memikirkan kondisi warga nya, dibanding terus memberikan izin untuk pembangunan mall atau square-square lainnya, seperti yang ada di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
12 Maret 2012
Ana Sabhana Azmy
Pagi itu, seperti biasa, moda transportasi yang paling sering aku gunakan kini adalah transJakarta busway. Tak perlu di ragukan lagi mengenai jalur. Jika ingin melewati arah Mampang, kemudian Kuningan dan menuju kota melalui Dukuh Atas, tidak ada transportasi lain yang paling ‘memungkinkan’ cepat sampai, kecuali transJakarta. Yaa selain ojek tentunya ya. Meski demikian, waktu menunggu yang lama, serta potret berdesakan yang lumayan menjengkelkan, masih membuat banyak warga ibu kota yang enggan naik bus satu ini. Akhirnya, potret kemacetan ibu kota pun masih saja belum terselesaikan, meski banyak koridor telah di buka oleh pihak Pemda DKI Jakarta. Kejengkelan warga ibukota untuk menunggu kedatangan transJakarta sudah tiap hari kurasakan. Saking jengkelnya, akhirnya sikap diam sambil mengamati, adalah sikap yang ku pilih. Tulisanku kali ini adalah sedikit refleksi dari pengamatanku.
Hari itu, adalah pagi paling sibuk di ibukota. Ya, apalagi jika bukan Senin pagi? Meski baru melewati tiga halte, bus transJakarta sudah terisi penuh, hingga tak satu pun ruang bisa diisi oleh calon penumpang. Tiba di pemberhentian (halte) ke empat, setelah pintu bus terbuka, ada seorang perempuan yang memaksa masuk untuk bisa cepat sampai di kantornya. Terjadilah percakapan yang cukup seru antara dia dan petugas bus transJakarta. “Mba, udah nggak cukup, jangan dipaksa masuk”, ujarnya. Perempuan itu menjawab “Saya nggak mau tahu mas, saya mau masuk. Saya udah nunggu dari tadi ni”. Sang petugas pun berujar, “Nggak bisa mba, nanti kalau mba masuk, saya mau berdiri di mana?”, kilahnya. Tidak mau kalah dan tetap berpendirian keras untuk masuk, sang perempuan kembali berkata, “Ya saya nggak mau tahu mas. Mas kan bisa di mana kek, di depan sana atau di mana. Saya sudah nunggu dari tadi ni mas, lama banget”. Sang petugas pun diam karena kesal. “Ya sudah, silahkan mba masuk, tapi jangan salahkan saya, karena mba ingin masuk, maka bus nya nggak bisa jalan”, ucap sang petugas. Akhirnya, perempuan muda itu diam seraya menggumam dan menunjukkan sikap kesal nya. Aku yakin, penumpang di transJakarta pun akan menanggapi kejadian tersebut dengan pendapat yang berbeda-beda. Ada yang kesal melihat tingkah laku sang perempuan, karena telah memperlama laju perjalanan. Ada juga yang prihatin karena alasan dia yang telah menunggu lama untuk kedatangan bus, pernah di rasakan pula oleh banyak penumpang. Aku pribadi, sejujurnya memahami kondisi perempuan tersebut. Bagaimana rasanya ketika kita dikejar waktu untuk bisa sampai di kantor tepat waktu dan dengan menaiki transportasi yang nyaman tiap harinya. Wah, tentunya itu dambaan tiap warga Indonesia bukan? Termasuk juga perempuan muda tadi. Bisa jadi karena saking kesalnya tiap hari ia harus menunggu kedatangan transJakarta yang lama, kemudian bus datang satu per satu dengan kondisi padat penumpang, sehingga ia tidak bisa masuk, titik kekesalan ia pun sampai pada puncaknya.
Tidak heran, jika kemudian kita banyak melihat ‘penunjukkan’ ego diri di sekitar kita hadir. Ucapan perempuan muda di atas, yang tidak mempedulikan akan diletakkan di mana sang petugas transJakarta itu, secara tidak sadar, memperlihatkan kemunculan ego manusia, yang ingin kebutuhan dirinya sendiri terpenuhi, tanpa peduli dengan yang lain. Namun, ego seorang warga juga hadir karena sebab akibat, refleksi kekesalannya. Bayangkan jika tiap hari ia harus di sajikan dengan kondisi serupa, padahal ia telah taat mematuhi anjuran pemerintah untuk naik transportasi publik guna mengurai dan mengurangi kemacetan. Maka, wahai pemerintah, jangan salahkan warga jika jumlah motor yang ada di jalan-jalan Jakarta, ibarat lalat yang mengerumuni makanan. Tentu warga sudah jenuh dan kesal dengan kondisi kemacetan yang ada di ibukota. Naik transJakarta, harus menunggu lama dan selalu penuh di jam-jam sibuk. Naik taksi, sudah barang tentu mahal karena terjebak macet. Naik Kopaja atau Metro Mini, padat dan belum lagi hawa sesak yang hadir. Naik motor, hanya akan semakin memenuhi kota yang sudah penuh dengan polusi kendaraan ini. Pada akhirnya, keberadaan transJakarta busway sebetulnya adalah harapan (walau belum masuk pada tahap solusi) bagi warga ibukota untuk bisa merasakan transportasi yang bebas macet, ber AC dan terjangkau harganya. Sayangnya, pemerintah belum melihat itu sebagai upaya peningkatan rasa nyaman warga dalam menggunakan transportasi publik.
Perempuan muda yang bisa kukatakan sedang mengeluarkan ego diri nya itu, tengah merefleksikan bagaimana sebetulnya ia kesal dengan kondisi transportasi publik di Jakarta, yang belum bisa memberikan janji kenyamanan dan ketepatan waktu. Akhirnya, sudah pasti banyak kita jumpai orang-orang yang mudah tersulut emosi nya di Jakarta, karena ‘makanan’ tiap hari yang disediakan oleh Pemda, belum merefleksikan keberpihakan pada warga nya. Kemacetan dan rasa amarah yang gampang hadir ini mengingatkanku pada obrolan dengan dua teman baikku, yang kujumpai secara terpisah. Satu teman baikku yang berasal dari California, Amerika Serikat mengungkapkan rasa senangnya bisa merasakan hidup dan bekerja di Jakarta. Tugas kantornya yang memungkinkan dia untuk berkeliling daerah di Indonesia, membuatnya dapat menggambarkan argumen pribadinya padaku, antara tinggal di Jakarta dan luar Jakarta. Dalam aksen bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata, ia mengatakan bahwa orang-orang di Jakarta memang mengasyikkan. Namun, orang-orang di daerah-daerah yang saya kunjungi lebih mengasyikkan, karena keramahan mereka. Berbeda dengan warga ibukota, ia berpendapat bahwa kadang warga ibukota itu tidak ramah, mementingkan diri sendiri dan hidup masing-masing. Yah, bisa dikatakan bahwa teman baikku ini menganggap bahwa warga ibukota itu selfish. Memang benar adanya. Psikologis warga negara ibukota jelas berbeda dengan warga di daerah. Bisa jadi ke-aku-an warga ibu kota itu, terjadi karena ‘bentukan’ sikap acuh pemerintah. Akumulasi kekesalan warga terefleksi dengan kekecewaan-kekecewaan mereka, seperti salah satunya masalah kemacetan yang di ceritakan juga oleh teman baikku lainnya, yang berasal dari Bangkok, Thailand.
Dengan sedikit senyum dan nada kecewa, ia ungkapkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta terasa lebih parah, dibanding dengan beberapa bulan lalu ketika ia mengunjungi Jakarta untuk menjadi pembicara di salah satu konferensi muslim internasional. Meski demikian, ia mengatakan bahwa Indonesia selalu membuatnya kangen, bahkan anak lelaki nya pun tak lelah untuk mengingatkan bapaknya, yang juga teman baikku ini, untuk membelikannya Indomie goreng rasa rendang di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sang bapak membelikannya dua kardus Indomie sekaligus untuknya. Yaaa, Indonesia, khususnya Jakarta, memang banyak menyimpan cerita dan kenangan. Meski capek menghadapi kemacetan yang tak kunjung terselesaikan di Jakarta, ada saja rasa kangen pada kota ini ketika pergi ke tempat yang berbeda.
Sikap kecewa warga akan rasa nyaman yang diberikan Pemda, nampaknya menggiring warga ibukota untuk mencari kesenangan ‘ala’ mereka pribadi. Persis seperti kejadian kemarin sore yang kualami di bilangan Kalibata, tepatnya di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sore itu, setelah menyapa dan mengajar anak-anak nan lucu serta bersemangat di bilangan Rawajati-Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, aku menaiki angkutan umum yang langsung menuju arah rumahku. Di perjalanan, kondisi sore akhir pekan sudah tentu menghadirkan kemacetan. Nah, di sela kemacetan itu aku mengamati sekian keluarga yang jumlahnya mencapai 10-15 keluarga, tengah memarkir motor mereka masing-masing di parkiran luar TMP Kalibata. Satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka (ada yang masih berusia 2-3 tahun, bahkan ada juga yang sudah memasuki SD). Awalnya aku bertanya, mau apa mereka parkir di sekitar TMP ya? akhirnya, setelah kuamati, ternyata mereka membawa keluarga kecilnya ke sana untuk melihat rusa yang ada di lingkungan TMP Kalibata. Rusa-rusa itu nampak menggemaskan memang, layaknya rusa yang ada di DPR dan kebun raya Bogor. Tidak hanya melihat rusa, namun banyak nya pedagang yang berjualan di sekitar TMP pada akhir pekan (keramaiannya ibarat kebun binatang), memungkinkan para keluarga kecil itu untuk hanya sekedar bersenda gurau sambil melihat rusa, atau juga memang sebagai sarana hiburan akhir pekan. Ya, di banding pergi ke mall, tentu melihat rusa dengan keluarga lebih asyik. Sudah tidak keluar kocek mahal untuk makan yang biasanya kena pajak restoran, gratis pula melihat rusa-nya.
Tidak hanya pengunjung yang makan, namun rusa pun diberi makan oleh pengunjung, terutama anak-anak mereka yang sedang dalam masa emas dan tertarik segala sesuatu, termasuk memberi makan rusa. Akhirnya, warga sekitar yang entah dari mana asalnya, mengggunakan kesempatan itu untuk menjual wortel guna pakan sang rusa. Sejujurnya aku baru melihat rusa makan wortel. Aku pun tidak tahu, apakah sebenarnya wortel itu sehat bagi rusa-rusa itu? Yang penting bagi pengunjung adalah, toh rusa-nya senang di kasih makan wortel, dan di lahap juga olehnya. Lama kuamati dan kuberfikir, pencarian kesenangan ini tentu inisiatif mereka pribadi, di tengah maraknya pembangunan mall di Jakarta yang kian mengikis lahan kosong di DKI Jakarta. Pemerintah toh bukannya malah membangun kebun binatang lagi. Padahal, kebun binatang di Ragunan, Jakarta Selatan itu sudah penuh dan ibarat lautan manusia jika akhir pekan. Tentu pembuatan satu kebun binatang lagi akan sangat bermanfaat. Ke mana lagi warga ibukota mencari kesenagan? pergi ke taman, kita bisa lihat bagaimana bentuk Taman Menteng yang katanya menelan harga miliaran itu. Sungguh tidak bisa menyalurkan dan memberikan kesenangan bagi warga. Yang ada, taman itu hanya bagus untuk dilihat (meski menurutku tidak), daripada untuk dinikmati. Jika demikian, salahkah warga ibukota jika mereka akhirnya mencari kesenangan ‘ala’ mereka? Di satu sisi, aku mengkhawatirkan kondisi rusa-rusa itu yang diberi makan apapun dari pengunjung. Di satu sisi, warga ibu kota pun butuh fasilitas penyegaran dan hiburan alami, setelah lima hari berkutat dalam aktifitas kantor masing-masing yang memusingkan.
Semoga saja rasa ego diri dan pencarian kesenangan ‘ala’ pribadi ini bisa menggugah hati pejabat/ Pemda untuk kemudian LEBIH memikirkan kondisi warga nya, dibanding terus memberikan izin untuk pembangunan mall atau square-square lainnya, seperti yang ada di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
12 Maret 2012
Ana Sabhana Azmy
Langganan:
Postingan (Atom)