Dulu ketika aku masih mondok di salah satu pesantren favoritku yaitu Gontor Puteri, mataku tertuju pada sebuah papan yang bertuliskan "Darussalam" atau kampung damai. Saat itu aku tidak begitu memikirkan kata itu, hanya sempat hadir dalam fikiranku, apa yang dimaksud dengan kampung damai?
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah enam setengah tahun aku bersekolah di Pondok tercinta, sebuah kampung nan damai. Dalam interaksi ku dengan kawan-kawan dari seantero Indonesia, aku merasa banyak hal yang kudapat. Baik pergumulanku dengan berbagai macam disiplin ilmu dan pada ilmu mana akhirnya aku menjatuhkan hati/pilihan, interaksi pertemanan yang seru dan kadang diwarnai dengan canda tawa serta air mata, pembelajaran menjadi penanggung jawab dalam tiap organisasi yang kita pilih, serta kepanitiaan yang ada, sejak kelas satu hingga enam. Meski alat komunikasi berupa handphone tidak diperbolehkan, namun aku merasa bahwa dunia di pondok telah membawaku pada bentuk komunikasi yang aktif dan selalu menekankan two way communication, dengan arti bahwa kita harus menghormati lawan bicara kita, siapapun itu dengan tidak memandang siapa dan dari mana dia.
Pada akhirnya, aku merasakan kedamaian yang dimaksud di kampung damai ini, Gontor Puteri Darussalam. Beberapa kali aku memang kena sanksi dari bagian bahasa dan keamanan, namun sanksi yang aku jalani tidak pernah membuatku merasa terbebani, mungkin karena memang itulah konsekuensi yang harus aku jalani dari sebuah pelanggaran yang aku lakukan.
Sesekali otakku berusaha untuk mengatakan pada diri ini, bisa jadi kedamaian yang kau rasakan adalah karena kehidupanmu di pondok, belum lah menjadi kehidupan yang sebenarnya, masih kehidupan surga, kehidupan penuh damai yang jauh dari hingar bingar kepentingan politik, kepentingan beberapa pihak dan juga belum terasanya apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes "Homo Homini Lupus" (Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Namun, rasanya kehidupan yang aku rasakan di sana, meski jauh dari keluarga adalah kehidupan yang mendamaikan diri. Bukan karena aku merasa senang berada jauh dari keluarga, namun karena aku bisa dengan bebas menyatakan apa yang aku mau, bergerak sesuai inginku, mempunyai aktifitas yang aku sukai, tak peduli apakah dampak dari semuanya itu akan merugikanku atau bahkan menguntungkanku. Tidak selalu tentang perhitungan seperti para politis, yang berfikir untung atau rugi ketika dekat dengan seseorang, atau melakukan suatu hal.
Tak terasa aku sudah hengkang dari pondok selama kurang lebih sembilan tahun. Rasanya saat ini kedamaian itu semakin sulit aku cari. Diri ini terlalu sibuk memikirkan apa kata orang nanti, terlalu takut mengambil resiko yang ada, terlalu banyak keinginan tanpa tahu akan fokus di mana, ah masih banyak terlalu terlalu dan terlalu lainnya. Aku merasa seperti diri yang terlalu mem-push diriku untuk seperti ini dan itu. Akhirnya, aku tidak merasakan lagi arti sebuah kedamaian. Tibalah pada keinginan diri untuk hengkang, meninggalkan hingar bingar ibukota yang sudah semakin tidak memberikan rasa damai. Ah, atau mungkin batin ini saja yang haus akan rasa damai? sehingga bisa jadi bukan karena di mana aku tinggal, tapi karena aku belum menemukan arti damai yang sesungguhnya selepas meninggalkan pondok tercinta.
Jakarta, 20 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
Kamis, 15 November 2012
Sebuah Ibukota bernama Washington DC
Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di ibukota Negara Amerika Serikat. Negara yang terkenal dengan label demokratisasi nya di dunia, Negara yang terkenal dengan adi daya nya dan juga Negara yang dulu hanya bisa kubayangkan seluk beluk nya lewat pelajaran bahasa Inggris ketika mondok di Pondok tercinta, Gontor Puteri. Subhanallah.. rasanya seperti mimpi ketika Allah menganugerahiku dengan kesempatan mengikuti International Visitors Leadership Program (IVLP) selama tiga minggu di AS untuk memantau jalannya Pemilu dan politik AS , itupun dengan mengelilingi tujuh Negara bagian yang mempunyai keunikan masing-masing.
Dengan dukungan berbagai pihak, terutama Dekan FISIP UIN Jakarta, tempatku mengabdi, aku pun bertekad untuk juga mendalami isu peran agama dalam politik/ Pemilu AS serta partisipasi perempuan dalam kancah politik di sana, sebagai bidang konsentrasiku selama ini. Tak terasa, perjalanan selama dua hari satu malam membawaku pada kota tujuan pertama dari rangkaian program ini, Washington DC.
Kota ini sungguh nyaman dan kondusif sebagai ibukota Negara. Gedung-gedung tinggi memang sering kita temui, layaknya Jakarta. Namun, satu hal yang sangat kusukai adalah tata kota nya yang asri dan nyaman. Di tiap sudut kota, kita bisa sangat mudah menemui berbagai taman kota, lengkap dengan pohon nan rindang, patung para pahlawan mereka, sejumlah kursi taman juga kicauan burung yang indah. Ditambah lagi dengan absennya asap kendaraan sebagai polusi udara yang sangat mudah kita temui di ibukota Jakarta, menjadikan kota ini sangat nyaman untuk ditempati, bahkan menjadi tujuan wisata para turis asing. Baru kuketahui bahwa DC itu adalah kepanjangan dari District of Columbus. Sehingga nama Washington DC diambil dari George Washington dan Christopher Columbus.
Washington DC terletak diantara Negara bagian Maryland dan Virginia. Ibukota ini tidak termasuk bagian dari Negara bagian manapun, sehingga tidak bisa mengajukan pilihannya untuk perwakilan senat, juga representatif di parlemen. Sebagai ibukota, urusan utama Washington DC adalah pada politik nasional dan internasional. Industri privat mereka adalah turisme, dengan angka sekitar 14-15 juta pengunjung yang datang ke kota ini tiap tahunnya. Sedangkan di bidang pendidikan, ibukota ini mempunyai 22 sekolah, ragam universitas dan juga berbagai museum, perpustakaan serta ragam masyarakat nya.
Salah satu tempat yang ku kunjungi sebagai langkah utama guna mengetahui historisitas mereka adalah National Mall. Ketika mendengar kata mall, sepintas aku membayangkan banyak nya mall-mall besar yang menjamur di ibukota, tanyaku pun hadir, apakah sama wajah nya dengan mall yang di maksud di Jakarta? Ternyata tidak. National Mall adalah sebuah area yang terletak diantara jalan ‘Constitution dan Independence’, membentuk tata kota, dengan hadirnya bangunan utama US di sebelah timur dan Lincoln Memorial di sebelah barat. Selain itu, masih banyak tempat wisata sejarah yang berlokasi ataupun dekat dengan National Mall. Ada gedung putih, monumen Washington, Galeri seni nasional, gedung Capitol AS (tempat kongres AS bersidang), Vietnam memorial (tempat untuk memperingati orang-orang Amerika yang gugur atau hilang ketika perang Vietnam), museum memorial Holocaust US dan juga memorial Thomas Jefferson (sumber dokumen IVLP).
Di ibukota Negara inilah rangkaian perjalanan kami, 16 partisipan dari Asia-Fasifik dimulai. Hari pertama diisi dengan pengenalan terhadap struktur pemerintahan US, desentralisasi nya dan pembagian kekuasaan, menjadi kekuasaan federal, negara bagian dan pemerintahan lokal di US yang diisi oleh Charles Spencer PhD, dosen bidang federalisme.
UUD yang diadopsi tahun 1787 memberikan kekuasaan eksekutif kepada Presiden yang masih bertahan hingga kini. UUD mengharuskan jabatan Presiden diisi oleh warga negara kelahiran Amerika yang minimal berusia 35 tahun. Pilpres diadakan tiap empat tahun sekali dan hanya boleh dua kali masa kerja sesuai amanat ke 21 yang diratifikasi tahun 1951. Gagasan pembagian kekuasaan serta keseimbangan lahir dari the federalist, yang merupakan karya penting mengenai filsafat politik dan pemerintahan yang pernah ditulis di AS. The federalist papers jugalah yang memberikan gagasan mengenai apa yang dikenal dengan check and balances. Anggota house of representatives hasil pilihan publik akan diawasi dan diimbangi oleh sebuah senat yang ditentukan oleh legislatif negara bagian (Amandemen UU yang ke 17 pada tahun 1913 mengubah aturan ini dengan menetapkan adanya pemilu bagi calon senator). Hal ini dibangun dengan argumen dari Alexander Hamilton, salah satu pemikir selain James Madison yang mempunyai buah fikiran akan sistem pemerintahan AS, bahwa “sebuah majelis yang demokratis harus diawasi oleh senat yang yang demokratis dan keduanya oleh Presiden yang demokratis pula).
Sedangkan gagasan pemisahan kekuasaan antara lembaga adalah sebagai upaya menghindari tirani dari kekuasaan yang terpusat. Namun federalist paper juga melihat bahwa ada kebajikan lain, yaitu meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemerintahan. Karena terpisah, maka mereka akan mengembangkan keahlian dan peran masing-masing, hal yang nampak mustahil jika lembaga tersebut digabung (diambil dari buku Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat, Deplu AS). Charles pun melontarkan pertanyaan, dalam demokrasi modern, lantas bagaimana pemerintahan nasional memberikan kepercayaan pada semua negara bagian untuk mengatur tiap permasalahan? Jawabnya adalah bahwa mereka mengupayakan standarisasi nasional. Misal dalam kesehatan publik, pendidikan dan juga keamanan, maka ada standarisasi bersama. Tiap negara bagian boleh memiliki aturan masing-masing, namun ada standarisasi nasional yang diamini bersama. Hanya kongres yang bisa membuat pola pemerintahan baru dan juga mempunyai kekuatan untuk mendeklarasikan perang dibawah payung konstitusi.
Pada pola judicial, terdapat district court di tiap negara bagian, agar tiap negara bagian bisa menyelesaikan permasalahan hukum dan juga tidak segala urusan diselesaikan di pusat. Seorang hakim hanya bisa berhenti dari posisi nya karena kematian atau pengajuan pengunduran diri serta pensiun. Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi di AS dan satu-satunya yang dibentuk oleh Konstitusi. MA mempunyai hak yuridis asli hanya dalam dua macam kasus: yang melibatkan orang-orang penting asing dan yang melibatkan negara bagian. Sedangkan kasus lain, bisa sampai ke meja MA karena banding dari pengadilan yang lebih rendah. Mekanisme pembagian kekuasaan ini mengingatkanku pada pola pemerintahan yang kita anut. Meski demikian, sistem multipartai yang kita anut, jelas berbeda dengan sistem dua partai di Amerika Serikat, walau banyak juga beberapa pihak di AS mempertanyakan sistem dua partai yang tidak mencerminkan keberpihakan atas ragam aspirasi yang ada.
Sekilas pengetahuan tentang pemerintahan AS hari itu, membawaku untuk menyimak dan melihat kembali perbandingan yang ada dari dua Negara, yaitu Indonesia dan AS. Lebih penting lagi adalah mekanisme Pemilu di dua Negara yang katanya mempraktekkan demokratisasi. Ah, Washington DC semakin menarik menjelang siang. Tiba waktunya untuk berkeliling, menikmati kudapan makan siang, serta menjelajahi sudut lain dari ibukota negara ini.
Ana Sabhana Azmy
Oktober 2012.
Dengan dukungan berbagai pihak, terutama Dekan FISIP UIN Jakarta, tempatku mengabdi, aku pun bertekad untuk juga mendalami isu peran agama dalam politik/ Pemilu AS serta partisipasi perempuan dalam kancah politik di sana, sebagai bidang konsentrasiku selama ini. Tak terasa, perjalanan selama dua hari satu malam membawaku pada kota tujuan pertama dari rangkaian program ini, Washington DC.
Kota ini sungguh nyaman dan kondusif sebagai ibukota Negara. Gedung-gedung tinggi memang sering kita temui, layaknya Jakarta. Namun, satu hal yang sangat kusukai adalah tata kota nya yang asri dan nyaman. Di tiap sudut kota, kita bisa sangat mudah menemui berbagai taman kota, lengkap dengan pohon nan rindang, patung para pahlawan mereka, sejumlah kursi taman juga kicauan burung yang indah. Ditambah lagi dengan absennya asap kendaraan sebagai polusi udara yang sangat mudah kita temui di ibukota Jakarta, menjadikan kota ini sangat nyaman untuk ditempati, bahkan menjadi tujuan wisata para turis asing. Baru kuketahui bahwa DC itu adalah kepanjangan dari District of Columbus. Sehingga nama Washington DC diambil dari George Washington dan Christopher Columbus.
Washington DC terletak diantara Negara bagian Maryland dan Virginia. Ibukota ini tidak termasuk bagian dari Negara bagian manapun, sehingga tidak bisa mengajukan pilihannya untuk perwakilan senat, juga representatif di parlemen. Sebagai ibukota, urusan utama Washington DC adalah pada politik nasional dan internasional. Industri privat mereka adalah turisme, dengan angka sekitar 14-15 juta pengunjung yang datang ke kota ini tiap tahunnya. Sedangkan di bidang pendidikan, ibukota ini mempunyai 22 sekolah, ragam universitas dan juga berbagai museum, perpustakaan serta ragam masyarakat nya.
Salah satu tempat yang ku kunjungi sebagai langkah utama guna mengetahui historisitas mereka adalah National Mall. Ketika mendengar kata mall, sepintas aku membayangkan banyak nya mall-mall besar yang menjamur di ibukota, tanyaku pun hadir, apakah sama wajah nya dengan mall yang di maksud di Jakarta? Ternyata tidak. National Mall adalah sebuah area yang terletak diantara jalan ‘Constitution dan Independence’, membentuk tata kota, dengan hadirnya bangunan utama US di sebelah timur dan Lincoln Memorial di sebelah barat. Selain itu, masih banyak tempat wisata sejarah yang berlokasi ataupun dekat dengan National Mall. Ada gedung putih, monumen Washington, Galeri seni nasional, gedung Capitol AS (tempat kongres AS bersidang), Vietnam memorial (tempat untuk memperingati orang-orang Amerika yang gugur atau hilang ketika perang Vietnam), museum memorial Holocaust US dan juga memorial Thomas Jefferson (sumber dokumen IVLP).
Di ibukota Negara inilah rangkaian perjalanan kami, 16 partisipan dari Asia-Fasifik dimulai. Hari pertama diisi dengan pengenalan terhadap struktur pemerintahan US, desentralisasi nya dan pembagian kekuasaan, menjadi kekuasaan federal, negara bagian dan pemerintahan lokal di US yang diisi oleh Charles Spencer PhD, dosen bidang federalisme.
UUD yang diadopsi tahun 1787 memberikan kekuasaan eksekutif kepada Presiden yang masih bertahan hingga kini. UUD mengharuskan jabatan Presiden diisi oleh warga negara kelahiran Amerika yang minimal berusia 35 tahun. Pilpres diadakan tiap empat tahun sekali dan hanya boleh dua kali masa kerja sesuai amanat ke 21 yang diratifikasi tahun 1951. Gagasan pembagian kekuasaan serta keseimbangan lahir dari the federalist, yang merupakan karya penting mengenai filsafat politik dan pemerintahan yang pernah ditulis di AS. The federalist papers jugalah yang memberikan gagasan mengenai apa yang dikenal dengan check and balances. Anggota house of representatives hasil pilihan publik akan diawasi dan diimbangi oleh sebuah senat yang ditentukan oleh legislatif negara bagian (Amandemen UU yang ke 17 pada tahun 1913 mengubah aturan ini dengan menetapkan adanya pemilu bagi calon senator). Hal ini dibangun dengan argumen dari Alexander Hamilton, salah satu pemikir selain James Madison yang mempunyai buah fikiran akan sistem pemerintahan AS, bahwa “sebuah majelis yang demokratis harus diawasi oleh senat yang yang demokratis dan keduanya oleh Presiden yang demokratis pula).
Sedangkan gagasan pemisahan kekuasaan antara lembaga adalah sebagai upaya menghindari tirani dari kekuasaan yang terpusat. Namun federalist paper juga melihat bahwa ada kebajikan lain, yaitu meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemerintahan. Karena terpisah, maka mereka akan mengembangkan keahlian dan peran masing-masing, hal yang nampak mustahil jika lembaga tersebut digabung (diambil dari buku Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat, Deplu AS). Charles pun melontarkan pertanyaan, dalam demokrasi modern, lantas bagaimana pemerintahan nasional memberikan kepercayaan pada semua negara bagian untuk mengatur tiap permasalahan? Jawabnya adalah bahwa mereka mengupayakan standarisasi nasional. Misal dalam kesehatan publik, pendidikan dan juga keamanan, maka ada standarisasi bersama. Tiap negara bagian boleh memiliki aturan masing-masing, namun ada standarisasi nasional yang diamini bersama. Hanya kongres yang bisa membuat pola pemerintahan baru dan juga mempunyai kekuatan untuk mendeklarasikan perang dibawah payung konstitusi.
Pada pola judicial, terdapat district court di tiap negara bagian, agar tiap negara bagian bisa menyelesaikan permasalahan hukum dan juga tidak segala urusan diselesaikan di pusat. Seorang hakim hanya bisa berhenti dari posisi nya karena kematian atau pengajuan pengunduran diri serta pensiun. Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi di AS dan satu-satunya yang dibentuk oleh Konstitusi. MA mempunyai hak yuridis asli hanya dalam dua macam kasus: yang melibatkan orang-orang penting asing dan yang melibatkan negara bagian. Sedangkan kasus lain, bisa sampai ke meja MA karena banding dari pengadilan yang lebih rendah. Mekanisme pembagian kekuasaan ini mengingatkanku pada pola pemerintahan yang kita anut. Meski demikian, sistem multipartai yang kita anut, jelas berbeda dengan sistem dua partai di Amerika Serikat, walau banyak juga beberapa pihak di AS mempertanyakan sistem dua partai yang tidak mencerminkan keberpihakan atas ragam aspirasi yang ada.
Sekilas pengetahuan tentang pemerintahan AS hari itu, membawaku untuk menyimak dan melihat kembali perbandingan yang ada dari dua Negara, yaitu Indonesia dan AS. Lebih penting lagi adalah mekanisme Pemilu di dua Negara yang katanya mempraktekkan demokratisasi. Ah, Washington DC semakin menarik menjelang siang. Tiba waktunya untuk berkeliling, menikmati kudapan makan siang, serta menjelajahi sudut lain dari ibukota negara ini.
Ana Sabhana Azmy
Oktober 2012.
Rabu, 15 Agustus 2012
IBU....
Jakarta, kota metropolitan ini memang tidak pernah sepi dari hingar bingar mobilitas kehidupan. Rasanya, tidak pernah ada kata istirahat bagi kota yang baru saja berulang tahun ke 484 ini. Menapaki jalan-jalan di kota Jakarta pada siang hari, seperti dua sisi yang saling tarik menarik. Setidaknya bagiku, menyenangkan karena bisa mengamati kehidupan sekitar warga Jakarta. Menjadi tidak menyenangkan karena terik matahari yang hadir di kota Jakarta lumayan menguji kadar kesabaran.
Salah satu hal yang kuamati di siang hari itu adalah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Antrian transJakarta busway yang sudah menjadi ‘makananku’ setiap hari, selalu mengundang hal menarik untuk diamati. Siang itu, sang ibu tengah mengantri di antrian bus transJakarta busway arah Blok M. Anak paling kecil dengan umur sekitar 2 tahun tengah digendongnya. Anak pertamanya adalah perempuan yang kutaksir berumur 7 tahun. Sedangkan anak keduanya adalah laki-laki yang kutaksir berumur sekitar 5 tahun. Sepintas tidak ada yang salah dengan kondisi itu. Ada seorang ibu tengah membawa tiga orang anaknya untuk naik transJakarta busway.
Namun pengamatanku dimulai saat bus transJakarta tak kunjung datang alias ‘ngaret’ dan anak laki-laki keduanya mulai resah, seraya merengek untuk minta digendong. Dengan kondisi bingung, sang ibu pun mulai mengiyakan rengekan anak laki-lakinya. Ia melepaskan anak ketiganya dari gendongan dan kemudian menitipkannya pada anak pertamanya. Anak keduanya pun senang dan tersenyum, begitupun dengan sang bungsu yang memberikan senyuman termanisnya untuk sang kakak, tanpa sedikitpun terlihat kecewa. Tak berapa lama, bus transJakarta pun datang. Kondisi bus yang sudah sesak dengan lautan manusia pun membuat ibu tersebut urung masuk. Seraya menunggu kehadiran bus berikutnya, ia meminta pada anak perempuannya untuk melepaskan gendongan sang bungsu dan menurunkan kembali anak keduanya setelah puas digendong oleh sang ibu. Setelah itu, ibu yang tak pernah menunjukkan muka lelahnya ini kembali menggendong anak bungsunya dan merangkul kedua anaknya. Ternyata, bus transJakarta berikutnya kembali datang. Kali ini ia bisa masuk atau bahkan terkesan memaksa masuk meski kondisi bus lumayan padat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kemudian kondisi sang ibu dan tiga anak nya tersebut di dalam bus transJakarta yang mana kondisi sebagian armadanya sudah tidak nyaman lagi, terutama bus transJakarta lama dengan warna kuning. Meski kemudian sang ibu masuk pada bagian “khusus area wanita” di dalam transJakarta busway, bagaimana dengan kedua anaknya yang juga masih kecil? Aku membayangkan perjuangan tak kenal lelah dari seorang ibu dalam membesarkan, melindungi dan mengayomi anak-anaknya. Tak berapa lama ibu tiga anak tersebut berlalu dari hadapanku yang masih ada di urutan antrian ke sekian, datang kembali seorang ibu dengan paras cantiknya, tengah menggandeng dua buah hatinya yang juga masih kecil. Seraya terus menggandeng mereka, ibu paruh baya tersebut berujar, “ nanti di bus jangan jauh dari mama ya nak”. Subhanallah, betapa kasih sayang ibu memang tak pernah habis sepanjang masa. Terdetik dalam benakku, sudahkah kita membalas kasih sayang mereka dalam usia kita yang beranjak dewasa?
Sontak rasa kangen luar biasa hadir dalam hati dan tak sabar untuk bertemu dengan ibu tersayang di rumah. Ibu.. begitu mulia perjuanganmu, tak kenal lelah mengayomi, mendidik dan memberikan seluruh kasih sayangmu pada buah hati. Semoga perjuangan para ibu nan hebat, berbuah doa bagi anak-anaknya sebagai generasi muda ke depan, untuk meraih kesuksesan hakiki dunia dan akhirat. Amin.
Jakarta, 16 Agustus 2012
Salah satu hal yang kuamati di siang hari itu adalah seorang ibu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Antrian transJakarta busway yang sudah menjadi ‘makananku’ setiap hari, selalu mengundang hal menarik untuk diamati. Siang itu, sang ibu tengah mengantri di antrian bus transJakarta busway arah Blok M. Anak paling kecil dengan umur sekitar 2 tahun tengah digendongnya. Anak pertamanya adalah perempuan yang kutaksir berumur 7 tahun. Sedangkan anak keduanya adalah laki-laki yang kutaksir berumur sekitar 5 tahun. Sepintas tidak ada yang salah dengan kondisi itu. Ada seorang ibu tengah membawa tiga orang anaknya untuk naik transJakarta busway.
Namun pengamatanku dimulai saat bus transJakarta tak kunjung datang alias ‘ngaret’ dan anak laki-laki keduanya mulai resah, seraya merengek untuk minta digendong. Dengan kondisi bingung, sang ibu pun mulai mengiyakan rengekan anak laki-lakinya. Ia melepaskan anak ketiganya dari gendongan dan kemudian menitipkannya pada anak pertamanya. Anak keduanya pun senang dan tersenyum, begitupun dengan sang bungsu yang memberikan senyuman termanisnya untuk sang kakak, tanpa sedikitpun terlihat kecewa. Tak berapa lama, bus transJakarta pun datang. Kondisi bus yang sudah sesak dengan lautan manusia pun membuat ibu tersebut urung masuk. Seraya menunggu kehadiran bus berikutnya, ia meminta pada anak perempuannya untuk melepaskan gendongan sang bungsu dan menurunkan kembali anak keduanya setelah puas digendong oleh sang ibu. Setelah itu, ibu yang tak pernah menunjukkan muka lelahnya ini kembali menggendong anak bungsunya dan merangkul kedua anaknya. Ternyata, bus transJakarta berikutnya kembali datang. Kali ini ia bisa masuk atau bahkan terkesan memaksa masuk meski kondisi bus lumayan padat.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kemudian kondisi sang ibu dan tiga anak nya tersebut di dalam bus transJakarta yang mana kondisi sebagian armadanya sudah tidak nyaman lagi, terutama bus transJakarta lama dengan warna kuning. Meski kemudian sang ibu masuk pada bagian “khusus area wanita” di dalam transJakarta busway, bagaimana dengan kedua anaknya yang juga masih kecil? Aku membayangkan perjuangan tak kenal lelah dari seorang ibu dalam membesarkan, melindungi dan mengayomi anak-anaknya. Tak berapa lama ibu tiga anak tersebut berlalu dari hadapanku yang masih ada di urutan antrian ke sekian, datang kembali seorang ibu dengan paras cantiknya, tengah menggandeng dua buah hatinya yang juga masih kecil. Seraya terus menggandeng mereka, ibu paruh baya tersebut berujar, “ nanti di bus jangan jauh dari mama ya nak”. Subhanallah, betapa kasih sayang ibu memang tak pernah habis sepanjang masa. Terdetik dalam benakku, sudahkah kita membalas kasih sayang mereka dalam usia kita yang beranjak dewasa?
Sontak rasa kangen luar biasa hadir dalam hati dan tak sabar untuk bertemu dengan ibu tersayang di rumah. Ibu.. begitu mulia perjuanganmu, tak kenal lelah mengayomi, mendidik dan memberikan seluruh kasih sayangmu pada buah hati. Semoga perjuangan para ibu nan hebat, berbuah doa bagi anak-anaknya sebagai generasi muda ke depan, untuk meraih kesuksesan hakiki dunia dan akhirat. Amin.
Jakarta, 16 Agustus 2012
Jumat, 27 Juli 2012
Sebuah KE-PERNAH-AN..
Status Facebook salah seorang temanku beberapa hari lalu mengenai sebuah Ke-pernah-an, membuatku diam tertegun, mengingat segala hal yang mampir dalam hidup.
Kata PERNAH, menjadi hal yang terus terngiang di kepalaku sejak hari itu. Memutar waktu dan memori untuk kemudian terus bersyukur dalam mengenyam Ke-pernah-an.
Ya, tiap kita pasti pernah merasakan pengalaman-pengalaman dalam hidup yang bisa saja tidak akan berulang kembali. Pengalaman itu menjadi kian mahal, saat tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Mungkin anda juga bisa menceritakan ke-pernah-an apa saja yang hadir di hidup anda, selama nafas masih berhembus.
Bagiku, banyak sekali hal yang menandakan nikmatnya ke-pernah-an itu.
Setelah lulus SD di tahun 1997, aku memasuki sebuah pesantren di bilangan Mantingan, Ngawi jawa Timur. Gontor Puteri, begitulah pesantren nan sangat kubanggakan itu biasa disebut. Saat memasuki gerbang Gontor Puteri di sekitar tahun 1997-1998 itu, tidak ada perasaan takut, sedih, cemas atau bahkan memikirkan akan kabur dari pesantren itu suatu hari nanti. Kondisi itu berbanding terbalik dengan potret para calon santriwati baru yang kulihat saat itu. Sebagian mereka, 'merengek' untuk tidak ditinggalkan cepat-cepat oleh sang keluarga. Ada juga wajah-wajah yang mensiratkan cemas menghadapi kehidupan pondok.
Dua hari satu malam bersama kedua orang tuaku di awal memasuki pondok Gontor Puteri itu, kuanggap sebagai babak awal kehidupan mandiri yang akan kurasakan. Setidaknya untuk memompa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Benar saja, ke-pernah-an itu sungguh sangaaaat ku syukuri hingga hari ini.Pondok mengajarkan banyak hal, baik kemandirian, disiplin, pengalaman berorganisasi, interaksi sosial, tenggang rasa, ukhuwwah Islamiyah dan masih banyak lagi hal lain yang hingga kini masih kurasakan dampaknya. Subhanallah, sungguh aku beruntung dan bersyukur pada Allah, bahwa ketika 'godaan' untuk pulang selamanya dari pondok itu hadir di tahun ketiga, suara hatiku mentah-mentah menolaknya.
Selama di pondok pula, pengalaman kepemimpinan dengan menjadi ketua rayon (satu gedung yang ditempati oleh para santriwati dari berbagai angkatan/kelas)memberikanku suatu pandangan baru ketika dihadapkan dengan saat-saat genting pengambilan keputusan untuk kemajuan rayon. Pun ketika menjadi bagian bahasa di rayon, aku mendapatkan pengalaman berharga betapa berharga nya nilai kedisiplinan. Betapa berharga pula sebuah kemampuan berbahasa. Bahasa dapat membuka mata kita akan keberagaman informasi dari seluruh dunia. Pengalaman kedisiplinan untuk mendisiplinkan diri dan orang lain pun ku dapat dari pengalaman menjadi bagian keamanan pusat, yang dipercayakan oleh teman-teman serta para guru-guru kami. Aku yakin, teman-temanku sesama alumni Pondok Gontor Puteri pun merasakan hal yang sama.
Seusai mengecap kehidupan pondok modern selama enam tahun lebih, aku pun masuk di sebuah perguruan tinggi negeri, UIN Jakarta. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang kupilih, benar-benar menghadirkan ke-pernah-an yang luar biasa. Menjadi seorang penyiar radio Fakultas, Master of Ceremony di acara-acara seminar serta dikusi mahasiswa, juga perlombaan serupa, mengisi hari-hariku selama kuliah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Tidak hanya di situ, konten ilmu dakwah yang kami pelajari di pondok dengan melaksanakan Public Speaking/ Muhadhoroh selama dua kali dalam seminggu, juga bisa tersalurkan ketika aku duduk di bangku kuliah. Subhanallah, sangat mahal harga sebuah ke-pernah-an itu. Pun keberanian dan interaksi sosial yang kudapatkan selama di pondok, membantuku ketika terjun ke masyarakat untuk berbagi informasi, ilmu dan pengalaman.
Selama kuliah, ilmu bahasa yang kudapati di pondok, juga sangat bermanfaat dalam mencari ragam referensi penunjang mata kuliah yang ada. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, mengantarkanku juga pada jaringan yang luas, dalam aspek media dan jurnalisme. Setidaknya, hal itu kurasakan ketika bekerja di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) setelah lulus dari S1 di tahun 2008.
Ke-pernah-an dalam bekerja di ISAI dan menggeluti media watch, mengantarkan ku pada sebuah ketertarikan akan dunia politik. Akhirnya, setelah menyelesaikan kontrak kerjaku, aku pun memutuskan untuk masuk di Departemen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI. Sungguh, banyak sekali ragam ke-pernah-an yang kurasakan selama menjadi mahasiswi ilmu politik. Diantaranya berinteraksi dan berdiskusi dengan seorang mantan diplomat yang kukenal ketika menemui seorang teman di gedung DPR. Saat itu kami berdiskusi mengenai perpolitikan Indonesia serta generasi muda ke depan. Pesannya yang sangat kuingat adalah, "Nikmati proses menuju keberhasilanmu". Dengan kata lain, ia ingin menekankan agar jangan menjadi orang yang tergesa-gesa menuju kesuksesan, karena dengan begitu, kita akan gelap mata dan menghalalkan segala cara.
Ke-pernah-an lainnya tentu saja mempunyai relasi/jaringan yang sangat banyak di berbagai LSM. Konsentrasi yang kupilih dalam isu perempuan dan politik, mengantarkanku pada ke-pernah-an mewawancarai orang-orang yang kubilang mempunyai pengalaman sangat banyak di dunia politik perempuan, baik anggota dewan, Direktur Eksekutif sebuah LSM ataupun penggiat pekerja sosial/buruh migran.
Aku hanya bisa berkata Alhamdulillah atas segala ke-pernah-an yang hadir dalam hidup. Tidak lain hanya atas kuasaNya dengan melihat tiap usaha hambaNya, bukankah begitu kawan?
Akhirnya, ke-pernah-an dalam mengecap ragam pengalaman berharga itu, yang membuatku selalu menularkan cerita-cerita hikmah yang ada saat berbagi pengalaman dalam mata kuliah pembangunan politik pada adek-adekku di UIN Jakarta saat ini.
Sungguh, status FB temanku itu membuatku sangat bersyukur atas kuasa Ilahi selama 26 tahun ini. Detik ini, aku semakin menghayati kata "Experience is the best teacher".
Bagaimana denganmu kawan?
Jakarta, 28 Juli 2012.
Kata PERNAH, menjadi hal yang terus terngiang di kepalaku sejak hari itu. Memutar waktu dan memori untuk kemudian terus bersyukur dalam mengenyam Ke-pernah-an.
Ya, tiap kita pasti pernah merasakan pengalaman-pengalaman dalam hidup yang bisa saja tidak akan berulang kembali. Pengalaman itu menjadi kian mahal, saat tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Mungkin anda juga bisa menceritakan ke-pernah-an apa saja yang hadir di hidup anda, selama nafas masih berhembus.
Bagiku, banyak sekali hal yang menandakan nikmatnya ke-pernah-an itu.
Setelah lulus SD di tahun 1997, aku memasuki sebuah pesantren di bilangan Mantingan, Ngawi jawa Timur. Gontor Puteri, begitulah pesantren nan sangat kubanggakan itu biasa disebut. Saat memasuki gerbang Gontor Puteri di sekitar tahun 1997-1998 itu, tidak ada perasaan takut, sedih, cemas atau bahkan memikirkan akan kabur dari pesantren itu suatu hari nanti. Kondisi itu berbanding terbalik dengan potret para calon santriwati baru yang kulihat saat itu. Sebagian mereka, 'merengek' untuk tidak ditinggalkan cepat-cepat oleh sang keluarga. Ada juga wajah-wajah yang mensiratkan cemas menghadapi kehidupan pondok.
Dua hari satu malam bersama kedua orang tuaku di awal memasuki pondok Gontor Puteri itu, kuanggap sebagai babak awal kehidupan mandiri yang akan kurasakan. Setidaknya untuk memompa diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Benar saja, ke-pernah-an itu sungguh sangaaaat ku syukuri hingga hari ini.Pondok mengajarkan banyak hal, baik kemandirian, disiplin, pengalaman berorganisasi, interaksi sosial, tenggang rasa, ukhuwwah Islamiyah dan masih banyak lagi hal lain yang hingga kini masih kurasakan dampaknya. Subhanallah, sungguh aku beruntung dan bersyukur pada Allah, bahwa ketika 'godaan' untuk pulang selamanya dari pondok itu hadir di tahun ketiga, suara hatiku mentah-mentah menolaknya.
Selama di pondok pula, pengalaman kepemimpinan dengan menjadi ketua rayon (satu gedung yang ditempati oleh para santriwati dari berbagai angkatan/kelas)memberikanku suatu pandangan baru ketika dihadapkan dengan saat-saat genting pengambilan keputusan untuk kemajuan rayon. Pun ketika menjadi bagian bahasa di rayon, aku mendapatkan pengalaman berharga betapa berharga nya nilai kedisiplinan. Betapa berharga pula sebuah kemampuan berbahasa. Bahasa dapat membuka mata kita akan keberagaman informasi dari seluruh dunia. Pengalaman kedisiplinan untuk mendisiplinkan diri dan orang lain pun ku dapat dari pengalaman menjadi bagian keamanan pusat, yang dipercayakan oleh teman-teman serta para guru-guru kami. Aku yakin, teman-temanku sesama alumni Pondok Gontor Puteri pun merasakan hal yang sama.
Seusai mengecap kehidupan pondok modern selama enam tahun lebih, aku pun masuk di sebuah perguruan tinggi negeri, UIN Jakarta. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang kupilih, benar-benar menghadirkan ke-pernah-an yang luar biasa. Menjadi seorang penyiar radio Fakultas, Master of Ceremony di acara-acara seminar serta dikusi mahasiswa, juga perlombaan serupa, mengisi hari-hariku selama kuliah di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.
Tidak hanya di situ, konten ilmu dakwah yang kami pelajari di pondok dengan melaksanakan Public Speaking/ Muhadhoroh selama dua kali dalam seminggu, juga bisa tersalurkan ketika aku duduk di bangku kuliah. Subhanallah, sangat mahal harga sebuah ke-pernah-an itu. Pun keberanian dan interaksi sosial yang kudapatkan selama di pondok, membantuku ketika terjun ke masyarakat untuk berbagi informasi, ilmu dan pengalaman.
Selama kuliah, ilmu bahasa yang kudapati di pondok, juga sangat bermanfaat dalam mencari ragam referensi penunjang mata kuliah yang ada. Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, mengantarkanku juga pada jaringan yang luas, dalam aspek media dan jurnalisme. Setidaknya, hal itu kurasakan ketika bekerja di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) setelah lulus dari S1 di tahun 2008.
Ke-pernah-an dalam bekerja di ISAI dan menggeluti media watch, mengantarkan ku pada sebuah ketertarikan akan dunia politik. Akhirnya, setelah menyelesaikan kontrak kerjaku, aku pun memutuskan untuk masuk di Departemen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI. Sungguh, banyak sekali ragam ke-pernah-an yang kurasakan selama menjadi mahasiswi ilmu politik. Diantaranya berinteraksi dan berdiskusi dengan seorang mantan diplomat yang kukenal ketika menemui seorang teman di gedung DPR. Saat itu kami berdiskusi mengenai perpolitikan Indonesia serta generasi muda ke depan. Pesannya yang sangat kuingat adalah, "Nikmati proses menuju keberhasilanmu". Dengan kata lain, ia ingin menekankan agar jangan menjadi orang yang tergesa-gesa menuju kesuksesan, karena dengan begitu, kita akan gelap mata dan menghalalkan segala cara.
Ke-pernah-an lainnya tentu saja mempunyai relasi/jaringan yang sangat banyak di berbagai LSM. Konsentrasi yang kupilih dalam isu perempuan dan politik, mengantarkanku pada ke-pernah-an mewawancarai orang-orang yang kubilang mempunyai pengalaman sangat banyak di dunia politik perempuan, baik anggota dewan, Direktur Eksekutif sebuah LSM ataupun penggiat pekerja sosial/buruh migran.
Aku hanya bisa berkata Alhamdulillah atas segala ke-pernah-an yang hadir dalam hidup. Tidak lain hanya atas kuasaNya dengan melihat tiap usaha hambaNya, bukankah begitu kawan?
Akhirnya, ke-pernah-an dalam mengecap ragam pengalaman berharga itu, yang membuatku selalu menularkan cerita-cerita hikmah yang ada saat berbagi pengalaman dalam mata kuliah pembangunan politik pada adek-adekku di UIN Jakarta saat ini.
Sungguh, status FB temanku itu membuatku sangat bersyukur atas kuasa Ilahi selama 26 tahun ini. Detik ini, aku semakin menghayati kata "Experience is the best teacher".
Bagaimana denganmu kawan?
Jakarta, 28 Juli 2012.
Kamis, 17 Mei 2012
HERAN...
Sepertinya hanya satu kata yang dapat kuucap sore hari itu, yaitu HERAN. Ya, sore itu aku harus menunggu salah satu moda transportasi yang paling diincar banyak orang Jakarta, apalagi kalau bukan transJakarta busway, selama satu jam. Perjalanan Rawamangun-Pemuda menuju daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan yang seharusnya bisa kutempuh selama dua jam, menjadi tiga jam. Sungguh, kota Jakarta ini mempunyai dua sisi yang membuatku senyum, yaitu sisi membuat kangen, sekaligus membuat orang stress. Aku teringat paparan teman dekatku yang berdomisili di Yogyakarta. Ia mengutarakan padaku bahwa tinggal selama tiga hari di Jakarta, ibarat tinggal seminggu dengan kondisi menjemukan. Apalagi jika bukan saking tidak betahnya ia menghadapi mobilitas tinggi warga Jakarta dengan topangan kemacetan yang luar biasa. Baginya, suasana Yogyakarta nan nyaman dan bebas dari kemacetan luar biasa, selalu membuatnya kangen untuk segera pulang. Aku pun merasa demikian, tinggal selama tiga hari di kota Yogyakarta, serasa benar-benar menikmati angin surga dan kebebasan rutinitas sesungguhnya. Meski demikian, karena lama tinggal di Jakarta, tetap saja bagiku Jakarta itu selalu membuat kangen.
Kembali pada rasa heranku, ini merupakan refleksi atas perhatian dan pengalamanku mendengarkan keluh kesah warga Jakarta yang mempunyai nasib sama, yaitu MENUNGGU kedatangan transJakarta busway. Beberapa ibu-ibu yang sama-sama megantri pun mulai komat kamit meluapkan keluh kesahnya. Salah satu diantaranya mengatakan, “Haduh, nunggu busway kok sampai kaya gini ya. Balikin karcis nggak mungkin, ya saya juga nggak bakal dapet lagi bus umum selain busway kalau udah jam segini. Udah milih busway, lha kok malah gini jadinya”, demikian ucap sang ibu yang telah menunggu lebih lama dariku. Belum lagi ibu lainnya yang komat kamit dengan nada serupa. Selama satu jam itu, bukan berarti tidak ada transJakarta yang datang, namun semuanya hanya lewat dihadapan kami, dengan alasan akan mengisi BBG (Bahan Bakar Gas). Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa pengisian BBG itu harus dilaksanakan pada waktu jam pulang kantor? Bukankah dua waktu di Jakarta ini yang harus mendapatkan perhatian lebih? Waktu berangkat ke dan pulang dari kantor. Belum lagi kondisi berdesakan sesama penumpang transJakarta yang harus kami alami setelah mengantri selama satu jam.
Aku tidak habis fikir, mengapa pemerintah kita, baik pusat maupun daerah, senang sekali melihat warganya ‘kesusahan’. Jika di luar negeri saja kita bisa merasakan waktu tunggu antrian bus juga kereta selama dua menit saja, mengapa hal itu seakan sulit sekali diterapkan di Indonesia, terutama di Jakarta?
Bukan hanya transJakarta busway, namun juga kereta api. Mungkin ada sedikit pengecualian untuk commuter line yang mempunyai harga tiket sebesar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) itu. Hawa sejuk meski berdesakan ‘lumayan’ mengusir keputus asaan warga Jakarta untuk mendapatkan kondisi transportasi publik yang nyaman. Meski demikian, pertanyaan lain pun hadir. Bagaimana kondisi berdesakan antar penumpang kereta di waktu pagi dan sore hari menjelang jam pulang kantor? Berapa banyak warga Jakarta, terutama kalangan bawah yang dapat membeli karcis seharga enam ribu rupiah itu tiap harinya, jika mereka berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta dan kemudian pulang ke Bogor kembali pada sore hari? Otomatis mereka akan lebih memilih harga tiket kereta api ekonomi yang kurang dari dua ribu rupiah. Kemudian, bagaimana kualitas kereta ekonomi di Indonesia? Apakah sudah menerapkan standar aman bagi penumpang nya, dengan pintu yang terbuka, lampu kadang gelap serta warga bergelantungan, asal bisa naik kereta? Jawabnya adalah BELUM.
Hal penting yang kemudian terbersit di benak ku adalah, bagaimana kemudian Indonesia bisa membangun SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas dan bisa memajukan prestasi diri serta kantor di mana mereka bekerja, bila jarak tempuh ke tempat kerja saja sudah lama. Sesampainya di tempat kerja, bukan kondisi segar lagi yang mereka tunjukkan, namun kondisi berpeluh keringat dengan suasana hati yang enggan untuk berfikir keras dan mengerjakan tugas kerja secara maksimal. Apakah ini difikirkan juga oleh pemerintah? Jelas kita tidak bisa menyalahkan supir transJakarta busway ataupun masinis kereta api. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa gaji yang mereka terima? Sudah sejaterakah mereka? Apakah mereka mendapatkan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja yang maksimal? Inilah kewajiban Negara, yang dicerminkan oleh pemerintah untuk memenuhi tugas dan fungsinya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga negara di tiap aktifitas.
Jika Negara merupakan konsep inklusif yang meliputi semua aspek pembuatan kebijakan serta pelaksanaan sanksi hukumannya, dan kemudian pemerintah adalah agen yang melaksanakan kebijakan Negara dalam masyarakat politik (Lawson 1991:5 dalam Arief Budiman 1996), maka jelaslah bahwa pemerintah harus mempunyai pemahaman mendasar akan kebutuhan warga. Di samping itu, keberpihakan pemerintah yang di wakilkan oleh aparat birokrasi nya pun wajib mempunyai keberpihakan pada kepentingan warga negara secara luas, bukan kalangan tertentu saja. Rasa heranku tak pernah berhenti tiap kali aku ‘menikmati’ moda transportasi publik di Jakarta. Bagaimana mungkin pemerintah TEGA melihat warga nya menunggu selama satu hingga satu setengah jam untuk ‘menikmati’ layanan publik berupa transJakarta busway, kereta api hingga mundurnya jadwal penerbangan pesawat terbang karena kondisi kapasitas pesawat di bandara Soekarno-Hatta yang sudah melebihi jumlah ideal hilir mudiknya sang pesawat. Bagaimana mungkin pemerintah hanya bisa berdiam diri dan menikmati kemewahan mereka sendiri dengan naik mobil dinas atau pribadi yang harganya pun tidak sampai terbayangkan bagi kalangan bawah untuk membelinya. Bagimana mungkin pemerintah tidak bisa bersikap tegas pada pihak asing atau borjuis lokal ketika mereka dengan leluasa membayar pajak nan rendah dengan terus mengeksploitasi tenaga kerja warga negara Indonesia? Mengapa ‘imbalan’ dari sang investor/borjuis itu lebih penting ketimbang tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan sebagai pejabat? Serta masih banyak pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah habis tiap kali merenung selama perjalanan dalam transJakarta busway atau kereta api.
Ada hal yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengurai masalah transportasi publik kemudian, yaitu membuat terobosan baru dalam hal pengadaan transportasi publik. Selain menambah armada transJakarta dan juga kereta api commuter line, pemerintah perlu mensinkronisasikan model tiket sesuai jarak tempuh. Salah satu masalah transJakarta busway adalah armada yang minim. Berdasarkan berita yang dirilis oleh www.beritasatu.com, di koridor 1 saja hanya terdapat 90 single busway dan itupun tidak gandeng. September mendatang menjadi rencana Badan Layanan Umum (BLU) transJakarta untuk menambah 66 armada bus gandeng baru, dan melayani koridor 1 (Blok M-Kota) dan 9 (Lebak Bulus-Harmoni). Pengalaman pribadi penulis, koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) pun perlu penambahan armada. Waktu tunggu selama satu jam di koridor tersebut, sudah menjadi ‘makanan’ kami sehari-hari.
Sama hal nya dengan kereta api commuter line. Penambahan armada mutlak dibutuhkan demi mengangkut massa yang demikian banyak di Jakarta.
Kereta sebenarnya menjadi tumpuan utama masyarakat karena jarak tempuh yang cepat dibanding bus. Nampaknya dalam konteks kereta api di Indonesia, terutama di Jakarta, sinkronisasi harga tiket berdasarkan jarak tempuh perlu diberlakukan. Sebagai contoh, harga tiket kita ke Pasar Minggu dari arah Bogor menjadi lebih murah dibanding harga tiket dari Bogor menuju Kota. Ini pula yang sudah di lakukan beberapa Negara, seperti Malaysia dan Jepang. Sebaiknya tidak ada lagi klasifikasi kereta ekonomi dan AC, meski faktanya memang sulit menghilangkan kereta ekonomi, karena harga nya yang relatif sangat murah. Jika demikian, penerapan harga commuter line pun perlu di pertimbangkan, mulai dari tarif yang sangat rendah hingga sekitar tujuh ribu rupiah misalnya. Sisi positif nya adalah, tiap warga negara bisa menikmati layanan transportasi yang nyaman dan aman. Tentunya tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, harus melalui survei dan juga keputusan partisipatif dari masyarakat Indonesia. Semoga.
Jakarta, 18 Mei 2012.
Kembali pada rasa heranku, ini merupakan refleksi atas perhatian dan pengalamanku mendengarkan keluh kesah warga Jakarta yang mempunyai nasib sama, yaitu MENUNGGU kedatangan transJakarta busway. Beberapa ibu-ibu yang sama-sama megantri pun mulai komat kamit meluapkan keluh kesahnya. Salah satu diantaranya mengatakan, “Haduh, nunggu busway kok sampai kaya gini ya. Balikin karcis nggak mungkin, ya saya juga nggak bakal dapet lagi bus umum selain busway kalau udah jam segini. Udah milih busway, lha kok malah gini jadinya”, demikian ucap sang ibu yang telah menunggu lebih lama dariku. Belum lagi ibu lainnya yang komat kamit dengan nada serupa. Selama satu jam itu, bukan berarti tidak ada transJakarta yang datang, namun semuanya hanya lewat dihadapan kami, dengan alasan akan mengisi BBG (Bahan Bakar Gas). Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa pengisian BBG itu harus dilaksanakan pada waktu jam pulang kantor? Bukankah dua waktu di Jakarta ini yang harus mendapatkan perhatian lebih? Waktu berangkat ke dan pulang dari kantor. Belum lagi kondisi berdesakan sesama penumpang transJakarta yang harus kami alami setelah mengantri selama satu jam.
Aku tidak habis fikir, mengapa pemerintah kita, baik pusat maupun daerah, senang sekali melihat warganya ‘kesusahan’. Jika di luar negeri saja kita bisa merasakan waktu tunggu antrian bus juga kereta selama dua menit saja, mengapa hal itu seakan sulit sekali diterapkan di Indonesia, terutama di Jakarta?
Bukan hanya transJakarta busway, namun juga kereta api. Mungkin ada sedikit pengecualian untuk commuter line yang mempunyai harga tiket sebesar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) itu. Hawa sejuk meski berdesakan ‘lumayan’ mengusir keputus asaan warga Jakarta untuk mendapatkan kondisi transportasi publik yang nyaman. Meski demikian, pertanyaan lain pun hadir. Bagaimana kondisi berdesakan antar penumpang kereta di waktu pagi dan sore hari menjelang jam pulang kantor? Berapa banyak warga Jakarta, terutama kalangan bawah yang dapat membeli karcis seharga enam ribu rupiah itu tiap harinya, jika mereka berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta dan kemudian pulang ke Bogor kembali pada sore hari? Otomatis mereka akan lebih memilih harga tiket kereta api ekonomi yang kurang dari dua ribu rupiah. Kemudian, bagaimana kualitas kereta ekonomi di Indonesia? Apakah sudah menerapkan standar aman bagi penumpang nya, dengan pintu yang terbuka, lampu kadang gelap serta warga bergelantungan, asal bisa naik kereta? Jawabnya adalah BELUM.
Hal penting yang kemudian terbersit di benak ku adalah, bagaimana kemudian Indonesia bisa membangun SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas dan bisa memajukan prestasi diri serta kantor di mana mereka bekerja, bila jarak tempuh ke tempat kerja saja sudah lama. Sesampainya di tempat kerja, bukan kondisi segar lagi yang mereka tunjukkan, namun kondisi berpeluh keringat dengan suasana hati yang enggan untuk berfikir keras dan mengerjakan tugas kerja secara maksimal. Apakah ini difikirkan juga oleh pemerintah? Jelas kita tidak bisa menyalahkan supir transJakarta busway ataupun masinis kereta api. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa gaji yang mereka terima? Sudah sejaterakah mereka? Apakah mereka mendapatkan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja yang maksimal? Inilah kewajiban Negara, yang dicerminkan oleh pemerintah untuk memenuhi tugas dan fungsinya dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga negara di tiap aktifitas.
Jika Negara merupakan konsep inklusif yang meliputi semua aspek pembuatan kebijakan serta pelaksanaan sanksi hukumannya, dan kemudian pemerintah adalah agen yang melaksanakan kebijakan Negara dalam masyarakat politik (Lawson 1991:5 dalam Arief Budiman 1996), maka jelaslah bahwa pemerintah harus mempunyai pemahaman mendasar akan kebutuhan warga. Di samping itu, keberpihakan pemerintah yang di wakilkan oleh aparat birokrasi nya pun wajib mempunyai keberpihakan pada kepentingan warga negara secara luas, bukan kalangan tertentu saja. Rasa heranku tak pernah berhenti tiap kali aku ‘menikmati’ moda transportasi publik di Jakarta. Bagaimana mungkin pemerintah TEGA melihat warga nya menunggu selama satu hingga satu setengah jam untuk ‘menikmati’ layanan publik berupa transJakarta busway, kereta api hingga mundurnya jadwal penerbangan pesawat terbang karena kondisi kapasitas pesawat di bandara Soekarno-Hatta yang sudah melebihi jumlah ideal hilir mudiknya sang pesawat. Bagaimana mungkin pemerintah hanya bisa berdiam diri dan menikmati kemewahan mereka sendiri dengan naik mobil dinas atau pribadi yang harganya pun tidak sampai terbayangkan bagi kalangan bawah untuk membelinya. Bagimana mungkin pemerintah tidak bisa bersikap tegas pada pihak asing atau borjuis lokal ketika mereka dengan leluasa membayar pajak nan rendah dengan terus mengeksploitasi tenaga kerja warga negara Indonesia? Mengapa ‘imbalan’ dari sang investor/borjuis itu lebih penting ketimbang tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan sebagai pejabat? Serta masih banyak pertanyaan-pertanyaanku yang tak pernah habis tiap kali merenung selama perjalanan dalam transJakarta busway atau kereta api.
Ada hal yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah dalam mengurai masalah transportasi publik kemudian, yaitu membuat terobosan baru dalam hal pengadaan transportasi publik. Selain menambah armada transJakarta dan juga kereta api commuter line, pemerintah perlu mensinkronisasikan model tiket sesuai jarak tempuh. Salah satu masalah transJakarta busway adalah armada yang minim. Berdasarkan berita yang dirilis oleh www.beritasatu.com, di koridor 1 saja hanya terdapat 90 single busway dan itupun tidak gandeng. September mendatang menjadi rencana Badan Layanan Umum (BLU) transJakarta untuk menambah 66 armada bus gandeng baru, dan melayani koridor 1 (Blok M-Kota) dan 9 (Lebak Bulus-Harmoni). Pengalaman pribadi penulis, koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) pun perlu penambahan armada. Waktu tunggu selama satu jam di koridor tersebut, sudah menjadi ‘makanan’ kami sehari-hari.
Sama hal nya dengan kereta api commuter line. Penambahan armada mutlak dibutuhkan demi mengangkut massa yang demikian banyak di Jakarta.
Kereta sebenarnya menjadi tumpuan utama masyarakat karena jarak tempuh yang cepat dibanding bus. Nampaknya dalam konteks kereta api di Indonesia, terutama di Jakarta, sinkronisasi harga tiket berdasarkan jarak tempuh perlu diberlakukan. Sebagai contoh, harga tiket kita ke Pasar Minggu dari arah Bogor menjadi lebih murah dibanding harga tiket dari Bogor menuju Kota. Ini pula yang sudah di lakukan beberapa Negara, seperti Malaysia dan Jepang. Sebaiknya tidak ada lagi klasifikasi kereta ekonomi dan AC, meski faktanya memang sulit menghilangkan kereta ekonomi, karena harga nya yang relatif sangat murah. Jika demikian, penerapan harga commuter line pun perlu di pertimbangkan, mulai dari tarif yang sangat rendah hingga sekitar tujuh ribu rupiah misalnya. Sisi positif nya adalah, tiap warga negara bisa menikmati layanan transportasi yang nyaman dan aman. Tentunya tiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah, harus melalui survei dan juga keputusan partisipatif dari masyarakat Indonesia. Semoga.
Jakarta, 18 Mei 2012.
Rabu, 02 Mei 2012
Hakikat Sebuah ‘Kursi’
Goresan pena ini hadir saat aku tengah mengamati pergantian kesempatan untuk duduk di bangku transportasi publik ibukota, transJakarta busway. Perjalananku selama satu setengah jam menuju kantor di wilayah rawamangun dari bilangan Jakarta Selatan dengan transJakarta busway, selalu menghadirkan fenomena-fenomena menarik di benakku. Yaaa, bisa dibilang ada saja ide segar yang terfikir secara tidak sengaja, salah satunya adalah mengenai ‘kursi’. Hari itu, aku mengamati beberapa pergantian kesempatan untuk duduk yang ditawarkan oleh beberapa orang kepada orang lain. Kadang penawaran itu jatuh ke orang yang lebih tua, lansia, ibu hamil, serta orang tua yang membawa anak. Jelasnya, penawaran itu tidak datang kepadaku yang masih segar bugar ini, hehe.
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Sesaat aku mengamati, sungguh indah pemandangan tersebut. sang empu-nya kursi mempersilahkan orang lain untuk duduk menggantikannya. Padahal, mungkin saja ia baru menikmati kesempatan duduk, setelah lama berdiri di deretan penumpang transJakarta busway. Namun dengan senang, ia rela memberikan kursinya bagi orang lain yang membutuhkan kursi itu. Bagi sebagian orang, fenomena ini mungkin tidak lah istimewa, bukankah mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk adalah lumrah, terlebih dalam budaya Indonesia? Eits, jangan salah lho, banyak juga rakyat kita yang sudah kehilangan rasa kasihan dan simpati nya terhadap orang lain. Hilangnya rasa itu, bisa juga karena di picu oleh sikap pemerintah Indonesia yang tak kunjung mengasah dan mempertebal rasa simpatinya terhadap kondisi ekonomi, sosial dan politik warga negara nya. Akhirnya, penyakit ‘bebal’ pemerintah, tertular pada warganya.
Bagiku, fenomena mempersilahkan duduk penumpang transJakarta lain di atas kursi yang harusnya ia tempati, memiliki makna istimewa. Ibarat seorang pejabat yang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menempati ‘kursi’ kekuasaannya. Seperti pejabat yang tidak haus kekuasaan dan enggan melakukan re-generasi pada bidang yang ia kuasai. Nah, inilah makna peralihan kursi sesungguhnya. Nampaknya, profil penumpang di transJakarta busway yang rela berbagi kursi, meski tidak keseluruhan, lebih terhormat daripada mayoritas pejabat pemerintah Indonesia yang selalu haus kekuasaan. Bukan itu saja, bahkan selalu ingin menjabat lagi dan lagi pada tiap kesempatan Pemilu yang ada. Ternyata, beranjak bangun dari sebuah kursi itu memang sulit. Aku pernah merasakan berada pada posisi itu. Setelah berdiri sekian lama di dalam transJakarta busway, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk duduk. Baru sekitar lima menit aku duduk, di pemberhentian berikutnya, masuklah seorang nenek tua yang sudah pasti membutuhkan kursi untuk duduk. Kebetulan kursi –ku lah yang paling dekat dengan posisi berdiri sang nenek. Jujur, ada rasa enggan untuk memberikan kursi yang baru lima menit ku duduki ini. Namun kita sebagai generasi bangsa yang mempunyai nilai sosial kemanusiaan dalam diri, adalah kewajiban kita untuk mempersilahkan orang tua duduk. Aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan kursi itu.
Akhirnya aku merasakan bahwa ternyata kursi itu sungguh enak untuk ditempati. Apalagi ‘kursi’ kekuasaan para pejabat pemerintahan, yang bukan hanya menempati kursi secara nyata, tapi juga menikmati berbagai fasilitas mewah sebagai pejabat pemerintah. Wajar saja jika banyak orang berebut ‘kursi’ untuk menjadi anggota DPR/DPRD dan menteri (meskipun ditunjuk Presiden, namun mayoritas atas koalisi partai politik yang bergabung) juga jabatan strategis lainnya. Bahkan jika difikir secara nalar,sungguh pentingkah sebuah kursi sampai rela mengucurkan dana milyaran rupiah? Ternyata memang ‘kursi’ itu penting. Hal terpenting dari-nya adalah akses mereguk keuntungan dan tabungan kekayaan. Hal ini pula yang dikatakan oleh Lord Acton, bahwa ‘power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely’. Jika demikian, sungguh betapa hakikat ‘kursi’ yang membuat orang kian terlena itu besar dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Kalaulah ‘kursi’ pejabat tersebut digunakan untuk hal baik, maka sungguh tatanan sistem pemerintah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika ‘kursi’ kekuasaan itu kian dibanggakan, tidak rela untuk dilepas dengan alasan kekayaan, maka kekuasaan itu hanya menjadi alat yang memperalat diri sang pejabat untuk tidak mau bangun dari kursinya.
Bicara kekuasaan, memang sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa manusia senang untuk berkuasa. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan dan kelebihan dari makhluk lainnya, jelas menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai power dalam berbagai hal. Aku teringat pada bahasan mata kuliah pembangunan politik yang kupelajari bersama teman-teman di kampus. Salah satu kehadiran teori ketergantungan (dependensia) adalah mengenai perdebatan imperialisme dan kolonialisme. Bahwa menurut tiga kelompok teori tersebut, negeri Eropa melakukan ekspansi keluar dan menguasa bangsa lainnya, baik secara sosial, ekonomi dan politik, bisa dilihat atas tiga pandangan. Kelompok pertama menyatakan bahwa idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajara Tuhan, guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kelompok kedua, menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi ataupun masyarakat dan negaranya. Kelompok ketiga, menekankan pada keserakahan manusia, yang selalu mencari tambahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi (Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, 2000).
Nah, paparan kelompok kedua dan ketiga menggiring kita untuk lebih memahami bahwa manusia itu memang mempunyai sifat haus kekuasaan, yang kemudian berujung pada keserakahan dan enggan lengser dari kursinya, untuk lebih lama dapat mengakses tambahan kekayaan. Nampaknya kita harus lebih sering belajar dari kehidupan sekitar dan merasakan hikmah yang hadir dari perenungan sederhana. Hakikat sebuah ‘kursi’, baik kursi secara umum yang kita duduki, maupun kursi kekuasaan yang diduduki segelintir orang, ternyata sama-sama memberikan rasa nyaman pada diri manusia. Akhirnya, tergantung sang empu-nya kursi, apakah rasa sosial dan bisikan malaikat yang mendominasi, sehingga sebuah ‘kursi’ bukan-lah tujuan utama dalam hidup. Atau sebaliknya, bisikan syaitan yang mendominasi, sehingga ‘kursi’ teramat berarti dan rela melakukan apa saja, asal ‘kursi’ nya tidak diambil orang?
Wallahu ‘alam bisshowaab..
Jakarta, 3 Mei 2012
Jumat, 13 April 2012
Antara dibutuhkan dan membutuhkan....
Perbincanganku dengan salah seorang kakak tingkat di perkuliahan dulu hari ini, membuatku merenung akan makna di butuhkan dan membutuhkan. Sebagai makhluk sosial, tentunya tak lepas dari konteks tersebut. Mana ada sih manusia yang tidak senang kala ia merasa dibutuhkan oleh banyak orang. Pernyataan sebaliknya pun berlaku, bahwa orang yang merasa senang dibutuhkan tersebut, juga membutuhkan seseorang atau bahkan banyak orang untuk ia bersenda gurau, bercerita dan juga bermanja. Akhirnya, dari makna kata dibutuhkan dan membutuhkan, perbincangan kita pun sampai pada titik pasangan hidup.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Sudah lumrah diketahui bahwa kata ‘butuh’ akan menjadi romantis ketika ditambah kata ‘saling’, sehingga menjadi ‘saling butuh/ saling membutuhkan’. Namun bukan itu saja yang akhirnya kami perbincangkan. Bagaimana pula jika ada pemisahan pada kata butuh? Bukan lagi saling butuh, namun di butuhkan dan membutuhkan. Dari paparan beliau diakhir pertemuanku dengannya, ia mengemukakan prinsipnya bahwa lebih enak menjadi orang yang dibutuhkan, daripada membutuhkan.
Namun menurutku, ketika kata di butuhkan menjadi rasa yang nyaman dan enak untuk dijalani, sehingga membuat orang tergantung dengan kita, bukankah diri kita akan merasa bahwa kita pun membutuhkan orang lain. Sehingga kata di butuhkan dan membutuhkan, tidak ada bedanya bagiku, sama-sama tidak dapat memberikan kesenangan nan utuh. Ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan bahwa ‘khoirunnaasi anfa’uhum linnaas’, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada konteks ini, bisa saja kita mengatakan bahwa ‘lho, bukannya ini berarti kita di butuhkan oleh orang lain?’. Iya memang, tapi apakah kita bisa berkontribusi dan menjadi sebaik-baik nya manusia, jika tidak ada manusia lain di sekitar kita? Tentu tidak. Akhirnya, kita pun membutuhkan manusia lain untuk kemudian bersama-sama mendapatkan manfaat kebaikan manusia.
Akhirnya, ‘kata saling membutuhkan’ rasanya lebih enak terdengar di telingaku dan batinku. Hingga aku berujar dalam hati, bahwa urusan asmara pun harus dilandasi oleh kata ‘saling membutuhkan’. Boleh saja kita merasa bahwa diri kita hebat. Namun harus diingat bahwa hidup tidak bisa lepas dari sebuah ketergantungan. Hampa rasanya jika hidup ini bukan di landasi oleh rasa saling membutuhkan. Ibarat bunga dan kumbang yang saling membutuhkan dalam pemenuhan hajatnya masing-masing, begitu juga-lah kita sebagai manusia. Sampai perenunganku berlanjut di malam ini dan juga sekaligus menjawab kegelisahanku, kata saling membutuhkan akan terus mempunyai makna tersendiri dalam angan masa depanku, dibanding pengutamaan kata dibutuhkan dan membutuhkan. Semoga kelak masa itu akan datang di waktu yang tepat menurut-Nya. Amin.
Jakarta, 14 Januari 2012 pukul 00.25 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)